Monday, January 14, 2008

Yang membuatmu berharga

Hampir 40 tahun yang lalu seorang bayi lahir ke dunia ini. Ia lahir 2 bulan lebih cepat. Ibu bilang waktu lahir, kepala mas Ipok cuma sebesar kepalan tangan, bahkan mungkin lebih kecil lagi. Untuk bisa bertahan hidup ia harus tidur dalam inkubator dalam waktu lama. Setelah berat badannya bertambah, barulah ibu bisa membawanya pulang.

***
Bayi itu kebahagiaan, tapi juga keprihatinan yang dalam. Ia sangat sangat rapuh. Kena angin sedikit saja, tubuhnya membiru. Jaman sulit, ibu dan bapak orang miskin dengan begitu banyak bagasi yang harus dibawa. Saudara-saudara dari kampung yang mencari pekerjaan di Jakarta. Tidak ada yang dapat menyelamatkan bayi itu kecuali kasih sayang dan semangat hidup ibu.

Meski belum begitu pulih, beliau sudah mulai bekerja. Berjualan di warungnya yang sederhana. Yang lebih mirip bedeng daripada sebuah rumah anak beranak. Menggendong beras dari pasar cipinang, berjualan bawang, atau apa saja yang laku masa itu.

"Banyak yang ngatain ibu lho, cakep2 kok mau sama prajurit balok satu", ceritanya mengenang masa lalu. "Nggendongin beras berkuintal2 sampe mau pedhot rasanya pinggang ibu". Waktu itu bapak tentara balok satu itu banyak menjalankan tugas negara.

Bayi itu berhasil hidup. Namun hingga umurnya mencapai 4 tahun, ia tak bisa berjalan dan berbicara. Berat badannya pun tidak banyak bertambah.Ia lebih tampak seperti bayi cacat daripada anak yang normal.

"Nggak nyangka gedenya badung ya bu", kami tertawa.
"wah bukan cuma itu, wong hidup aja udah syukur" kata ibu. "Itu aja ibu bolak balik ke sinshe di Gajah Mada di tusuk jarum. Kalo nggak boro2 bisa jalan. Bangun aja nggak bisa." Katanya lagi.

"Tiap hari ibu bikinin bubur anak burung dara. Dulu belinya di Kampung Melayu", lanjutnya. "Baru deh beratnya nambah. Padahal jaman lagi susah-susahnya".

***

Yang aku ingat, mas Ipok memang masih sulit sekali bicara bahkan sampai mau tamat SD. Bicaranya tergagap-gagap. Badannya kurus kecil. Jalannya seperti orang cacat karena kakinya yang kurus agak pengkar melengkung mengarah ke huruf O. Saat kakakku mengantarnya ke sekolah, ia berjalan tertatih-tatih seakan tak mampu mengejar adiknya yang lebih sehat, Mas Sigit.

Sebelum berangkat ibu mendandaninya sama cakepnya dengan mas Sigit, adiknya yang ganteng. Dengan wangi minyak telon dan bedak talk yang tebal. Pakaian, sepatu, tas, plastik tempat kue dan botol minuman dibelikannya sama persis. Seakan mereka ksatria kembar yang gagah Nakula dan Sadewa.

"Bayu, nanti adiknya dituntun ya..." pesan ibu kepada kakakku. "Nyebrangnya ati-ati, liat kiri-kanan dulu..!" katanya lembut.

Aku yang belum bersekolah waktu itu mengingatnya sepotong2. Ibu memandang mereka dari jauh menghilang di tikungan jalan. Lalu ia mulai memasak di dapur sambil berjualan. Aku yang bertugas menjaga warung, duduk di bale-bale dekat ember2 lebar berisi beras. Bila ada pembeli, aku berteriak ke dalam rumah, "Buuu, ada yang beliii...!" Ibu akan bergegas ke luar dan melayani pembeli.

Di depan rumah adalah pasar inpres yang sangat ramai. Pelataran dan halaman di samping rumah penuh oleh pedagang, buah, ayam dan lain sebagainya. Mereka bertahun-tahun menumpang berjualan di halaman dengan gratis. Dulu persahabatan lebih bersahaja. Para pedagang yang mengayuh sepedanya dari tempat2 yang jauh di bekasi, bogor, pasar minggu dan citayam mengenal kami sebagai sebuah kelengkapan hidup. Karena itu ibu tak pernah kuatir membiarkan kami yang masih begitu kecil menjaga warung sendirian.

***

"Ibu paling kesel sama bu Ros tuh. Bu kepala sekolah aja udah mbolehin anak saya masuk sekolah, kok dia yang gencar banget menolak. Masa Ipok disuruh masukin SLB aja...", wajah ibu gemas mengingat kejadian itu.

Namun berkat kegigihan ibu, mas ipok masuk sekolah normal. Ibu memang benar2 takut anak itu harus masuk SLB. Sebab menurut pikirannya yang sederhana, nanti anak itu akan sulit mencari penghidupan dengan ijasah SLB. Harapannya agar mas ipok bisa ikut berkembang dengan perkembangan anak2 yang relatif normal.

Mungkin mas ipok memang lemah. Dalam beberapa psikotest, IQnya memang di bawah rata-rata. Ketika masuk kelas satu, ia sangat sulit belajar membaca. Bicarapun masih terbilang sulit. Untuk mengucapkan satu kata, kita harus menunggu beberapa detik.
Untuk membantunya bertahan di sekolah. Ibu mengajarnya sendiri di rumah. Belajar berhitung dengan potongan lidi, menghapalkan huruf dengan kartu2 yang dibuat sendiri dari karton bekas map, memegang tangan dan jari-jarinya yang kaku untuk menulis. Tanpa kenal lelah.

Beliau juga menerima keluhan dari guru2 tentang nilai2 mas ipok yang jeblok. Soal tulisannya yang seperti cakar ayam. Bagaimana susahnya di pelajaran olahraga. Tentang buang air besar di celana. Cemoohan orang tua murid lain tentang anak yang idiot.

Tapi buat ibu, itu semua hanya sejentik kekurangan. Ia begitu yakin bahwa dengan bimbingan yang tepat ia akan tumbuh seperti anak2 yang lain.

***

"Bu, tadi diledekin lagi sama tukang-tukang bengkel!" mas Bayu mengadu pada ibu setelah pulang sekolah. Dalam perjalanan ke sekolah, mereka memang harus melewati jajaran beberapa bengkel yang cukup banyak.

"Ipok diteriakin trus dikatain, katanya jalannya kayak John Wayne, kayak Jango! mana jalannya ditiru2in lagi..."
Itu loh jagoan koboi jaman dulu yang jalannya pengkar waktu mau duel adu tembak.

Mas Bayu sedikit bersungut. "Ipoknya malah ketawa lagi. Mana nggak mau dituntun, biar bisa cepet2 pergi..."

Waktu itu ia anak laki-laki paling besar. Nalarnya sudah jalan. Jadi bila ada yang menghina adik2nya dia yang paling galak. Apalagi mereka satu sekolahan. Ia yang harus menghadapi tantangan dunia sendirian. sehingga bagi anak lain ia seperti anak yang bengal.

"Tapi kecil2 tukang nembak tuh si ipok", mas bayu tertawa "kalo pas lagi 'kluar maen' biar nggak punya duit maen pesen bubur ayam aja... Atau mesen kue pancong aja nggak ngomong2..."

Kurasa anak itu hanya mengikuti rasa lapar saja. Ia pikir dunia ini seperti di rumah. Kue pun tinggal minta tanpa harus membayar. Betapa naifnya.

"Tapi ikut kebagian pancongnya kan?" adikku tertawa menggodanya.
"Iya sih, hehehe..." mas Bayu nyengir.

***

Dunia tidak hanya dipenuhi kemalangan. Tapi ia juga dihiasi oleh kebaikan dan ketulusan yang tak terbatas. Dan andaikata langit ini sebuah untaian mutu manikam kebaikan, ia akan dipenuhi zarah cahaya kosmis indah yang berpendar jatuh susul menyusul dengan halus mengalir dari seluruh semesta. Seperti jutaan berlian meteor berguguran yang berpindah untuk mengisi ruang2 kosong langit malam dengan cahaya.

Bayangkan bahwa kebaikan itu embun. Ia runtuh dari langit dan membasahi bumi pada pucuk2 daun muda. Di ujung jarum rerumputan. Dan pada bulu menjangan yang berminyak berkilauan. Tidak ada kehidupan tanpa kesejukan embun pagi hari. Di mana kulit biji-bijian yang keras melunak dan rekah alami tanpa keterpaksaan. Kebaikan adalah embun di beledu rerumputan yang meninggalkan jejak dari langkah kita. Sementara sinar matahari yang malu2 membias pada binar2nya yang sendu. Menjadi percikan cahaya mata bayi yang tertawa gembira oleh gelitik tangan bunda.

Alangkahnya adem hati yang menerima kebaikan. Hingga bumi membalasnya dengan membagi air ke langit. Meredam panas matahari yang menyengat. Memutar siklus kehidupan berabad-abad. Mungkin ibu dan bapak memang orang2 sederhana, sehingga jauh lebih banyak kebaikan yang dituai dari lingkungan sekelilingnya. Daripada pikiran-pikiran miring orang-orang yang sirik.

Demikianlah sehingga bertahun2 kemudian anak yang seharusnya tak lulus ujian hidup dapat menjadi dewasa. Melewati tahapan-tahapan kehidupan. Lulus SD, tak naik kelas di SMP Negeri, kemudian masuk SMA swasta lalu bekerja. Meski statusnya cuma pesuruh, tukang sapu, tapi ia bisa membuktikan dirinya mampu bertahan hidup selayaknya manusia.

Hingga kini perlakuan buruk yang diterima oleh orang2 yang kurang beruntung seperti mas ipok tidak berhenti. Tentu saja demikian juga cinta ibu dan bapak kepada kami semua. Itu yang membuat kami lebih berharga dari sebelumnya.



=======
Bogor, 17 Januari 2008