Monday, June 13, 2005

Menuju sang Mahameru

Kami sudah menduga kabut akan menghambat perjalanan kami. Tapi tak seorangpun bisa menyangka kabut datang demikian tebal menutupi jalan didepan kami. Langit malam yang indah masih bisa terlihat disela2 pucuk pepohonan, tapi cahaya bulan tak mampu menembus asap putih yang mengambang memenuhi permukaaan tanah. Dengan berbekal nyala senter kami berjalan tersaruk-saruk melewati jalan setapak yg tertutup semak belukar. Petugas di pos pendakian mengatakan kami salah satu tim pertama yang mendaki Semeru musim ini, setelah beberapa bulan ditutup untuk pemulihan ekosistem.

Kaki Rio menendang-nendang kedepan, sekan meraba2 jalan yang ada dibawah rerumputan. Senternya sudah sejak tadi meredup karena basah. Namun ia tetap berjalan cepat menyusul rekan-rekan yang berada satu bukit di depan.

"Ooooi", Rio meneriakan sesuatu.
"Ooooi", Suara senada menyahut didepan dan menyusul satu lagi di belakang. Hatinya sedikit tenang. Ia tidak terpisah terlalu jauh dari yang lain. Ia bukan orang bernyali kecil, tapi petugas jagawana tadi mengingatkan adanya jejak tahi macan tutul di daerah ini beberapa hari yang lalu. Meski naluri dan indra binatang akan menjauhi manusia, tapi ia tak mau mengambil banyak resiko. Apalagi di sebelah kiri mengangga jurang yang dalam dan dipenuhi belukar.

Celana nya basah hingga ke pinggang oleh embun, kaus yg dikenakannya juga basah kuyup oleh keringat. Dibetulkannya topi baseballnya sebentar lalu beranjak maju. Ia akan menaklukan satu tanjakan di depan baru mulai beristirahat. Terlihat lamat-lamat beberapa cahaya di atas. Rio bergegas. Rupanya Rudi dan kawan-kawan sedang beristirahat juga. Dijatuhkannya ranselnya, lalu duduk berkeliling.

"Sedikit lagi nyampe Jack. Tuh tinggal naek dikit lagi trus belok kanan sampe di Ranu Kumbolo", Razak menyodorkan sebotol aqua. "Kita ngecamp di Ranu Kumbolo, baru besok lanjut ke Arcopodo. Kalo nggak sempet paling kita ngecamp di kalimati".

Rio mengangguk sembari mengatur nafasnya pelan-pelan. Kondensasi mengubah kabut menetes menjadi gerimis besar-besar. Kami berlima masih enggan bangkit, dan berbincang2 sambil mengunyah "kuncian" ala kadarnya. Dingin mulai merasuk kulit karena kami tak bergerak. Sesekali kami tergelak saling mengejek.

"Oooi", suara Joe terdengar begitu dekat. Pantangan memanggil nama kawan kita di hutan rimba. Takut danyang, peri perayangan mengenalinya dan meniru teriakan kita untuk menyesatkan.

Rudi bangkit mengangkat ransel, "Yuk lanjut, jam dua belas nyampe di Ranu Kumbolo, Joe udah deket tuh". Kami melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama, terlihat hamparan kabut di lembah yang luas. Warna putihnya begitu misterius dikaki kegelapan malam. "Itu Ranu Kumbolo, pesanggrahan sang Puntodewo".

Rio terpana. Sementara angin bertiup menyusuri lereng turun menuju lembah. Tubuh kami yang panas kelelahan tak dapat lagi menahan dinginnya hawa gunung. Danau Ranu Kumbolo terbentang diatas ketinggian lebih dari 2600m dpl. Konon di saat hari-hari terdingin kemarau, kita akan melihat salju turun.

Di kejauhan terlihat api unggun, lampu-lampu dan kompor para pendaki yang sedang ngecamp. Inilah saat terbaik menikmati kopi panas dan makanan hangat sembari mendirikan tenda dan mengatur tempat menggelar kantung tidur yang nyaman. Rio tak tahan lagi, dengan sisa-sisa nafasnya ia berlari menuruni lembah yang licin karena embun. Beberapa kali ia terpeleset, namun ia bangkit dan menyusul sobatnya.

"Kita jangan ngecam disini man! Lanjut ke depan lagi, ada pos pendakian. Kita ngecamp di dalem pos aja kalo masih ada tempat", seru Hanif.
"Ayo deh, buruan. Gila dingin banget nih!", jawab Rio menggigil. Dalam kondisi seperti itu, memang lebih baik terus bergerak agar tubuh tetap panas.

Akhirnya tepat tengah malam mereka tiba di pantai Ranu Kumbolo. Jarak pandang hanya beberapa meter. Rio dkk segera membongkar ransel dan mendirikan tenda. Yang lain menyalakan kompor dan mulai menjerang air untuk membuat kopi dan mie instant. Telapak tangan kami kebas kedinginan. Begitu tenda tegak berdiri, kami berganti pakaian. Hanya sepatu yang terpaksa tetap kami kenakan. Setelah makan, baru bisa dilepas untuk beristirahat masuk kantung tidur hingga pagi.

***

Ini bukan perjalanan pertama Rio. Sebelumnya ia pernah menjejakkan kaki ke beberapa puncak gunung. Tapi Semeru, atau disebut Mahameru adalah tanah tertinggi di tanah Jawa. Ia belum pernah menjadi siapa-siapa sebelumnya. Barangkali kali ini ia bisa menjadi yang tertinggi. Ia ingin merasakan kemewahan itu meski hanya sesaat.

Namun didalam lubuk hatinya tertanam perasaan yang mendalam. Harga diri Rio sedang berada di titik terendah. Cintanya kepada gadis yang menarik hatinya tak bertepuk. Sesungguhnya Rahma belum lagi memberikan jawaban. Gadis itu ada hati dengannya, tapi ia merasa masih terlalu muda. Ia perlu waktu beberapa saat untuk menikmati masa remajanya sebelum mengikatkan cintanya. Rio bimbang, rasa takut akan kehilangan Rahma mendominasi pikirannya. Ia telah kecewa sebelum tau jawaban sesungguhnya.

Pendaki adalah segelintir makhluk romantis. Mereka memang bukan pesolek yang mempesona lewat rupa, atau penyair yang merayu lewat kata. Mereka anak alam yang meluapkan cinta dengan melihat keindahan Tuhan dari dekat. Semilir angin gunung adalah jatidirinya yang sejati.

"Rio, ketenangan itu adanya disini nih, di dada loe sendiri, di hati loe", ucap Lina, sobat karibnya tersenyum. "Bukan jauh-jauh naek gunung, bikin capek. Cari bahaya, cari masalah."

"Aku setuju Lin, tapi aku nggak betah disko, main bilyar atau nongkrong di kafe berlama2 untuk menghilangkan penat disini," jawabnya. Ia meletakkan telapak tangannya ke dada. "Saat ini aku ingin pergi jauh, melihat dunia dari puncak gunung. Mungkin itu terdengar seperti melarikan diri dari kenyataan buatmu. Tapi itu satu2nya hal yang bisa menghiburku saat ini."

Lina terbahak, ia memanggil pelayan dan memesan minuman buat Rio. "On my treat, friends". Begitu katanya.

***

Semua sudah berkemas. Rio dan kawan-kawan menyempatkan diri berfoto di latar Ranu Kumbolo. Sinar matahari membias diseberang, pantulannya membentuk huruf X di atas air. Cuaca sangat bagus, langit biru bersih menyinari tebing-tebing hijau yang melingkari danau ini. Beberapa pemancing menarik kailnya yang digigit ikan mujair. Seorang bapak berteriak gembira, mendapatkan ikan karper yang cukup besar.

Jam 10 siang, kabut sesekali menutup permukaan air. Kami segera berangkat. Perjalanan ini dimulai dengan mendaki Tanjakan Cinta. Sebuah tanjakan panjang yang melindungi padang savana luas, Oro-oro Ombo disebaliknya.

"Nanjaknya pelan-pelan aja. Jangan sampai berhenti", Mas Boed berteriak. Konon siapa yang dapat melewati tanjakan ini tanpa berhenti, ia akan dikaruniai cinta. Dan sejak bertahun-tahun para pendaki menapaki jalurnya, hanya sedikit yang bisa mencapai puncaknya tanpa istirahat.

Tidak juga buat Rio. Ia melepaskan ranselnya untuk minum dan beristirahat sejenak setibanya di puncak. Namun siapapun yang pertama kali menciptakan kisah itu, pasti ia orang yang beruntung karena dapat menikmati pemandangan dibalik tantangan itu. Oro-oro Ombo dipenuhi bunga2 hutan dan rumput setinggi badan dilatari pokok-pokok pinus kaki Semeru. Dari kejauhan terlihat terlihat sobatnya meyusuri jalan setapak membelah padang. Disinilah salah satu padang perburuan harimau jawa di jaman dahulu.

***

"Hayoo jack dikit lagiiii!", Ardi berteriak memberi semangat. Mereka memulai "summit attack" sejak jam satu malam tadi dari kali mati dimana mereka membuka camp disela pohon pinus gunung. Memang bukan tempat yang benar-benar ideal. Namun jauh lebih baik dari padang terbuka di kali mati. Apa boleh buat, rencana mereka membuka camp di Arco Podo terpaksa diurungkan. Beberapa pendaki yang baru saja turun mengabarkan camp di Arcopodo penuh. Hampir tak mungkin membuka tenda untuk 15 orang lagi. Setelah makan malam, semua beristirahat, sebagian terpaksa bergadang karena harus bangun lebih awal untuk menyimpan waktu lebih banyak untuk muncak. Karena waktu sangat terbatas, lepas jam 9an arah angin berubah dan membawa asap letusan kawah yang beracun ke puncak mahameru. Tak ada yang benar2 bisa beristirahat tenang malam itu.

Berbekal makanan minum seadanya seluruh rombongan muncak jam 1 malam. Kali ini mesti ekstra hati2, jalur ke Arcopodo banyak yang longsor. Salah pijak akan langsung terguling ke sungai lahar. Kepala terantuk batu, nyawa taruhannya. Lepas arcopodo, kami melewati Kelik. Salah satu titik paling berbahaya menuju puncak Semeru. Tengkuk bergidik dan hati menciut melihat nisan "in memoriam" begitu banyaknya. Kelik adalah salah satu korban, ia tak pernah diketemukan.

***

Rio melihat sebuah celah besar ditebing. Ia harus mencapai celah itu. Ia menghitung kuat kuat dalam hati.

"Satu, Dua, Tiga!", tiga langkah naik, dua langkah merosot turun. 1,5 kilometer dari Cemoro tunggal, batas vegetasi, 7 jam naik tapi ia belum lagi mencapai puncak. Batu-batu lahar sebesar kerbau dan abu vulkanis yang halus dan licin sangat tak bersahabat. Tangannya membeku memegang abu dan batu yang dingin lembab.

Ia menengok ke bawah, Doni tak kelihatan. Ia tertinggal jauh. Mereka tak beruntung dapat melihat matahari terbit di puncak. Tak apa, masih tersisa barang dua jam untuk bisa ke sana. Rio berlari merangkak, membenamkan bootsnya di abu vulkanis yang halus. Sambil sesekali merunduk menghindari asap dan kerikil yang terlontar dari letusan kawah.

"Selamat Rio! Kamu berhasil mencapai puncak tertinggi di Jawa!", Mas Boed menjabat erat tangannya. "Mulai saat ini puncak gunung yang lain di tanah ini tak terlalu berarti!"

Rio tak mampu berkata-kata. Mungkin ia ingin menangis, tapi ia hanya bisa tertawa gembira. Ia jabat tangan semua sobatnya dan pendaki-pendaki lain. Dengan tersengal, ia berjalan cepat mengelilingi puncak Mahameru. Ia pandangi seluruh Jawa dari langit. Seluruh sobat menariknya berfoto didepan nisan Soe Hok Gie dan letusan Jonggring Saloko.

Tepat jam sembilan semuanya sudah mencapai puncak. Perjalanan panjang menuju rumah menunggu mereka. Satu-satu semuanya menuruni gunung. Rio menghirup angin dalam-dalam dan tersenyum.

"Rahma, aku mencintaimu".

Angin bertiup perlahan membawa pesan indah itu. Begitu ikhlas tanpa mengharap balasan.


Jakarta, June 13, 2005

Saturday, June 11, 2005

Si Lugu

"Loe mo beli mobil apa mo baca nah ini dia Gus?" kata Irma sambil tertawa. Tangannya membalik-balik halaman koran yang tampak caur dengan warna tinta yg semu. Aku tertawa terbahak-bahak lalu menekan gas melewati lampu merah.
"Iseng2 aja Ma, liat2 iklan, duit sih kagak ada, hahaha", jawabku sekenanya. "Sekedar nyari ide aja, loe tau kan gw suka dagang..."
Irma ikut tertawa mendengar jawabanku. Matanya masih mencari-cari apa yang menarik di koran yang aneh itu.

***

Yah ini memang koran aneh, perpaduan antara berita kriminal dan iklan baris yang tak ada habisnya. Segala barang ada di dalamnya. Mulai dari handphone, mobil atau motor bekas, hingga tanah dijual. Bagi yang penat dengan kehidupan kota, silahkan juga lihat iklan pijat asoy atau mencari paranormal biar cepat kaya dan tersohor. Bahkan beberapa kali aku membaca sebuah komentar yang mengkritik masalah korupsi dari sebuah kolom yang dikelola oleh seseorang yang pernah menjadi bagian dari pemerintahan yang sangat korup.

Sayang lembergar semakin menciut. Padahal sudah begitu lama kami membacanya. Rasanya lembergar satu2nya yang begitu setia menghibur setiap hari saat ku kecil dulu. Masih teringat penjual koran yang setiap pagi mengantarkan koran ke rumah dengan sepeda jengkinya. Anak muda yang berusaha membayar uang kuliahnya dari berjualan koran. Dan pedagang2 sayuran di depan rumah yang berebutan membaca si Doyok. Sebuah satir kecil terhadap kondisi saat itu.

Kini, orang membeli poskota hanya untuk iklannya, nah ini dia atau liputan khusus ke tempat2 klenik atau mesum di pojok kiri bawah. Berita kriminal, bencana, atau berita heboh lainnya diexpose besar2 di halaman muka. Intinya tentang sulitnya cari duit, keruwetan hubungan antar manusia, seks, dan bobroknya pemerintahan. Sebuah koran yang sesuram penampilannya.

Namun aku tetap sesekali membelinya. Ia seakan menjadi sebuah rutinitas yang unik dari hari-hariku yang membosankan.

Seperti pagi ini. Udin dkk, penjual koran di perempatan cawang bawah berlarian mengejar mobilku yang melambat.

"Poskota bos? Atau lipstik hahaha..?", Mulutnya tertawa lebar karena berhasil sampai lebih dahulu di samping ku. Tangan kanan menyodorkan poskota, sedang yang satunya mengangkat tumpukan koran didekapannya untuk menunjukkan pose hot seorang wanita dari sebuah tabloid. Ia berusaha menggodaku.

"Berapa? 1000 kan?", tanyaku sambil tersenyum.
"1500 boss, gak dapet 1000", katanya.
"Ah elo tuh, ama langganan gitu, udah nih 1000", kuambil koran di tangannya. Ia hanya tertawa sambil meluruskan lembaran uang itu.

Kami sering mengobrol, meski waktu kami singkat. Dengan Udin atau kawan2 yang lain. Pembicaraan basa basi saja. Tapi bisa membuat kami tertawa atau sedikitnya tersenyum. Beberapa waktu kemudian, uang seribu rupiah itu menjadi cukup berharga. Meski aku tak membacanya, aku juga tak merasa menolong mereka. Kurasa aku hanya berusaha mencuri hiburan.

***

Dulu kupikir, berita2 di poskota bohong belaka. Sekedar kebisaan redaksi membuat cerita agar korannya laris. Tapi kini seringkali mengejutkan. Karena apa yang kubaca disini, kemudian diliput oleh berbagai stasiun TV. Hal itu membuatnya begitu nyata dan dekat dengan kehidupan.

"Criiing!", sebuah pop uw window muncul di layar ku. Privat message dari Linda sobatku di UI."Oi!", begitu isinya dan kujawab dengan "Oi!" juga.
"Gw mo cerita nih! Temen gw lakinya kawin lagi! Loe tau gak gimana caranya cerai?", lanjutnya.
"Detilnya gw gak tau, tapi kayaknya mesti ke pengadilan agama. Loe tanya2 aja dulu, di depok kan ada pengadilan agama", ketikku.
"Temen gw bego nih, suaminya kawin lagi ama penjual jamu keliling, dan taunya sekarang udah punya anak. Emang sih sama temen gw gak punya anak. tapi gw saranin minta cerai aja", katanya lagi."Tapi dari dulu emang mesum tuh lakinye. Semua orang kantor dah tau. Malah pernah kepergok bawa cewe di mobil."
"Laki gitu mah ceraiin aja".
"Thanks ye", percakapan kami tak panjang, Linda harus segera pergi karena dipanggil bossnya.

***

"Criiiing", sebuah pop up windows muncul lagi dari Linda.
"Gw abis dr pengadilan agama nih, nemenin temen gw masukin gugatan cerai", katanya. "Bisa kok ternyata, meskipun suaminya gak mau nyeraikan dia".
"Loe tuh kerajinan amat nemenin orang cerai segala?", ketikku.
"Lah gw kan sekedar menolong, pengen berbuat baek? Lagian gw udah ijin ama Hendro", Linda ngeyel.
"Eh, temen sih temen tapi yg sewajarnya aja. Kalo loe susah belon tentu dia mau nolong", kataku.
"Manusia kan makhluk sosial", Linda masih ngeyel.
"Iye tau, itu emang baek. Tapi inget loe orang biasa. Loe kan punya anak yg masih kecil2 pula. Lagian loe yang cerita sendiri, temen loe itu dulu kalo dikasih tau malah suka ngomong ke suaminya sampe dia marah ama loe. Kejadian gitu kan kebodohannya dia juga. Tar kalo suaminya pikir loe yg nyaranin cerai berabe loh! Bantu supaya dia mandiri aja lah. Ati2 jaman sekarang orang aneh2."
"Iye juga sih", Linda manggut2 dari jauh. "iya deh dek, thanks. Gw udahan dulu ye, Hendro jemput nih". Sekilas kemudian Yahoo messengernya off.

Aku bersiap pulang juga. Kulipat poskota di meja kerjaku.
"Pedagang kelontong mengadu ke Propan Polda Metro: Bininya dikumpul keboi oknum Polisi.39 Bacokan akhiri hidup supir angkot. Motif diduga dendam."

Wednesday, May 25, 2005

My Religion

My religion is very simple. My religion is kindness
- Dalai Lama

Thursday, May 19, 2005


Panorama khas Taman Nasional gunung Gede - Pangrango pakis hutan, paku dan tanaman epifit lain seperti anggrek. Foto diambil dalam perjalanan pulang antara Kandang Batu - Air Panas. Kamera King Regula IIId Rangefinder. April 2005.  Posted by Hello

Junko Tabei

Suatu hari, seorang gadis mungil diajak mendaki gunung oleh guru disekolahnya. Saat itu ia genap berumur sepuluh tahun. Karena postur tubuhnya yang tak seberapa, gadis mungil itu dianggap rapuh oleh teman sebayanya. Namun perjalanan hari itu ke Mt. Asahi dan Chausu, tempat yang begitu tinggi dan indah, kemudian mengubah hidupnya. Siapa sangka 26 tahun kemudian ia menjadi wanita pertama yang mencapai puncak dunia, Mt. Everest.

Tahun 1939, Junko Tabei lahir di Prefektur Fukushima, semacam kota kabupaten di Jepang. Semasa kuliah di Showa Women's University dimana ia belajar Sastra Inggris, ia aktif dalam kelompok pendaki gunung atau semacam pecinta alam di sini. Kemudian, setelah lulus di tahun 1969, ia mendirikan klub pendaki wanita, Ladies Climbing Club: Japan(LCC).

Junko Tabei sangat mencintai keindahan alam pegunungan. Lagipula mendaki bukanlah olah raga kompetisi, sehingga ia dapat menekuni perjalanan selangkah demi selangkah menurut kemampuannya sendiri. Mendaki juga bukan pacuan, baik dengan orang lain, dengan waktu atau alam. Ia adalah proses menikmati alam itu sendiri. Itulah yang mebuatnya mencintai olahraga ini.

Di tahun 1975 setelah menempuh latihan berat, Junko memimpin pendaki wanita Jepang mendaki puncak Everest. Pendakian ini sejak awal merupakan perjuangan yang maha berat. Ia harus menghadapi banyak penolakan dari pihak sponsor. Zaman itu tak ada yang percaya bahwa wanita bisa mencapai tempat tertinggi di bumi, Mt Everest. Perusahaan demi perusahaan menepis Junko. Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya. Hingga pada akhirnya, surat kabar Jepang Yomiuri Shimbun dan Stasiun TV Nihon Television bersedia mendukung ekspedisi wanita ke Everest.

Dari Jepang mereka bertolak ke Kathmandu. Junko dan kawan-kawan merekrut sembilan orang sherpa untuk memandu pendakian melalui rute yang sama yang dilalui oleh Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay di tahun 1953 silam. Namun tantangan tak berhenti menghadang. Di awal May, tepatnya 4 May 1975 ketika Junko, empat orang anggota tim dan sherpa sedang beristirahat di kemah pada ketinggian 6300 meter terjadi bencana Avalanche. Seluruh tim tertimbun salju dan bongkahan es. Junko sendiri sempat jatuh pingsan selama beberapa menit sebelum salah seorang sherpa menyelamatkan nyawanya dengan menggalinya keluar dari timbunan salju.

Namun wanita mungil itu tak kenal menyerah. Sejak Avalanche itu Junko bahkan semakin bersemangat untuk menaklukan gunung itu. Setelah memastikan semua anggota timnya selamat mereka melanjutkan pendakian. Junko mendaki hingga badannya penuh luka, memar dan hampir tak mampu lagi berjalan. Namun ia memimpin tim nya dengan merangkak, merayap, dan berjalan dengan lututnya. 12 hari setelah bencana Avalanche itu, Junko Tabei menjejakkan kakinya di titik tertinggi Everest. Ia menjadi wanita pertama di dunia yang mencapai puncak dunia.

Namun prestasi hebat itu belum menghentikannya, ia bercita-cita mendaki gunung di seluruh negara di dunia. Pada usia ke 53 ia telah mendaki 69 gunung di berbagai negara. Dan ia juga tercatat sebagai wanita pertama yang mencapai Seven Summit yaitu tujuh puncak tertinggi di dunia.

Meskipun tak banyak yang mengetahui namanya, langkah mungil Junko Tabei, memberi makna bagi tekad dan kekuatan bagi kaum wanita. Sebagaimana layaknya wanita Asia ia juga sangat mencintai keluarganya. Dalam berbagai kesempatan Junko mendaki gunung Fuji dan beberapa gunung lain di jepang bersama suaminya. Kini di usia tuanya, ia melanjutkan kecintaannya pada alam dengan aktif dalam Himalayan Adventure Trust of Japan, sebuah organisasi global untuk kelestarian gunung.


Diterjemahkan dan disarikan dari berbagai sumber.

Hari Kartini dah lewat, tapi gak papa kan kalo gw dedikasikan buat kaum hawa di Indonesia? :-)

Friday, May 06, 2005

Persistence

"Nothing in the world can take the place of persistence.
Talent will not; nothing is more common than unsuccessful men
with talent. Genius will not; unrewarded genius is almost a
proverb. Education will not; the world is full of educated
derelicts."
--Calvin Coolidge