Saturday, September 12, 2009

AKU TULIS PAMPLET INI - WS Rendra


W.S. Rendra

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng - iya - an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !

Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Friday, September 04, 2009

Sajak Rajawali - WS Rendra

sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka


* ) Rendra, Kumpulan Puisi " Perjalanan Bu Aminah ", Yayasan Obor Indonesia -

Semangaat!

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA - WS Rendra


WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.


...BAHWA KITA DITANTANG SERATUS DEWA.


Friday, July 03, 2009

Ideologi pembangunan

Sebenarnya menurutku apa yang dikemukakan oleh William Easterly sudah terbilang usang. Kita pernah dijajah. Jadi kita tau bagaimana memperjuangkan nasib sendiri. Bagaimana kita harus belajar dari bangsa-bangsa lain di dunia untuk menyusun cita-cita kita sendiri. Apalagi, Indonesia yang merdeka dengan penuh perjuangan.

Ironisnya adalah kita juga bangsa yang lama banget diperalat oleh kata "Pembangunan" atau "Development". Bahkan kita pernah punya bapak pembangunan. Pembangunan itu nyatanya nol besar. Gedung2, waduk, jalan tol, pertumbuhan ekonomi yang diagung2kan serta swasembada beras yang terkenal itu cuma gumpalan-gumpalan awan mimpi yang ada di atas ubun2 kita. Ditiup sedikit saja buyar. Jadilah kita bangsa besar yang nelongso seperti sekarang ini.

Trus, apa yang diceritakan oleh Easterly tentang pembangunan? Monggo disimak ringkasannya.

Pembangunan

Ideologi adalah seperangkat tujuan atau gagasan (wikipedia). Ketika anda menceritakan sesuatu kepada orang lain untuk mempengaruhi cara berfikirnya mengikuti cara anda, ada ideologi di belakangnya. Masih dari wikipedia:

"...a set of ideas proposed by the dominant class of a society to all members of this society. The main purpose behind an ideology is to offer change in society..."

Ideologi adalah seperangkat gagasan yang diajukan oleh kelas yang dominan dari sebuah tatanan masyarakat kepada segenap anggota komunitas itu. Tujuan utama dari sebuah ideologi yakni menawarkan sebuah perubahan dalam kelompok masyarakat.

Demikian juga ideologi pembangunan. Ia berusaha menawarkan perubahan untuk mengatasi problema2 besar dalam masyarakat, mulai dari masalah kemiskinan, buta huruf, hingga pemerintahan tiran. Easterly, pernah bekerja cukup lama untuk WorldBank. Ia mengenal betul seluk beluk isu pembangunan. Memahami interaksi negara maju dan lembaga donor seperti WorldBank, PBB, USAID dengan negara dunia ketiga penerima bantuan.

Dalam pengalamannya, banyak sekali program-program bantuan gagal. Dana yang mengalir malah menciptakan korupsi di pemerintahan. Alih-alih menciptakan masyarakat madani, malah melanggengkan atau menciptakan tiran baru.

Beliau (baru) melihat bahwa gagasan "Development" adalah konsep yang jumawa, angkuh. Saya teringat seorang teman, mahasiswa Uganda yang sedang mengambil S3 di IPB yang merasa sangat terganggu dengan istilah "Third World", dengan istilah "Developed, Developing, Underdeveloped". Darimana datangnya istilah itu kalau bukan dari negara maju? Apakah suku pigmi di gurun kalahari termasuk underdeveloped? Atau orang2 Baduy yang kemana2 jalan kaki itu? Atau saudara2 kita di pegunungan Papua?

Kenyataannya sebagai sebuah konsep, "Development" sangat berhasil. Kita2 ini yang notabene ditetaskan oleh pendidikan ala Barat seperti menerima wahyu. Kita justru ikut mempraktekkan pendekatan ala negara maju dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Hasilnya kita menjadi kaki tangan ideologi.

Easterly menjadi kritisi teori Jeffrey Sach sebagai mahaguru pembangunan yang percaya bahwa negara-negara maju dapat membantu negara-negara miskin membuat perubahan dengan mengucurkan bantuan melalui lembaga donor termasuk PBB.

Padahal bantuan dari donor membuat orang jadi bebal. Orang menjadikan kemiskinan sebuah komoditi. Donor akan datang. Jadi kita tidak perlu berpikir keras untuk menyelesaikan masalah kita sendiri. Donor akan mengucurkan dana setelah kita mengajukan proposal. Tanpa kita sadari kita terjebak untuk melakukan apa yang dimaui donor. Karena apa yang tak ada dalam daftar mereka sudah tentu akan dicoret.

Konsep2 seperti Millenium Development Goals misalnya tampak seperti gagasan yang dipaksakan kepada negara2 miskin. Menyamakan kebutuhan rumah tangga kita dengan tetangga kita adalah usaha yang sia2 bukan?

Easterly melihat bahwa kita semua perlu diingatkan, bahwa ideologi pembangunan adalah pendekatan yang salah. Bila benar2 ingin mengenyahkan kemiskinan dari muka bumi, negara2 maju harus sadar dan mengubah cara pandangnya. Yaitu dengan menghargai kebebasan masing2 bangsa menentukan tujuan dan cara hidupnya sendiri. Bantuan pasti dibutuhkan, tetapi menghidupkan semangat kemandirian dalam batin sebuah bangsa adalah cara mujarab lolos dari kefakiran.

Sejarah

Biarpun sedikit usang, namun gagasan Easterly cukup menggelitik. Ia menggugah kita untuk segera ngeh, kalau kita ini jangan taklid dengan gagasan negara maju. Kita lupa bahwa pendidikan seharusnya membuat kita terus menerus mencari kebenaran sejati. Ya, betul bahwa revolusi perancis, revolusi amerika memberi inspirasi oleh pendiri bangsa Indonesia.

Gandhi sahabat pena Leo Tolstoi. Ia menulis berlembar-lembar surat untuk membahas "War and Peace'. Tapi Gandhi tetaplah Gandhi yang menenun pakaiannya sendiri. Yang dibvesarkan oleh kisah Ramayana dan Mahabarata. Berkunjunglah ke Istana Bogor untuk melihat koleksi buku bacaan Soekarno, atau ke museum Hatta untuk melihat perpustakaan Bung Hatta. Betapa kekayaan kultural dunia yang mempengaruhi pemikiran beliau justru memperkaya karakter mereka.

Bagi yang merasa gagasan Easterly terasa terlalu sinis, dan kurang data pendukung, bandingkanlah dengan pikiran dan fakta-fakta dari Paul Collier. Bagaimanapun saya setuju dengannya bahwa ideologi pembangunan harus segera masuk museum dan menjadi bagian dari sejarah. Dunia baru harus disusun dalam tatanan yang lebih masuk akal. Yang menghargai kebebasan setiap orang.

Demikian juga dengan kita. Bangunlah, mari tentukan tujuan hidup. Mari selesaikan masalah2, pekerjaan rumah kita sendiri. Raih kemerdekaan sekali lagi. Dan karena kita merdekanya sedikit belakangan, jadi kita bisa ambil yang bagus2, buang yang jelek2nya. Asiik :)



Disarikan dari:

Easterly:
http://www.nyu.edu/fas/institute/dri/Easterly/File/FP_Article0707.pdf
http://humaninfo.org/aviva/ch10.htm
http://www.nyu.edu/fas/institute/dri/Easterly/
http://www.econlib.org/library/Columns/y2007/Martinezdevelopment.html
http://www.foreignpolicy.com/story/cms.php?story_id=3861
http://www.paecon.net/PAEReview/issue43/Soderbaum43.pdf
http://www.unm.edu/~socdept/graduate/ballard.htm

Paul Collier:
http://users.ox.ac.uk/~econpco/
http://www.ted.com/index.php/talks/paul_collier_shares_4_ways_to_help_the_bottom_billion.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Paul_Collier
http://www.amazon.com/s?ie=UTF8&search-type=ss&index=books&field-author=Paul%20Collier&page=1


Jeffrey Sachs:
http://www.sachs.earth.columbia.edu/
http://www.earth.columbia.edu/endofpoverty/
http://en.wikipedia.org/wiki/Jeffrey_Sachs
http://video.google.com/videosearch?hl=en&q=jeffrey+sachs&um=1&ie=UTF-8&ei=uBY7SsqvI9a2jAe65K0Y&sa=X&oi=video_result_group&resnum=8&ct=title

Others:

http://en.wikipedia.org/wiki/Ideology
http://en.wikipedia.org/wiki/Development_studies
http://en.wikipedia.org/wiki/Development_theory

Thursday, April 02, 2009

From awareness to funding: a study of library support in America

Oleh Jeny Johnson and Alice Sneary

Pada bulan November 2006, Bill & Mellinda Gates Foundation menganugerahkan dana sebesar USD 1,2 juta kepada OCLC untuk kegiatan evaluasi potensi kampanye meraih dukungan buat perpustakaan negara untuk meningkatkan perolehan pendanaan(funding) di Amerika Serikat. Grant tersebut digunakan untuk menyelenggarakan riset kualitatif dan kuantitatif yang luas terhadap para pemilih dan pejabat negara. Tujuannya terdiri dari dua hal:

- Untuk memahami faktor-faktor baik yang mendorong maupun yang membatasi dukungan terhadap pendanaan perpustakaan.

- Untuk memastikan agar kampanye dukungan perpustakaan dapat dilakukan lebih efektif untuk meningkatkan dan memelihara kelangsungan pendanaan bagi perpustakaan umum di Amerika Serikat.

Masalah Dana

Sekitar 80 persen anggaran perpustakaan umum di Amerika serikat berasal dari anggaran publik setempat. Namun banyak jasa pelayanan umum penting lain seperti, polisi,pemadam kebakaran,sekolah negeri,kesehatan umum, pemeliharaan jalan serta pemeliharaan taman umum juga diambil dari anggaran publik yang sama. Semua layanan publik ini sangat penting bagi kehidupan komunitas setempat dan kesemuanya menyedot perhatian dan sokongan dari para pemilih dan pemerintah setempat - namun seberapa banyak dan di mana kedudukannya dalam skala prioritas? Bagaimana para pembayar pajak dan pejabat terpilih berfikir tentang pendanaan layanan seperti ini? Apa harga yang harus dibayar? Bila demikian, seberapa tinggi ranking perpustakaan?

Seperti halnya layanan publik lainnya, perpustakaan menghadapi kendala finansial mulai dari meningkatnya biaya pelayanan kesehatan masyarakat, hingga meluasnya format konten, hingga semakin pesatnya pertumbuhan volume bahan pustaka yang perlu mereka sajikan untuk pengguna. Ketika jumlah kunjungan perpustakaan semakin meningkat di seluruh Amerika, dukungan pemilih pada referendum perpustakaan cenderung menurun secara stabil. Tanpa adanya intervensi, kesempatan untuk mengubah trend ini dan memperbaiki masa depan finansial perpustakaan akan berada dalam situasi yang serius.

Siapa yang harus menjadi sasaran perpustakaan dalam kegiatan advokasinya? Sebelum bergerak maju dengan usaha pemasarannya, pertanyaan-pertanyaan semacam ini harus dijawab terlebih dahulu.

Riset dan Temuan Penting

OCLC bermitra dengan lembaga rise dan marketing, Leo Burnett,untuk mengaplikasikan teknik-teknik pemasaran dan segmentasi pasar terhadap masalah pendanaan perpustakaan umum. Berikut ini temuannya:

- Banyak orang yang mengaku siap mendukung perpustakaan, namun hanya sedikit orang yang sungguh-sungguh berkomitmen melakukannya.

Ketika ditanya apakah merek akan ikut memilih, 74 persen mengatakan ya. Tapi hanya 37 persen yang benar2 berkomitmen.

- Banyak sekali orang yang tidak tau tentang Perpustakaan Umum mereka.

Mungkin banyak orang yang tau tentang layanan tradisional perpustakaan. Tapi sangat sedikit yang tau lebih banyak tentang layanan2 yang mutakhir.

- Pendukung perpustakaan yang paling kuat justru bukan pengguna perpustakaan yang aktif.

Ternyata tidak ada hubungannya antara keikutsertaan pada referendum dengan seberapa sering orang menggunakan perpustakaan. Melakukan advokasi untuk mendapatkan dukungan perpustakaan kepada "pengguna" perpustakaan dapat berarti memfokuskan usaha dan energi pada kelompok sasaran yang salah.

- Persepsi pustakawan merupakan faktor penentu dalam mendapatkan dukungan keuangan.

Pemilih yang melihat pustakawan yang berkomitmen kuat bekerja di perpustakaan mereka, sangat mungkin akan mendukung perpustakaan. Jadi, pustakawan yang akrab dengan kegiatan komunitasnya dapat melakukan perubahan.

- Kebanyakan pemilih melihat perpustakaan sebagai "penyedia informasi". Namun mereka yang menilai bahwa perpustakaan sebagai agen perubahan lah yang paling berpotensi meningkatkan pembayaran pajak untuk memberi dukungannya.

- Meningkatkan dukungan kepada perpustakaan tidak sertamerta berdampak pada penurunan dukungan anggaran pada layanan publik lainnya.

Sebuah perbandingan atas kesediaan pemilih untukpeningkatan nilai pajak guna mendukung berbagai fasilitas layanan publik, termasuk keamanan,kesehatan dan pendidikan menunjukkan bahwa pemilih yang mendukung pendanaan Perpustakaan Umum juga merupakan pemilih yang paling mungkin memberikan dukungan keuangan kepada polisi, pemadam kebakaran dan sekolah-sekolah.

Anda dapat menemukan lebih banyak detil dan temuan lainnya pada laporan lengkapnya. Berita baiknya adalah angka orang Amerika pada umumnya menempatkan perpustakaan umum pada posisi yang tinggi ternyata cukup signifikan. Hasil riset advokasi ini menunjukkan bahwa bila kita membidik sasaran pemilih dengan tepat dan melibatkan mereka dalam program advokasi kita,itu akan meningkatkan potensi pendanaan.

Unduh laporan tersebut di:

http://www.oclc.org/reports/funding/default.htm

Diterjemahkan oleh Bagus (listmanager_2 [at] yahoo [dot] com)

Sunday, March 29, 2009

Kasih Sayang

Kadang2 saya berangan2, andaikan saya kaya, pasti saya akan bisa menolong orang. Tidak ada yang meremehkan saya. Kekayaan bisa membuat semua orang menjadi ramah. Wanita2 cantik akan melirik dan senang berada di dekat saya. Dengan kekayaan saya akan membuat orang lain mengerjakan segala sesuatu untuk saya. Saya tidak perlu capek2 untuk segala hal.

Ketika saya naik bus reguler, metro mini, atau koantas bima yang berdesakan, saya kadang merasa begitu kuatir. Takut sekali dicopet. Takut berantem dengan pengamen yang berlagak baru keluar dari penjara atau mengaku korban kerusuhan ambon. Bagaimana seandainya saya harus berkelahi dengan salah satu pencopet dan berakhir dengan saya dikeroyok babak belur. Atau seperti teman saya yang dicus pipinya dengan obeng oleh penodong iseng.

Andai saja saya sekuat Arnold Schwarzeneger, atau sakti seperti Gatotkaca yang otot kawat, tulang besi, dengkulnya paron, ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindo. Otot kawat, tulang besi, dengkulnya paron(baja tatakan pandai besi), nggak mempan palu nya pandai besi dan gerinda. Penjahat seperti itu pasti akan saya tempeleng bolak-balik sampai ngompol di celana.

Ketika teman2 mengajak saya berkunjung ke panti asuhan. Hal pertama yang mereka inginkan bukan apa2. Mereka cuma ingin digendong. Di pelukan atau menggemblok di punggung. Betapa permohonan yang sederhana. Mereka tentu saja sangat nakal, karena tidak ada orang yang memberi perhatian cukup untuk memandu mereka di alam dunia ini. Dengan naifnya mereka meraba2, yang baik dan yang benar, yang pantas, dan merespon kebutuhan batin dan fisik yang muncul dalam diri mereka dengan jujur.

Dalam suasana seperti itu, saya rasa, semua hati akan terketuk. Andai saja saya memiliki kuasa untuk menolong mereka. Andai saya punya tangan yang banyak untuk merangkul, membopong dan membiarkan mereka menggemblok sesuka hatinya di punggung dan bahu saya yang lebar. Bukankah akan indah melihat anak2 semacam itu bahagia seperti anak2 lain yang berbapak dan ibu? Andaikan kamu berada di sisi mereka ketika tidur, akan kau akan memetik sebuah kecupan, dongeng indah, tepukan lembut dan kidung pengantar tidur dari mimpi2 mereka?

***

Ketika saya berkunjung ke panti rehabilitasi mental, yah sebut saja Rumah Sakit Jiwa, saya sangat takut. Saya punya satu di rumah. Meski begitu, saya sama sekali tidak bisa membayangkan seperti apa suasana di sana. Saya begitu putus asa dalam jebakan masalah yang berkepanjangan ini. Itu yang membuat saya nekat berangkat sendirian untuk mengecek alamat yang diberikan oleh dokter Irmansyah. Saya begitu nekat hingga berbicara seperti berteriak kepada bapak, ibu dan adik2.

"Kalo nunggu2 abang2 gue yang laen, sampe kiamat, nggak bakal selesai!"

Bukan, bukan cuma marah. Saya rasa, itu benar2 teriakan putus asa. Saya merasa tenggelam begitu dalam dalam lumpur kesengsaraan ini. Dan makin dalam, hingga suatu saat kita terkubur. Tanpa satu orangpun mendengar kita berteriak minta tolong. Saya tidak mau tenggelam, saya ingin menyelesaikan ini sekarang, atau kita akan hancur.

Ketika angkot akhirnya berhenti di muka panti. Saya bingung mencari alamat itu. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ketemu. Saya tidak melihat rumah, hanya pagar tinggi dengan kawat berduri di atasnya dengan gerbang tertutup plat baja yang seingatku berwarna hijau. Sebuah plang menunjukkan itu tempatnya. Saya mengetuk pintu pagar. Tak berapa lama seseorang membukanya dengan hati2 dan memandu saya memasuki halaman.

Sampai sekarang, saya tidak bisa menggambarkan bagaimana orang2 disana. Tidak seperti penulis yang bisa bercerita tentang pandangan mata yang kosong atau tatapan yang nanar. Saya sungguh2 tidak bisa menuliskannya. Setelah kakak saya akhirnya dirawat di sana. Saya berkesempatan menjenguknya. Saya tidak tau apakah dia sadar atau tidak. Tapi kami bercakap2 menanyakan kabar masing2. Kadang sambil menunggu dia keluar menemui saya, saya berjalan2 melihat lukisan2 dan prakarya para penderita. Ada kata2 dan harapan di satu dua lukisan. Lukisan yang agak kasar, tapi banyak juga yang indah dalam sudut pandang berbeda. Saat saya mengenangkannya sekarang, deretan peristiwa itu tidak hanya luar biasa. Namun indah, karena kepasrahan kami menjalaninya. Tentu saja kami terpaksa melalui itu semua. Kami hanya boneka yang bergerak karena benang2 digerakkan dari langit oleh Tuhan. Semua orang juga begitu kan?

***

Mungkin sekali, dunia ini digerakkan oleh dua hal, kemungkinan dan kenyataan. Kemungkinan membuat orang berangkat bekerja pagi2 mendahului ayam yang akan mematuk rejekinya. Kenyataan membuat orang pulang kerja dengan kepenatan dan jeritan stres yang membuat sambutan seorang istri seperti ejekan yang tajam. Atau sebaliknya, membuat hari itu menjadi serba mudah dan membuatmu ingin segera pulang memeluk keluarga dengan cinta.

Apa yang terjadi di keluarga saya, membuat saya begitu sensitif. Saya bisa menangis melihat pengemis di jalan, pedagang tua renta. Apalagi melihat orang gila yang kumuh dan telanjang mengembara kesana kemari. Pokoknya saya tidak bisa melihat kesusahan orang lain. Bila ada keping terakhir di saku saya, pasti akan saya berikan saat itu juga. saya tak perduli bila harus pulang jalan kaki berkilo-kilo.

Perlu waktu bertahun2 untuk sembuh, dan mencari keseimbangan yang tepat. Tidak cuma kakak saya yang harus dikembalikan ke realita dengan bantuan obat. Kamipun perlu waktu dan udara segar untuk akhirnya bisa mengistirahatkan jiwa kami dan mulai berfikir jernih.

Mereka yang berfikir kalau kekayaan, jabatan, kekuasaan, kecantikan akan melindungi mereka, adalah yang gila. Lebih gila dari kakak saya. Lebih gila dari saya yang merasa kalau memiliki kekuatan semacam itu akan membuat dunia ini lebih baik.

Padahal dunia ini menjadi lebih baik ketika saya memiliki rasa kasih dan sayang, ketika saya sendiri dalam kesusahan. Terlebih lagi ketika kita menyayangi keluarga dengan kata2 dan perlakuan yang lembut. Tidak seperti kami yang harus saling berteriak untuk menyampaikan perasaan dan gagasan.

Berandai2 memiliki kekuatan, kekuasaan, yang lebih dari orang lain bukanlah jawaban. Sama seperti janji politikus yang ingin mengubah dunia bila berkuasa. Dunia sudah berputar semestinya sebelum kita ada, sayangku. Dan akan terus begitu setelah kita pergi... Bila kita sungguh-sungguh ingin membuat dunia ini lebih baik, mari kita bersahabat dengan kasih sayang. Mari kita memohon percikan kemuliaan Ar Rahman dan Ar Rahiim dalam hati kita. Lakukan dengan cinta dan serahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah. Dunia pasti akan lebih indah, karena cinta menular lebih cepat daripada kolera.

Tuesday, December 30, 2008

Daftar NPWP

Sehari tadi ke kantor pajak buat daftar NPWP. Motoran ke cawang, taunya harus daftarnya ke KPP Pasar Rebo. Di Cawang dapet nomer 684, liat antriannya ngeri banget. Untung juga disuruh ke Pasar Rebo. Tapi ternyata di sana juga sama aja. Antrian panjang.

Ambil formulir, tapi gak bawa pulpen. Bodohnya :D Mau pinjam gak bisa karena semua orang lagi pada sibuk ngisi juga. Ada yang ngambilin formulir temen sekantor. Abis itu menyerahkan formulirnya ke petugas.

Nggak taunya cepet juga. Mereka hanya mendata dulu. Begitu balik dari warteg, duduk sebentar eh sudah dipanggil. Kartunya udah jadi. Hebat juga ya. Ini pasti karena ITnya sudah lumayan baik.

PR berikutnya, gimana bayar pajaknya tahun depan. Pekerjaan sebagai kuli kontrak kan nggak pasti. Kalo kontrak abis, siap2 cari ganti. Apa pemerintah bisa memfasilitasi hal2 kayak gitu? Pasti banyak pekerja kelas rendahan yang ikut susah. Saya agak skeptis ttg kebijaksanaan pemerintah terhadap buruh. Mengingat selama ini yang saya alami sendiri, hak2 buruh berada di nomer kesekian.

Mau gimana lagi, idealnya memang harus bayar pajak. Biar negara ini gak makin bangkrut karena pendapatan negaranya abis dipake piknik anggota DPR melulu atau dikorupsi pejabat negara lainnya. Dan kaum buruh yg bekerja di perkotaan nggak akan bisa menghindar juga dari jangkauan tangan pajak.

Jadi sementara ini berpikirpositif aja bahwa saya udah beritikat baik menyumbang dana pembangunan. Mungkin ini saatnya mengembalikan dana bergulir yang saya pakai untuk kuliah di UI dulu waktu masih bersubsisidi. Entah apakah pada saatnya nanti anak2 saya bisa kuliah di UI juga?

Siapa yang tau?

Setelah menyimpan kartu NPWP ke saku. Saya ngukur jalan, dari Pasar Rebo, Kampung Rambutan, Pondok Gede, Bekasi, lalu berputar kembali lewat jalur Bantar Gebang, Cileungsi, Cibubur, Kranggan, lalu rumah. Fiskal 2,5 juta nggak ngaruh buat saya. Karena jarak jelajah saya juga cuma segini kok :)

Wednesday, December 17, 2008

Insiden Lempar Sepatu

Hihi, lucu juga baca berita2 yang mengikuti insiden lempar sepatu pak wartawan kepada pak Bush. Mulai dari yang langsung mebuat game-nya, menghadiagi gadis, sampai ada yang menawar sepatu 1,1 Miliar! Kenapa nggak disumbangin untuk keluarga pak wartawan aja? kan kalo saya liat di tivi keliatan menderita juga.

Kalo saya kepikir, nanti lama2 bakal ada demonstrasi lempar sepatu ke kedutaan amerika..! =))

Akhirnya dapet pelajaran juga kan? :D

http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/18/09374135/Presiden.Brasil.Jangan.Melempar.Sepatu

http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/18/1007429/Pelempar.Sepatu.ke.Bush.Dihadiahi.Gadis

http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/17/09214533/Sepatu.Dilemparkan.ke.Bush.Ditawar.Rp.1.1.Miliar

Friday, December 05, 2008

Tools dasar untuk mengelola website

Pada tulisan ini saya berasumsi anda sudah membaca tulisan saya yang sebelumnya. Jadi anda sudah mendaftarkan nama domain yang anda inginkan dan menyewa space di webhosting. Dengan demikian anda akan dapat mempraktekkan semua penjelasan saya nanti langsung ke server yang anda sewa. Tenang, jangan takut duluan sama istilah2nya, ikuti saja petunjuk saya. Semuanya bakal jadi gampang.

Oh ya, tools alias software yang saya jelaskan di sini merupakan tools yang saya sering pakai. Saya tidak akan menjelaskan software seperti Macromedia Dreamweaver atau Microsoft Frontpage. Karena saya akan merekomendasikan beberapa Content Management Aplication gratis yang dapat dengan mudah anda unduh dan modifikasi sedikit untuk kemudian anda gunakan sebagai aplikasi web anda.


FTP Client

FTP kepanjangannya adalah File Transfer Protocol. Kata kuncinya adalah protocol, kurang lebih kita artikan sebagai "jalur".

Bayangkan anda sedang mengelola toko swalayan. Adabagian dari toko anda dimana barang2 dipajang di rak display. Dan ada bagian belakang, gudang dan kantor dimana semua persiapan sebelum barang dipajang, diberi label harga, hingga mengelola laporan keuangan.

Tentu saja anda ingin pengunjung melihat penataan yang indah dan teratur. Agar mereka dapat dengan mudah menemukan barang yang dibutuhkan, kemudian membeli sesuatu dari toko anda. Anda tak ingin mereka melihat betapa rumitnya pekerjaan menyiapkan barang di gudang belakang. Pintu depan toko anda mungkin saja sama besarnya. Tapi di depan, disiapkan untuk menangani volume pengunjung yang banyak. Seementara di belakang, disiapkan untuk lalulintas barang yang besar.

FTP adalah pintu gudang. Sementara Http adalah pintu depan dimana pengunjung akan mengakses website anda. FTP clients adalah software yang anda gunakan untuk bongkar muat file dari komputer anda ke/dari server yang anda sewa di webhosting.

Ada banyak software FTP yang gratis. Anda bisa mengunduhnya dari download.com. Cari saja dengan keyword "FTP". Contohnya coreftp.com, filezilla-project.org dan lain2.

Notepad dan Wordpad

Notepad dan wordpad adalah software pengedit text atau text editor. Bila merujuk dari wikipedia, notepad biasanya digunakan untuk mengedit system file. Karena ia mengedit text only, tidak menyertakan tag format atau style. Biasanya saya gunakan untuk mengedit file konfigurasi atau file yang diberi nama "config.*". Bisa berupa config.php atau berextention lainnya.

Nanti bila kita sudah sampai ke pelajaran, bagaimana menginstal aplikasi Content Management System seperti Joomla, pasti kita akan bertemu file configurasi bernama config.* tadi.

Wordpad, pengolah text yang lebih canggih dari notepad. Mungkin lebih mendekati pengolah kata seperti MS Word, namun lebih sederhana. Saya sendiri agak jarang mengedit text yang mengharuskan saya menggunakan wordpad. Karena Notepad sudah mencukupi.

Tapi ada saja text yang cukup panjang sehingga mengharuskan saya membukanya dengan Wordpad. Tidak usah saya jelaskan lebih jauh tentang aplikasi ini, silahkan membuka keterangannya di http://en.wikipedia.org/wiki/Wordpad.


Adobe Photoshop

Adobe Photoshop adalah aplikasi pengolah citra. Dengan Adobe Photosop(PS) anda dapat mengolah gambar untuk keperluan website anda. Biasanya kita membutuhkan logo untuk reperesentasi identitas lembaga anda. Photo2 pendukung content yang harus ditata ulang ukuran dan besar filenya. Juga mempertajam atau menonjolkan aspek tertentu dari gambar yang akan diupload ke website.

Bila anda kesulitan mendapatkan photoshop karena harganya cukup mahal. Anda bisa menggunakan aplikasi lain yang tersedia gratis di internet. Misalnya GIMP atau Google Picasa. GIMP(http://en.wikipedia.org/wiki/GIMP) tidak hanya tersedia bagi pemakai linux, kini sudah ada juga yang berbasis windows. Sejelek-jeleknya nasib, anda bisa menggunakan online photo editing software untuk sejumlah fungsi dasar seperti meresize, bright dan contrast dan lain-lain. Lihat http://www.techcrunch.com/2007/02/04/online-photo-editing-overview/.

Ingat, elemen gambar adalah aspek yang sangat penting bagi sebuah website. Gambar dapat membuat suatu cerita menjadi lebih hidup. Picture paints a thousands words. Jadi, alokasikan sebagian waktumu untuk mempelajari program editing gambar.

Saya kira ketiga aplikasi ini sudah cukup. Dulu ada satu aplikasi yang disebut telnet atau remote login. Gunanya untuk mengakses server yang kita sewa dari jauh. Dari situ kita bisa merestart server atau database dari jauh. Namun sekarang akses ini umumnya tidak diberikan lagi oleh webhosting. Bila kita ingin merestart, tinggal menghubungi tecnical support saja. Mereka akan membuka jalur komunikasi berupa telepon, email, Yahoo messenger atau Googletalk. Serahkan semuanya kepada mereka. dengan demikian, sebagian ancaman security akan ditanggung oleh mereka.

===================

Next, mencari aplikasi CMS.....

Bagi yang udah master, tolong kasih feedback. Kali aja ada yang kurang2.


Tuesday, December 02, 2008

Al Qaf

<br />  6. Apakah mereka lalai sehingga tidak melihat langit yang ditinggikan tanpa tiang di atas mereka, bagaimana Kami meninggikan dan menghiasinya dengan bintang-bintang, dan dalam langit itu tidak ada retak-retak yang membuatnya cacat.(1) ---------------(1) Langit adalah semua yang berada di atas kita. Di dalamnya terdapat benda-benda langit yang beterbangan seperti bintang-bintang dan planet-planet. Semua itu berjalan dengan sistem yang sangat teliti dan keseimbangan yang sangat sempurna. Demikian pula, benda-benda tersebut selalu menjaga posisinya sesuai dengan hukum gravitasi, sehingga tidak akan terjadi kekacauan. <br />

6. Apakah mereka lalai sehingga tidak melihat langit yang ditinggikan tanpa tiang di atas mereka, bagaimana Kami meninggikan dan menghiasinya dengan bintang-bintang, dan dalam langit itu tidak ada retak-retak yang membuatnya cacat.

Have they not then observed the sky above them, how We have constructed it and beautified it, and how there are no rifts therein ?

<br />  7. Kami menghamparkan bumi, lalu Kami menancapkan gunung-gunung di atasnya dengan kokoh, dan Kami menumbuhkan segala macam tumbuhan yang indah dipandang mata. ---------------(2) Kulit bumi terlihat tinggi pada tempat-tempat tertentu, seperti gunung-gunung, dan juga terlihat rendah pada tempat-tempat lain seperti dasar samudera. Berat bagian- bagian bumi ini sangat seimbang antara satu dengan yang lainnya. Salah satu tanda kekuasaan dan kebijakan Allah adalah dengan menciptakan keseimbangan ini dan menjadikannya tetap dengan jalan mengalirkan materi- materi bumi yang membentuk kerak bumi yang tipis yang terdapat di bawah lapisan luar bumi, maka dengan begitu terjadi aliran dari bagian bumi yang berat ke bagian yang lebih ringan. <br />

7. Kami menghamparkan bumi, lalu Kami menancapkan gunung-gunung di atasnya dengan kokoh, dan Kami menumbuhkan segala macam tumbuhan yang indah dipandang mata

And the earth have We spread out, and have flung firm hills therein, and have caused of every lovely kind to grow thereon,

<br />  8. Kami menciptakan itu semua sebagai pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang mau kembali kepada Allah dengan memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya. <br />

8. Kami menciptakan itu semua sebagai pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang mau kembali kepada Allah dengan memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.

A vision and a reminder for every penitent slave.

Taken fom:

http://www.islamic-council.com/qurani/qaf/

http://www.altafsir.com

Wednesday, November 26, 2008

Thursday, November 06, 2008

Laut

Saya suka laut, karena debur ombaknya seperti memandang alunan hamparan padi di sawah. Mengalun berulang-ulang nggak habis-habis. Angin menghibur sekali bagi orang yang duduk ditepian.

Karena saya tidak pernah tinggal di tepi pantai. Dulu sama sekali tak pernah terbayang bisa melihat laut. Ketika pertama melihat laut, agak aneh juga. Air yang seluas itu.

Tapi kadang saya bayangkan, ketika orang mencari keong, atau menyiangi rumput2 atau mencari ikan diantara rumpun-rumpun padi kok mirip yah dengan nelayan di tepi laut. Hijaunya padi seperti air di pinggir pantai yang menyembunyikan makanan buat manusia.

Dulu kalo di rumah sedang diomelin sama bapak atau ibu, saya suka duduk di galengan. Atau di dangau. Mengulas siapa yang salah sampai saya kena marah seperti itu. Ada rasa-rasa kesal juga yang terbawa ke bawah sadar saya. Cukup lama.

Yah mungkin karena banyak anak, nggak semua perhatian bisa dibagi rata. Orang tua juga kadang ada berat sebelahnya. Lebih sayang sama anak yang lebih cakep. Karena kalo kemana2 dapet pujian. Sepertinya anak cakep, ortunya kan cakep juga :) Mungkin kalo saya jadi orang tua akan begitu juga.

Begitulah. Sawah, seperti laut. Menelan segala keluh kesah dan kedukaan masa kanak-kanak saya. Ketika dewasa tumbuh mimpi2 untuk tinggal di pedesaan. Di tepi sawah, dengan air mengalir segar. Apalagi ditambah laut. Hmmm... my life will be perfect.

Manusia memang banyak rumongsonya. Menginginkan apa2 yang tidak dia punya. Lebih daripada mensyukuri apa yang sudah diraih karena kemurahan hati Tuhan.

Saya sadar kelemahan itu. Karena itu Tuhan, berikanlah pada hambamu ini hati seluas samudera, sedalam palung-palungnya. Tutur kata yang sejernih sungai-sungai di pegunungan. Kesabaran yang sedamai sawah-sawah dan anginnya yang semilir.

Sedih dan rasa sakit datang dan pergi. Namun jangan biarkan ia bersemayam dalam hati lama2. Suatu saat, bila saya bertemu lagi laut, sawah dan gunung-gunung, akan kubisikkan permohonan ini padamu, Tuhan.

Oh ya, semoga bapak dan ibuku yang sudah makin tua Kau karuniai kesehatan. Mereka salah satu sumber kebahagiaan. Kalo Kamu jadikan saya orang yang sabar, mudah2an saya bisa membuat mereka bahagia juga ;)

Sunday, November 02, 2008

Tentang Kesabaran

Ah, waktu itu aku masih belom ngerti apa-apa. Sudah masuk kelas tiga. Tapi kalau kuingat2, waktu itu aku bener2 nggak tau kalo bakal punya adik lagi. Kalau kuingat2 lagi, bahkan aku nggak tau kalo ibu lagi hamil. Yang jelas, ketika hampir waktunya bel sekolah yang terbuat dari roda kereta akan berbunyi, Mas Yono sudah berdiri mengintip di depan pintu kelas.

Bodohnya! Ibu guru memberi soal mencongak yang sangat sulit hari itu. Dia membaca soal cerita tentang pecahan dari buku Cerdas Tangkas! Buku tulis dan alat tulis sudah harus masuk tas sekolah. Dalam mencongak, kita harus memikirkan jawabannya di luar kepala. Bayangkan saja, soal pecahan, dihitung luar kepala! Tampaknya tidak akan ada yang keluar kelas lebih cepat dari lonceng roda kereta. Biarin, anak kelas 6 sudah berseliweran di luar kelas. Mereka masuk siang. tandanya, sebentar lagi lonceng akan dibunyikan....

Teng... teng... teng... Pak kepala sekolah membunyikan lonceng. Semua bersorak gembira. Ketua kelas segera menyiapkan salam. Aku berlari keluar kelas. Di depan pintu, mas Yono menarik tanganku.

"Yuk, kita jemput Iyo", katanya.

Kelas Iyo ada di depan lapangan. Ketika kami sampai, kelas itu belum bubar. Mungkin tadi ada yang lambat menulis PR. Tak lama, bocah gendut itu keluar kelas. Mas Yono bergegas menuntun kami pulang. Anak-anak lain terlihat ramai menghabiskan uang jajannya dengan membeli makanan dan mainan. Kami hanya bisa berjalan cepat menuju rumah. Kaki Iyo sudah melangkah ke depan, tetapi kepalanya menjulur kebelakang melihat adonan kue pancong dituangkan membentuk kura-kura, laba2 dan binatang2 lucu lain.

"Ayo cepetan..." , Mas Yono menarik tangannya. Aku berlari2 kecil mengikuti dari belakang. Aku sudah kelas tiga. Tidak ada bekal lagi dari ibu setelah kelas dua, apalagi uang jajan. Jadi kita memang harus buru2 sampai rumah biar bisa cepat makan.

Tak berapa lama, kami tiba di pom bensin Asia Makmur. Pom bensin itu punya bapaknya temen sekelas mas Bayu. Keluarga kaya yang ramah. Dengan berhati-hati, kami menyeberang jalan. Lalu lintas masa itu tidak riuh seperti sekarang. Paling banyak cuma oplet dan bus kota. Begitu sampai diseberang, ternyata kami tidak langsung pulang ke rumah. Mas Yono mengajak kami masuk ke kantor kelurahan. Ia mengajak kami ke samping kelurahan. Lalu dengan berjingkat ia mengintip ke jendela gedung sebelah...

"Tuh, liat tuh... yang itu tuh adik kita...!" ia menunjuk seorang bayi mungil yang sedang menangis di box bening paling ujung.

"Apaan sih?" aku benar2 bodoh. Sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan kakak.

"Itu, yang itu... yang ujung..." , lagi-lagi mas Yono menunjuk ke arah bayi itu.

Bagiku semua bayi yang terlihat di balik jendela kaca itu sama saja. Iyo berusaha memanjat pagar besi yang tajam itu saing ingin tahunya. Aku ikut2an.

"Yang mana sih?" tanyaku lagi.

"Yang itu..." jawab mas Yono.

"Ooh yang itu..." jawabku dan iyo serempak. Padahal nggak tau yang mana. Aku milih yang mana, iyo juga yang mana.

Selebihnya tidak banyak yang kuingat. Sorenya kami baru boleh menengok ibu. Bersama Bapak dan Lik Yem. Sekitar 3 bulan kemudian, tiba2 kami diajak masuk ke mobil untuk pergi ke suatu tempat. Aku tidak tau kenapa. Yang kuingat, sudah sejak beberapa hari sebelumnya cuaca Jakarta agak suram. Debu gunung galunggung membuat siang hari seperti petang saja. Kami dilarang keluar rumah, karena debunya mengganggu pernafasan dan membuat orang-orang sakit mata merah. Kadang kami mencoret2 debu di kaca mobil orang dengan tulisan2 mengejek.

Hari itu kami pindah rumah. Semenjak tinggal di kampung yang sepi ini, aku mendapat teman2 baru. Sejak saat itu pula, baru aku berkesempatan mengenal adik bayi.

***

Itu kisah 26 tahun berselang. Ia kini sudah jadi gadis yang cantik. Di suatu hari yang cerah, aku janjian menjemput Ade untuk berangkat ke Bogor. Hampir jam 7, jalan masih relatif lancar. Dari kejauhan terlihat ia duduk di halte dengan manis. Aku rem pelan2. Adikku membuka pintu dan pindah ke kursi belakang.

"Pi, ini kenalin, Ade", kataku. "Ini adikku De, Palupi".

Mereka berdua berkenalan. Menjelang lampu merah dekat pintu tol adikku turun. Ia melanjutkan perjalanan ke arah salemba.

"Cantik ya adikmu..."

"ya gitu deh..." aku tersenyum. "Eh iya, ada nasi uduk sama bakwan tuh.. Makan aja..." kataku. "Tadi nyokap beli di deket rumah, di warungnya Pok Roti."

Ketika kita tumbuh dalam atap yang sama. Orang tua dan saudara menjadi buku kehidupan. Sebuah cerita bersambung yang panjang. Kadang menyenangkan. Kadang pahit. Yang hanya akan berakhir ketika kita semua pergi satu-satu. Ketika itu, ceritanya akan menjadi kenangan yang lembarnya kita buka sedikit2 saat kita ngobrol2 di beranda, di balik setir saat menunggu kemacetan terurai, di waktu2 luang atau sebaliknya, di saat2 kritis dimana biasanya kita membutuhkan keberadaan mereka.

"Enak nasi uduknya, Gus.."

"Ya gitu deh, nasi uduk kampung..." jawabku.

Aku ingat menggendong adikku di punggung. Dengan seragam Taman kanak-kanak kotak2 berwarna merah dan topinya, ia terlihat lucu. Pipinya yang montok kemerahan terpapar cahaya matahari. Aku mengajaknya berbicara tentang apa saja. Tentang rumpun padi yang subur, burung2 pipit, tentang ular yang bersarang di pokok pohon secang, memainkan buah secang kering yang berbunyi klotok-klotok. Dan ketika menjemputnya pulang dari sekolah, sesekali kami berhenti di pematang sawah untuk melihat anak-anak ikan sepat, betik dan cere bermain diantara akar padi. Kami berjanji untuk membawa serokan dari bekas bakul plastik bekas, atau membuatnya dari kaos kaki bekas.

Ia begitu kecil waktu itu. Sampai kami tak sadar ketika ia beranjak dewasa. Kami tak sadar bahwa ia membutuhkan ruang untuk didengar. Bertahun-tahun, bahkan ketika keluarga kami berantakan waktu mas Bayu terkena skizofrenia, ia hanya seorang pendengar setia. Bila situasinya genting, ia hanya diam. Menenangkan ibu dan bapak, atau diam di dalam kamar.

Begitu mas Bayu pergi. Kami terlibat dalam pembahasan yang tak ada jawabannya. Tidak lagi soal kenapa atau bagaimana semua itu terjadi. Tapi soal bagaimana kita harus bertahan satu malam lagi. Diskusi yang membuat kita berteriak saling menyalahkan, meskipun kami juga tau tidak ada yang salah. Mungkin, kita bisa saling bunuh karena pertengkaran semacam itu. Kala itu, adikku hanya diam.

Seperti sebuah buku, aku belajar darinya. Di antara kegilaan yang mendera, ada juga kewarasan2 kecil. Meskipun cuma sejenak, itu membuatku berfikir dan merenung ulang semua kekacauan yang telah kita perbuat.

"Eh, Pi, Yo, semuanya aja. Ini sejarah bakal panjang. Jadi kita mesti jaga stamina. Kalo kita lagi stress, yah jangan semuanya stress. Harus ada yang tetep waras!" sebuah momen yang sedih. "Loe udah bener Pi. Kalo lagi kisruh biar gue aja yang urus dia. Saling memaafkan aja deh kalo kita lagi stress semua. Itu kan karena situasi..."

Si merah sudah tiba di depan kantor Ade. Aku meninggalkannya di belakang untuk menuju kantorku sendiri. Masih 10 km lagi dari sini. Di perjalanan yang panjang jakarta bogor, semua kenangan berputar kembali. Manis, bahagia, senang dan susah. Berputar kembali. Sungguh aneh, ketika matahari bersinar cerah dan udara pegunungan membuat dada terasa lega, aku harus menghapus rahasia hidup yang tergenang di mataku.

***

Adikku Palupi akhirnya jadi sarjana tahun ini. Dulu kami menekannya terlalu keras. Karena kami bukan orang berpunya, bila ingin kuliah, ia harus masuk negeri. Ketika kenyataannya ia tidak lulus ujian masuk, aku sedikit tidak adil. Bukan, bukan sedikit, tetapi banyak. Aku dan mulutku yang nyinyir.

Setelah kini ia menjadi sarjana, aku jadi malu sendiri. Karena ia berhasil juga. Belajar sambil bekerja. Ternyata aku tak setangguh dia. Aku bukan apa2 dibanding gadis cilikku yang tangannya kubuat keseleo. Maafkan aku untuk itu ya...

Sekarang, bapak dan ibu sudah tua dan sakit2an. Gadis kecilku telah bekerja lagi. Pagi2 ia sudah bersiap untuk kehidupannya yang masih panjang. Apakah kamu masih mau mengajarkanku lebih banyak lagi?

******

Bogor, Senin 3 November 2008

Sunday, October 26, 2008

Pilih CIFOR di "Jakarta Green Office Competition" !

Ayo SMS ke 9123 tulis “JGO Greening Campus” untuk memilih "Greening CIFOR-ICRAF" sebagai tim terfavorit di Jakarta Green Office Competition. Bukan untuk menang atau kalahnya, tapi untuk menggemakan kecintaan pada lingkungan ke seluruh Indonesia. Mulailah dari lingkungan kantor kita sendiri!

Terima kasih atas dukungannya! ;-)

Sunday, September 21, 2008

Kata 'Cinta' dalam Qur'an

Ada yang bisa menjelaskan lebih lanjut. Tentu aja yang diharapkan ada sumber2 literatur yang cukup jelas ya.

Say liat di Asmaul Husna, http://www.asmaulhusna.com/. Tidak ada nama Allah yg persis dengan kata 'cinta". Ada kata yang lebih agung, ArRahman, ArRahiim. Ada lagi kata AlWadud artinya The Loving One,

He who loves His good servants, and bestows his compassion upon them.

Terus, menemukan website berikut ini:

http://www.islamnow.com/docs/lovequran.html

http://muttaqun.com/love.html.

http://wiki.answers.com/Q/Is_the_word_love_found_in_the_Qur'an

http://www.slideshare.net/almujtaba/love-in-islam/

Dan website ini yang mungkin sumbernya bukan dari pihak muslim, tapi menarik juga.

http://www.answering-islam.org/Quran/Themes/love.htm

Ada rujukan lain yang lebih lengkap, sukur2 dalam bahasa indonesia? Bukan untuk mencari justifikasi cara berpikir saya sendiri loh. Tapi untuk belajar aja.

Sunday, August 31, 2008

Nggak Saur lagi

Seperti biasa, penyakit kronis. Nggak makan sahur. Mudah2an sih kuat. Oh iya, saya mohon maaf lahir batin ya, buat temen2 semua. Semoga puasa kita tahun ini memberi berkah dan kesadaran yang lebih baik. Amiin.

Wednesday, June 25, 2008

Bahasa Menyelamatkan Bangsa

Aku baru aja bersiap2 pulang ketika Agus mengajak makan malam bersama di warung ayam geprek Taman Yasmin. Katanya besok pagi Luke akan berangkat ke Kamboja. Adrian juga akan kembali ke filipina minggu depan. Tidak banyak kesempatan lagi untuk makan malam bersama di beberapa hari ke depan. Luke juga akan berulang tahun akhir bulan ini, teman-teman berniat membelikan cake mungil untuknya. Sementara Adrian, setelah beberapa kali perpanjangan kontraknya dengan Livelihood program, kali ini ia akan pulang untuk melanjutkan studinya ke jenjang doktoral. Ia masih menunggu berita soal itu dari universitasnya.

Karena kontraknya sudah berakhir, seminggu ini ia bekerja dengan laptop di library. Tapi seharian ini ia tak ada di sudut meja sana. Aku tak jadi mematikan komputer, kalau Adrian sudah ketemu, baru aku siap2 berangkat. Sebab Adrian yang punya acara. Nggak sampai sepuluh menit ia muncul di pintu library.

"Bagus, are you coming?" tanyanya.
"Iya saya ikut"
"Are we going out by bus?" tanyanya lagi."Kita akan naik shuttle?"
"No, I go with Indra," jawabku. "I think there are enough room for all of us. You can join Mas Jo's car. Who else are coming?"
"Andreas, Mel, Tim and John are coming later. But they can go by bus," ujarnya.
"Lets go then. Let me shut down the computer, I'll join you at the lobby," kumatikan komputer dan mengunci ruangan koleksi library.

Aku ke toilet sebentar, lalu bergabung dengan teman-teman di lobby. Sebagian duduk di sofa, sebagian lagi menghabiskan rokok di luar. Begitu aku datang, semua segera bersiap. Formasinya berubah. Luke, Andrea, Adrian dan aku bergabung di mobil mas Jo. Yang lainnya bergabung di mobil Indra. Kami berangkat ke Warung Ayam Geprek di Taman Yasmin, lagi. Apa boleh buat, kantor kami yang terletak di pinggiran kota tidak memberikan banyak pilihan untuk memenuhi selera bule dan pribumi.

Tak sampai seperempat jam kami tiba di restoran itu. Setelah menata tempat duduk untuk kami semua, kami bercakap-cakap melanjutkan obrolan di dalam mobil ketika Andrea memperkenalkan diri padaku.

"Hi, I'm Andrea, nice to meet you," ia tersenyum manis.
"I'm Bagus, we met before at the library," Andrea hanya beberapa hari di Bogor. Ia membutuhkan beberapa literatur dan ingin bertemu beberapa narasumber untuk risetnya di Australia.
"You mean, Bagus...bagus?" katanya tersenyum heran.
"Yes, Bagus... bagus," aku tertawa. Ini bukan pertama kalinya. Semua orang asing yang berkenalan denganku selalu menanyakan hal itu.
"Yeah, bagus is good," Luke menimpali. Semuanya tertawa dan mengajukan beberapa ungkapan yang lucu tentang itu.
"My Bagus is Javanese name. Balinese is also have Bagus, blablabla..." Andrea manggut-manggut. Aku yakin dia sudah tau itu.

Orang-orang Australia biasanya sudah belajar banyak tentang Indonesia dari Bali. Adrian lalu bercerita, kalau di Filipina ada kebiasaan memberi julukan kepada orang dari keadaan orang itu. Misalnya bila orang itu buta, dia akan dipanggil si buta. Kalau ia pincang, ia dipanggil si pincang. Ayahnya Adrian, misalnya punya nama tagalog yang artinya "nobody cares" karena waktu lahir ia yatim piatu. Hampir mirip lah dengan di Indonesia.

Sambil menunggu pesanan kami ngobrol ngalor-ngidul soal Filipina.
"Hey Adrian, i read update news about the disaster. They already found 33 survivor, and some dead people," ceritaku.
"Oh ya? I heard there are more, it's about 50."
"The thypoon must be very big, ya?" aku tak perlu mikir soal tata bahasa bila ngobrol dengan Adrian, ia berbahasa Indonesia dgn cukup baik.
"Actually not, the ship company has a bad reputation. It was owned by a politician."
"Really? I thought it was the thypoon..."
"I mean, not well managed," Adrian mulai menjelaskan angka2 kecelakaan kapal-kapar yang berkibar di bawah bendera perusahaan itu.
"Is it like metro mini in Indonesia?" aku asal nyeplos seperti biasanya.
"Maybe..."

Lalu ia bercerita tentang betapa korupnya pemerintahan di negaranya. Dibanding filipina, Indonesia masih lebih mendingan. Masih ada arah pembangunan yang cukup jelas. Militer tak sekuat disini, tapi korupsi merajalela.

"How old are you when marcos going down?"
"I was born 1990, so I was 6 years old," ia tertawa. Mas Jo ikut tertawa. Kami memang jarang bicara serius, jadi selalu saja ada gurauan di sana-sini.
"I was in college when it happened. It was a big news in Indonesia," aku sedikit membual."But only litle coverage in newspapers. We are still in Suharto era. I think he didn't want it to happen in Indonesia. It could be a trigger you know..."
"Oh really? Now is a bit different. But the corruption still there."
"How come? My brother is in beijing for almost 15 years now. He told me, he admire filipino so much. They are everywhere. From maid into big star singer. Every pub, there is filipino. And they are good!" minuman sudah datang. Sambil menyeruput juice strawberry aku melanjutkan.
"Exactly, katanya. You know, the only advantage we have than other asean countries is English as speaking language. From about 80 million population 6 million of us are working abroad. Thats a huge income to the countries."

Namun sebagian besar pekerja itu menjadi sapi perah bagi para politisi. Mereka menggunakan perusahaan2 pengerah tenaga kerja sebagai alat untuk mengambil keuntungan. Dari surat-menyurat administratif hingga biaya sponsorship. Semuanya berafiliasi pada politisi atau orang-orang yang berpengaruh.

"I mean they are working in Europe, US, and many modern countries. How come they didn't bring changes?"
"That's because they use all the resource they get to go out the country," jawabnya.
"So, for example, I am working in US and you are my brother. If i get money, i will sponsor you to go to US as well?"
"Exactly!"

Aku mengangguk mengerti.

"The funny thing is, when i went to Nepal. I saw, so many advertisement on study abroad services."
"And they are using it for working ilegally?"
"Yes. Nepal is 30 million population and about 6 million is working abroad. The tourism activities companies belong to foreigners, bule's."

"I saw the advertisement in public spaces, in newspapers. Everywhere. It means they are taking the services. Going abroad is a big business."

Makanan sudah disajikan. Tim, John, Mel dan Andreas tiba. Kami menunggu mereka memesan makanan sebelum mulai menyantap makanan kami. Obrolan kami jadi agak menyerempet2 bahaya. Adrian sedikit cerita kalau sebagian dari para pekerja migran itu berada di bisnis esek-esek. Bagaimana bisnis itu sebenarnya sangat tercela dalam katolik. Tapi juga tak terhindarkan. Sejak Kardinal Sin meninggal belum ada figur sekharismatik itu di kalangan gereja katolik filipina.

"Are you running porn website? Genuine Filipino girl?"
"Well, Bagus. That's why I am here, working abroad," katanya sambil tertawa.
Kami semua tertawa.
"That's the only thing why we didn't have revolution, otherwise we have already bankrupt."

Sungguh salut untuk para pekerja migran!



Bogor, 25 June 2008.



*) Disasternya itu tentang kapal Ferry yang terbalik karena Topan Fengshen.

Sunday, June 15, 2008

Dreams

Hold fast to dreams
For if dreams die
Life is a broken-winged bird
That cannot fly.
Hold fast to dreams
For when dreams go
Life is a barren field
Frozen with snow.


***

Langston Hughes

Wednesday, May 21, 2008

Merusak Acara

Setelah makan siang di warung amigos, aku, om santo, irfan dan indra berjalan pulang ke kantor. kami ngobrol ngalor-ngidul soal ini dan itu. Tiba2 om santo berhenti sejenak dan merunduk. Dipungutnya seekor siput dari tengah jalan. karena di belakangnya sebuah mobil toyota avansa akan berjalan mendekat. Ia lemparkan siput itu ke tengah hutan.
"Ngapain To?" tanyaku lugu.
"Siput kan tempatnye di utan gus. Kesian tar kalo kelindes ban mobil", katanya singkat.
"Lho bukannya malah kesian? Dia udah jauh2 separo jalan, jadi balik dari nol lagi deh..." kata Irfan tersenyum.
"Iya, kali aja dia mo jenguk sodaranya di seberang jalan...", aku ikut tertawa.
"Hehe... iya juga ya. Jangan2 dia mau silaturahmi, jadi batal...", santo jadi garuk2 kepala.
"Kesian banget, dia kan udah bikin rencana jauh2 hari. secara dia merasa sebangsa bekicot.. hehehe...".
"Bisa nggak jadi masuk sorga loe, To..." kami tertawa bersama2

Kadang-kadang kita merasa melakukan hal yang terbaik untuk orang lain. Kita berharap, niat baik kita akan berdampak baik pada akhirnya. Memang ada banyak momen dimana kesimpulan seperti itu benar-benar berbuah baik. Tetapi kita mesti belajar, bahwa sesungguhnya banyak hal yang berada di luar kekuasaan kita.

Tentu aja santo tidak bisa bertanya kepada siput, apa sebenarnya yang dia pikirkan, apa yang dia inginkan. Tapi kita yang memiliki kesempatan untuk saling memahami satu sama lain, sudah selayaknya membuka hati satu sama lain sebelum menentukan hal-hal baik yang akan dijalani di masa depan.


Bogor, 21 Mei 2008

Thursday, May 08, 2008

Kisah si Gila

"Kemaren gue kesel banget. Abis dari STM kahuripan kan gue mo berangkat ngajar ke klender. Gue naik metromini dari pasar minggu. Gue duduk dong deket kenek di deket pintu blakang. Nggak lama ada tentara kopasus naek", mas Bayu bercerita.
"Eh, nggak ada angin nggak ada ujan, tau2 dia mbentak gue..." Wajahnya sangat kesal."Heh, pindah kamu!"
"Gue disuruh pindah. Yah gue nggak mau dong..." lanjutnya lagi."Gue mau ditabok... Kalo nggak inget2, udah gue lawanin tuh orang. Ya udah terpaksa gue pindah daripada ribut".

Tentara itu nggak tau kalo yang dia hadapin orang paling nekat sedunia.
"Nggak lama metro mini jalan. Pas lewat empang tiga, nggak taunya metronya disetop lagi sama anak STM. Anak STMnya berdiri di tengah jalan bawa balok, sebelah kakinya menginjak bemper depan metromini. Begitu berenti, mereka kan pada masuk ke dalem. Gue diemin aja", ia menggaruk-garuk hidungnya yang gatal. "Eh si kopassusnya sok jagoan, ceritanya. Dia langsung berdiri. Mau apa kamu? Dia mbentak anak2. Disangkainnya pada takut kalii..."
"Taunya nggak..."
"Bapak jangan ikut2, deh! Kita nggak ada urusan sama situ!"
"Sok jagoan kamu!!!" si tentara ngamuk. Tangannya melayang. Plak!!! Ia menampar anak itu.
yang ditampar menangkis sambil otomatis berteriak...
"Woiii, serbuuuu!"
Kontan konco-konconya menyerbu masuk ke dalam metromini. Balok, rantai, ikat pinggang,
potongan besi, rantai motor, menyerbu. Muka pak tentara bonyok sama bogem mentah dan
tendangan. Ia kewalahan. Para penumpang tak berani bertindak sementara penumpang perempuan berteriak-teriak ketakutan. Anak-anak mengamuk sejadi-jadinya karena tak menemukan musuh dari sekolah menengah lain, juga karena sikap arogan pak tentara. Ia tersungkur di lantai metro. Seorang anak kerempeng naik dari pintu depan dengan samurai berkarat di tangan.
"Eh, udah... udah.... bubar...!" mas Bayu merasa kasihan juga."Anak-anak masih mukulin aja tuh. Tapi begitu ada yang ngeliat gue. Langsung brenti tuh anak..." mas Bayu nyengir sendiri.
"Eh, ssshhh, sssyuh, brenti woi, ada bapak tuh. Ehmm, Selamat siang, pak!" pemuda kerempeng itu menunduk takut-takut. "Eh, maaf pak..." Teman-temannya serentak berhenti dan ikut menyapa. Si kerempeng segera meloncat keluar.
"Woi, bubar oooi!!!" dalam beberapa menit saja anak-anak berseragam putih abu2 itu blingsatan entah kemana. Tinggal pak tentara yang bangkit dibantu beberapa penumpang. Ia melihat mas bayu sekilas lalu kembali ke tempat duduknya di pojok pintu belakang dekat kenek.
"Gue kesian juga sih, tapi gimane ye, terpaksa senyum2 sendiri deh. Penumpang laen juga pada nyengir sih. Soalnye tadi dia galak banget ke gue..." katanya lega."Blom tau die, itu murid2 gue, lulusan polres semua, hehehe..."

Nasib guru honorer seperti mas Bayu memang prihatin. Di sekolah, gajinya dipotong sana-sini. Ditindas oknum kepala sekolah dan peraturan pemerintah yang tak berpihak. Sementara yang dihadapi setiap hari adalah anak-anak miskin yang bengal. Mereka bersekolah untuk belajar kekerasan dengan temen2nya yang datang dari sudut2 kumuh yang berbeda di kota ini. karena dari kekerasan itu mereka akan hidup. Sekolah yang statusnya tidak jelas diakui, setara, disamakan atau mengaku disamakan, adalah tempat mereka membangun jejaring sosial yang kusut. Serba carut-marut.

Guru-guru STM swasta seperti mas Bayu harus simpatik, namun tegar sekeras baja. Tidak sekali dua kali rekan sejawatnya gegar otak diketok martil oleh muridnya. Martil yang baru saja dibuat bersama di bengkel bubut. Di kali yang lain, motor sejawatnya dibawa kabur murid, setelah belajar membypass saklar starter di pelajaran otomotif. Di kelas mereka harus waspada. Di luar kelas, apalagi. Murid2 yang kecewa dengan nilai jeblok bisa mengancam dimana saja. Siapa yang bisa disalahkan? Guru, kemiskinan struktural atau sistem pendidikan yang memperbodoh?

Itu sebabnya, kami, adik-adiknya mengagumi lelaki sederhana itu. Nasibnya tentu saja begitu labil, terombang-ambing dalam ketidakpastian yang panjang. Tapi ia selalu saja dapat menyisihkan sedikit uang untuk membantu ongkos transport kami sekolah.

"Tapi anak2 sebenernya baek loh!" katanya suatu hari."Pernah, waktu itu gue mo brangkat ngajar. Eh ada anak2 stm lagi pada nyetopin bis rame2 di Pasar Rebo. Pada bawa bendera segala. Orang-orang udah pada nyingkir semua ketakutan, tuh, disangkain pada mau tawuran.

Eh, gue kan nyebrang jalan trus nunggu angkot ke Depok di situ...."
"Pas gue lagi nunggu, taunya anak2 pada nyamperin gue..." ia tertawa lebar."Taunya pada nyium tangan gue satu2! Orang-orang sampe pada heran semua, takjub sama gue, hehehehe" ia terus tertawa. "Gue aja sampe geli banget waktu itu..."

Kami ikut tertawa. Itulah segurat kenangan sebelum tragedi itu merebut hidupnya.

***
"Gus, gue tidur aja deh. Udah ngantuk nih", Hanif menguap panjang. Hari ini ia numpang ngetik skripsi di rumahku. Sebenarnya malam belum terlalu larut. Baru sekitar jam setengah sebelas. Tapi di ruangan sebelah, sudah terdengar suara-suara yang meracau tidak jelas.
"Ya udeh, duluan deh. Gue bentar lagi", jawabku.

Ughh, semoga Hanif cepat tidur. Hatiku was-was. Ini sudah tahun kesekian sejak mas Bayu sakit. Tahun-tahun berlalu, namun situasinya bukan makin ringan, tapi semakin berat. Dulu ada fasenya dimana ia banyak sekali tidur. Tapi semakin kronis, kebiasaan itu berubah. Ia jarang tidur. Dan hampir setiap malam mengamuk.

Hampir setiap malam kami harus siaga. Begitu hari menjelang senja, Ibu, kakakku, adik-adik, bersiap-siap. Kami bicara seperlunya saja. Kadang kami masih berusaha menjalin percakapan sejenak. tapi setelah itu lampu2 harus dimatikan, lalu masuk ke kamar masing2. Setelah itu diam. Menunggu kejadian apa lagi yang akan tercipta malam ini. Sesekali kami berusaha bertahan di ruang keluarga untuk melayani percakapan mas Bayu. Namun itu tak bisa dilakukan lama-lama. Karena makin lama pembicaraannya makin tidak jelas dan nadanya terus meninggi. Ketika itu terjadi, kamu tak akan ingin berada disana.

Malam itu mas Bayu ngamuk lagi. Ia mulai marah-marah di dalam kamar, lalu menggedor-gedor kamar ibu di sebelahnya. Sejak sore tadi ia sudah membakar2 sesuatu di dalam kamar. Namun tidak begitu menarik perhatian orang.
"Anjing semua, setan! Keluar!" ibu keluar kamar berusaha menenangkannya meskipun itu usaha yang sia2. Aku menyuruhnya kembali ke kamar. Begitu juga mas Bayu.
"Udeh bu, ambil Yasin, baca2an aja gih!" aku menenangkan ibu. Tanpa kami sadari mas Bayu pergi ke belakang rumah. Dalam kegelapan malam ia berteriak-teriak kesetanan.
"Maanaaa Allaaaah? Kalo berani kesini loe!!! Mana rosulullohhh??!!! Gueeee injekkk batang lehernyaaaa!!!!!! Anjing loe!!! Kesini loe!!!" matanya melotot hingga kedua bola matanya seakan ingin meledak di relung wajahnya yang merah padam. Otot2 lehernya menegang seperti jalinan kawat baja menahan beban yang luar biasa dahsyatnya.

Aku segera berlari ke belakang rumah. Teriakannya begitu kuat sehingga di ujung-ujungnya seperti membentuk lolongan panjang yang sedih.
"Yu, udeh yu, tenang, Yu! Ayo kita masuk aja, Yu... Udeh, nggak papa, Udeh kita masuk aja
yuk..." aku berusaha sebisanya membujuknya menghentikan teriakan2 itu. Sama sekali nggak sempet lagi memikirkan kemungkinan kalau kemarahan itu berbalik kearahku.
"Pergi loe, kagak usah ikut2! Gue bunuh loe semua!"
"Udeh, kita masuk aja lah. Iye, gue salah. Yang penting kita masuk dulu deh..." kutarik lengannya pelan2 mengajaknya masuk. Ia terus berteriak marah.
"Udah Yu, udaah... Mendingan kita pergi aje dari sini, deh", kubiarkan ia memasuki kamar,
mengenakan celana panjangnya yang kotor. Dinding-dinding berjelaga, bekas api unggun yang dibuatnya di dalam kamar. Sampah-sampah berserakan penuh kertas2 bertuliskan puisi atau mungkin keluh kesah yang dihadapinya sendirian. Bau air kencing menyengat. Aku menyelinap sejenak ke kamar ibu. Ia masih terduduk membaca ayat kursi. Tangannya gemetar tak keruan menyeka air yang mengembang di matanya.
"Pokoknya jangan pada keluar ya! Gue pergi dulu!" aku berbisik tegas. Adik perempuanku memegangi punggung ibu. Ia hanya mengangguk pelan.

Malam itu aku aku menemani mas Bayu berjalan tak tentu arah. Menyusuri jalan kota jakarta
yang sedang tidur. Hanya dengan sendal jepit butut dan pakaian seadanya. Sepanjang jalan ia marah2 tanpa henti. Di mulut-mulut gang dan warung-warung pinggir jalan, para peronda, tukang-tukang becak dan ojek memandang kami dengan pandangan aneh. Aku tak perduli. Ini soal hidup dan mati. Kami berjalan terus hingga pagi menjelang hingga kemarahan Mas Bayu agak surut, mungkin akhirnya ia juga kelelahan berjalan begitu jauh.

"Yu, kita pulang ye? Gue mesti berangkat kerja nih..." tanyaku padanya.
Ia diam saja, matanya masih merah penuh amarah. Kurogoh kantongku. Tak ada uang sekepingpun.
"Naek taksi aja deh Yu, tar bayar di rumah...", tak ada cara lain.

Ketika tiba di rumah, ibu sudah memasak di dapur. Kubiarkan mas Bayu masuk ke kamarnya. Lalu kujenguk Hanif di kamar. Ia masih tertidur lelap. Aku lega. Hingga bertahun-tahun berselang aku nggak pernah tahu apakah sobatku itu benar2 tertidur atau sengaja pura2 mengantuk untuk memberiku sedikit ruang. Dan bertahun-tahun berselang, barulah adikku bercerita, ia juga pernah menemani mas Bayu berjalan hingga ke Bekasi dan Cibarusa. Masuk kampung keluar kampung, nyemplung rawa, dan terpaksa menemaninya melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Ia menyimpannya sendiri. Karena ia yakin kami semua punya rahasia sendiri2.

***
Kami selalu pulang ke rumah. Kemanapun kami pergi, seberapa banyakpun waktu yang harus diambil untuk pekerjaan atau sekolah. Aku harus pulang meskipun harus lembur sampai jam 4 pagi dan jam 8 nya sudah memulai hari kerja yang baru. Kami harus pulang ke rumah. Bukan sekedar karena itu kelaziman sebuah keluarga. Tapi karena kami harus menjaga satu sama lain. Kami harus memastikan segala sesuatunya terkendali. Meskipun sebenarnya itu omong kosong belaka karena jelas-jelas semuanya berantakan.

Waktu itu bapak bekerja di cikarang, beliau pulang seminggu sekali. Meskipun beliau pulang, ia tak mampu mengatasi keadaan. Karena ia salah satu target kemarahan. jadi apapun yang dikatakannya, semuanya selalu salah. Karena ketika sakit mas Bayu mencapai tahapan kronis, ia makin terputus dari realita. Ia mengalami gejala broadcasting, serasa semua rahasia terdalam di pikirannya dipancarkan, diketahui semua orang. Ia merasa diikuti oleh orang2 yang tak terlihat. Akibatnya ia merasa seluruh dunia berkonspirasi terhadapnya. Rasa kesepian yang dalam sehingga ia memusuhi semua orang. Semakin ia menjauh dari realita, dinding2 tak kasat mata membentengi dirinya. Bahkan orang-orang terdekatnya tak dapat menjangkau pikirannya kembali.

Karena itu setiap hari kami menyusun strategi menghadapi situasi genting. Setiap hari pula kita gagal. Setiap hari adalah kejutan2 baru yang tak terduga. Bila sehari saja ada ketenangan, berarti celah pintu surga terbuka dan berkas2 kesejukannya jatuh di hatiku.

***

"Gue tau loe masih melek. Dasar bajingan loe! Tiap malem gue dikomputerin! Kepala gue dibikin pusing!" suaranya mulai meninggi. Aku diam tak bergerak. Kumatikan komputer agar ia tak punya alasan untuk menjadikanku sasaran. Kamar menjadi semakin gelap ketika perlahan-lahan cahaya monitor meredup. Aku beringsut tanpa suara ke dipan. Ini bakal menjadi malam yang panjang. Kuletakkan bantal di dinding untuk tempatku bersandar. Sebuah bantal lagi kupeluk di dada.

Aku bahkan tak lagi berdoa. Katakan, Kau tak mendengar doa yang kami gumamkan dalam hati. Tapi bukankah Kau Maha Melihat? Lalu mengapa kau biarkan ini terjadi? Katanya Kau Maha Penyayang, tapi mengapa malam-malam kami penuh kejahatan. Ah, barangkali dunia ini memang tercipta begitu saja secara spontan. Apakah Dia ada atau tiada, aku tak perlu perduli. Akan kubiarkan kehidupan mengalir begitu saja apa adanya. Apa yang terjadi, terjadilah. Dalam kelelahan yang bertumpuk bertahun-tahun dan kegelapan yang menyekat, aku tertidur.

"Brakkkkk!!!"
Aku terbangun mendadak karena suara keras itu. Aku berlari menuju sumber suara itu. Lantai rumah penuh air. Begitu juga dinding, sofa, lemari, semuanya. Aku tak sempat berpikir panjang. Suami kakakku berdiri menghadang di depan pintu kamar. Pintunya jebol oleh tendangan Mas Bayu. Sementara mbakku melindungi bayinya yang umurnya belum genap seminggu. Adikku berusaha melerai. Mas Bayu pergi ke belakang.

"Udah mas. Masuk kamar, tutup lagi pintunya!" kakak iparku kembali ke kamar. Aku ikut ke belakang mencari mas Bayu. Belum sempat berfikir, tiba-tiba mas Bayu muncul dari kamar mandi menyiramkan sepanci besar air ke tubuhku. Lalu ia memukulkan panci aluminium itu kepadaku. Secara refleks kutangkis dengan tangan kiriku. Adikku yang mengikutiku di belakang melayangkan tinjunya ke mas Bayu. Terjadi perkelahian singkat. Dengan tubuh basah kuyup aku melerai keduanya. Kekerasan sama bukan jawaban, dan selama ini kami sepakat untuk terus menjaganya.

Malam itu mas Bayu membuat api di kamarnya, lalu ia ratakan api itu ke seluruh rumah. Ketika api membesar, ia jadi panik sendiri. Lalu berusaha memadamkannya dengan menyiramkan air ke seluruh rumah. Kakak iparku yang memergokinya menegur, lalu terjadilah ketegangan.

"Udah! Brenti!!!" kakak iparku memegang adikku. "Masuk loe ke kamar!"
Adikku masih terburu nafsu.
"Gue bilang masuk, masuk loe!" aku berteriak marah. Adikku mengunci pintu kamarnya. Lalu ku dorong mas Bayu ke dalam kamarnya sendiri. Ia berteriak2 kalap.
"Udeh, terserah loe mau ngomel apaan kek. Asal di kamar!" kataku. Kutinggalkan ia di kamar lalu ke kamar kakakku.
"Pokoknya diem di kamar, waspada. Kalo terpaksa, cari taksi, pulang ke Bogor! Biarpun dia ngapain, diemin aja, gue yang nungguin!"

Aku kembali mematikan lampu2. Masa bodoh dengan rumah yang banjir. Tak ada yang dapat dilakukan malam itu selain kembali ke kamar masing2. Aku bahkan sampai lupa mengambil baju ganti yang kering. Selama ini aku tidur di ruang mas Yono yang bertahun-tahun merantau. Karena itu tak ada baju di kamar ini. Kubuka sarung bantal untuk sekedar mengeringkan badan. Semalam itu aku duduk berjaga sampai pagi. Dengan badan berayun2 memeluk lengan yang menggigil oleh dinginnya malam ini. Sampai tak sadar kalau tangan kiriku bengkak kena pukul.

***
Didera cobaan bertahun-tahun sungguh menguras emosi. Belum lagi dana, tenaga, pikiran dan waktu. Kami ingin semua ini segera berlalu. Meski pada kenyataannya, tak ada jawaban instan dalam hidup. Semuanya serba merangkak. Seringkali mas Bayu pergi tak tentu arahnya dua hari, lima hari, seminggu, dua minggu.
"Biar, mau pergi, pergi sekalian!" kata bapak gusar. Atau, "Biar tak dadekno air lagi sekalian! Hancur sekalian". Kami semua diam. Tapi saat kegalauannya mereda, gantian beliau yang terdiam.

Menghadapi kejadian sedemikian kadang membuat kami hampir lupa bahwa tidak ada seorangpun yang ingin sakit seperti itu. Bahkan hingga kini kami tak bisa membayangkan, kenapa semua ini bisa terjadi. Ini benar-benar sebuah kotak pandora yang penuh dengan kemalangan, kedukaan, kesedihan yang tak habis-habisnya.

Lalu kami mencari obat. Di segala sudut kita datangi. Orang pintar dan Kyai. Dari bekasi, cimanggis, Serang dan Sumedang dan entah mana lagi. Setiap pulang, mas bayu seperti tersadar. Dia bertanya-tanya,"Gue kemaren kenapa ya...? Ini hari apa ya? Gue gak kerja dong hari ini?" Tapi beberapa hari kemudian ia kembali lagi seperti sebelumnya. Kata orang, berobat itu cocok-cocokan. Biarpun kebahagiaan itu cuma sehari, sedetik, rasa tenang yang diberikannya serasa seabad. Karena itu ia demikian berharga untuk sebuah pencarian.

Belum lama ini, untuk kesekian kalinya seorang teman bilang padaku. Tuhan tidak pernah memberikan ujian yang tak sanggup ditanggung oleh manusia.
"Omong kosong", teriakku."Ngomong loe sama ember sana!"
"Kalo loe nggak tau rasanya mending nggak usah ngomong", kataku."Nggak ada itu yang namanya Tuhan. Gue berdoa2 sampe air mata nggak bisa keluar, nggak ada tuh pertolongan dari Dia!" Aku benci mengatakan hal itu. Tapi aku merasa yakin bahwa itu benar.

Sampai suatu saat seorang teman, mantan penderita skizofrenia mengirimkan email motivasi. Katanya "Tuhan punya rencana indah buat kalian!" Pesannya singkat, tapi terasa begitu simpatik. Orang yang telah lebih dari sebelas tahun menderita dan masih berjuang untuk bisa kembali produktif bisa mengatakan itu. Ia tidak mengatakan kapan jawaban itu datang. Hanya memberikan sebuah isyarat harapan bahwa suatu saat tragedi ini akan berubah. Dan saat itu rencana indah Tuhan akan terbuka pada kami. Aku begitu terkesan, sampai-sampai hampir dapat membayangkan bahwa rencana itu sebuah kado yang terbungkus sutra indah. Dan ketika ikatannya terbuka secara ajaib, berkas-berkas sinar terpencar ke segala arah. Seperti radiasi cahaya mentari namun begitu sejuk di wajah kami. Merasuk sukma. Membuat kami lupa segala penderitaan yang lalu.

Emailnya membuat kami sadar bahwa kami tidak sendirian. Toh, hidup juga akan terus berjalan meski keberadaan seluruh semesta ini kita ingkari. Pengalaman yang dahsyat ini nyatanya membuat kami lebih welas asih. Ada empati yang luar biasa besarnya yang tumbuh dalam hati kita, ketika kita pernah melalui penderitaan. Kami juga lebih menghargai betapa berharganya cinta yang diberikan oleh orang-orang di sekitar kami. Itu yang membuat kami tak pernah menyerah pada kebaikan mas Bayu.

Sekali lagi, tak ada jawaban instant, kita memang harus merangkak dan menggapai masa depan dari hari ke hari. Hanya sesekali kita mendapat wild card dan bisa berlari meninggalkan orang lain. Tapi itu karena legacy, jasa2 orang2 disekitar kita dan kasih Tuhan. Dia yang memegang buku kehidupan. Dia yang mengulur benang waktu. Hingga pada saatnya benang itu harus digunting dan kita kembali kepadaNya.

Aku seperti bangun dari mati suri yang panjang. Hidup ini memang seharusnya adalah kepasrahan. Hidup juga sebuah ikhtiar. Tuhan adalah Kekejaman, tapi tak disangkal lagi bahwa Dia adalah Kasih sayang dan Cinta. Ia tak pernah terpisah antara satu dimensi dengan yang lainnya. Aku tak berhak menafsirkannya dalam fikiran yang kalut. Karena dalam kejernihan pikiranpun Ia terlalu Agung untuk kita cerna.

Lebih dari sepuluh tahun kami sekeluarga berjuang melewati fase-fase paling kritis dalam kehidupan kami. Akhirnya mas Bayu berangsur-angsur sembuh.

Di suatu sore yang tenang ia bertanya:
"Do, gue bisa ngajar lagi nggak ya? Gimana gue bisa nyari makan?"
"Udah tar aja kita pikirin itu Yu, yang penting kita santai dulu sekarang...", kami berdua tersenyum kosong. Aku masih tak punya jawabannya. Mungkin kita semua harus menunggu lebih lama hingga kado itu akhirnya benar-benar dapat dibuka. Tapi aku mulai bisa mensyukuri ketenangan dari sekarang.



-----------------
Bogor, 8 Mei 2008


Cerita ini didedikasikan untuk kakakku Mas Bayu dan para penderita skizofrenia dan keluarganya. Untuk tetap semangat menghadapi penyakit dahsyat ini. Semoga dengan cinta dan kasih sayang, suatu saat kita bisa menata kembali kehidupan. Tetap Semangat!

Semoga jangan terjadi pada keluarga lain di dunia ini.