Ada suatu masa dimana kami cukup miskin. Sehingga untuk memberi makan 7 orang anak yang masih kecil2 terasa sulit. Belum lagi bila ada keluarga bapak atau ibu dari kampung yang menumpang di rumah kami setahun atau dua untuk minta dicarikan pekerjaan. Bila ibu tidak berdagang kelontong, tak mungkin gaji tentara bisa mencukupi. Tapi ketabahan orang-orang dulu memang berbeda. Saat itu bapak atau ibu jarang mengeluh, bahkan bila mereka yang sudah dicarikan pekerjaan sudah lama melupakan kami.
Waktu kami kasih kecil, dunia jauh lebih sederhana daripada jaman sekarang. Televisi sudah ada, tapi masih menjadi barang langka. Radio tua yang kami punya juga jarang dinyalakan. Karena masih ada hal lain yang lebih mendesak daripada membeli baterai eveready bergambar kucing hitam itu. Bosan juga bolak-balik menjemur baterai di panas matahari hanya untuk memperpanjang usianya beberapa jam saja. Hiburan kami setiap hari adalah membantu ibu membuat kantong beras dari kertas bekas setiap malam. Sampai kami mahir dengan kertas dan kanji. Lain waktu kami menimbang gula pasir dan membungkusnya dengan kantong plastik kecil2, atau membungkus minyak goreng eceran dalam plastik secanting-secanting.
Sore hari, ibu memandikan kami satu-satu, membedaki dengan bubuk talk seakan kami akan pentas opera cina. Beliau menyisir rambut kami satu-satu, lalu memasangkan sendal plastik agar kami bisa berjalan2 ke depan kelurahan Bidara Cina melihat bus-bus besar Mayasari atau Pelita Mas Jaya yang bermoncong panjang melintas di jalan raya. Lalu kami berteriak kepada para kondektur untuk meminta karcis bis yang tak terpakai.
"Paaak Kondektuuur minta karciiis doooong!" teriak kami beramai2. selalu ada saja yang bermurah hati melemparkan satu atau dua gepok karcis bus ke pinggir jalan. Kami segera melompat berebutan seperti pengemis yang berebut sedekah. memang, bagi kami anak-anak kecil, segepok karcis seperti segepok uang. Buat kami warna2 dan tulisannya yang belum lagi dapat kami baca begitu aneh dan itu menjadikannya menarik. Karena itu kami menjadikannya alat barter yang bernilai tinggi. Ada satu dua kali aku beruntung mendapatkan karcis. Tapi karcis itu tidak begitu berguna ditangan businessman bodoh sepertiku.
***
Ketika malam tiba, kami semua harus belajar. Kami semua "nggeloso" di lantai tegel hitam yang licin karena dipel dengan sisa ampas kelapa. Seingatku, bapak atau ibu tidak terlalu keras dalam menyuruh kami belajar. Hanya saja kami tidak boleh terlalu banyak bermain.
Diantara itu ada malam-malam dimana listrik padam. Malam itu jadi sangat berharga. Bukan saja karena kami bebas dari kewajiban belajar, tapi karena di malam seperti itu bapak atau ibu bercerita untuk kami. Di dalam cahaya lilin atau lampu sentir yang redup kami berkumpul di ruang tengah. Kakakku memeluk sudut meja dengan kedua tangannya untuk tempat dagunya bersandar. Yang lain duduk bersandar di bahu ibu, duduk bersila, atau bersimpuh di kaki kursi panjang tempat ibu duduk.
Ibu mengelus rambut adik bungsu yang duduk di atas telapak kaki ibu sambil memeluk kedua betis beliau. Lalu ibu mulai bercerita. ia mengangkat kedua kakinya naik turun, menguncang-uncang adik seperti sebuah ayunan yang lembut. Cerita mengalir melalui sejarah hidupnya waktu kecil bersama nenek, membuka lembar-lembar kisah yang lebih pahit dari masa kecilnya. Dan berakhir dengan dongeng-dongeng kuno yang diingat oleh wanita lugu itu. Salah satunya adalah kisah Jelogro si kurang panarimo.
***
Alkisah di suatu waktu, di suatu tempat, hidup seorang miskin. Ia hidup dari mengumpulkan kayu bakar di hutan untuk dijual di pasar. Hasil penjualan kayu bakar itu hanya cukup untuk makan hari itu. Bila ia sakit atau saat musim hujan tiba, ia tidak dapat mencari kayu. Ia juga tak mampu membeli pakaian yang baik. Bajunya compang-camping. Tinggalnya di gubug reot tepi hutan jauh dari desa. Bilamana ia berjalan menuju ke pasar, orang-orang menjauhinya seraya menghina. Hal itu membuat batinnya tertekan dan selalu mengeluh atas kemalangannya yang berlarut-larut.
Suatu hari berlalu seorang saudagar kaya di pasar tempat ia berjualan. Melihat betapa semua orang menghormati si saudagar kaya, hati si penjual kayu bakar menjadi iri. Benaknya berkata:
"Andaikan aku jadi orang kaya, pasti aku tidak akan dihina seperti ini," katanya. Kemudian ia berdoa kepada Tuhan agar dijadikan orang kaya.
Melihat kesengsaraannya Tuhan berkehendak. Dalam sekejap mata, Ia merubah alur kehidupan dan seperti baru siuman, si penjual kayu bakar mendapati dirinya menjadi orang kaya. Tapi ternyata menjadi kaya, tidak memberi kebaikan pada dirinya. Ia malah sibuk membalas sakit hatinya kepada orang yg dulu meremehkannya. Ia menjadi tinggi hati. Hingga pada suatu saat ada rombongan Raja lewat di jalan kotaraja. semua orang menyingkir dan menundukkan kepala tak terkecuali si penjual kayu bakar. Timbullah keinginan dalam hatinya untuk menjadi Raja. Sekali lagi Tuhan mengabulkan permintaannya menjadi raja.
Tapi menjadi raja tidak membuatnya puas. Ia ingin lebih kuat dan lebih berkuasa lagi. Ia bertanya kepada semua penasihatnya. Apa yang lebih hebat dari seorang raja. Sehingga dalam beberapa kejap saja Tuhan menjadikannya awan yang mendatangkan hujan yang dapat menyapu bumi dalam sekejap. Namun tanpa disangka, angin bertiup membuyarkan awan. Itu membuatnya kecewa dan ingin menjadi angin. Jadilah ia angin. Dengan kekuatannya ia memporakporandakan muka bumi. Ia meniup awan hingga terpencar berarak-arak.
Dengan pongahnya ia berkata menyombongkan diri, "Hahaha, siapa lagi yang lebih berkuasa dariku?"
Awan hanya tersenyum. Angin adalah udara kosong tanpa daya, bila bukan karena mentari. Ia yang menyembunyikan cahaya untuk memberi keteduhan dunia di malam hari demi memberi kehangatan kehidupan di sisi yang lainnya. Matahari yang menarik planet2 dalam tangannya yang tak kasat mata, mengelilingi orbit yang maha jauh. Sang Angin jadi tersadar betapa kekuatannya bukan apa2 dibanding Matahari. Maka mulailah ia memohon kepada Tuhan untuk dijadikan Matahari.
Bukankah tak ada yang lebih murah hati dari Tuhan? Dalam sekejap Tuhan menjadikan si penjual kayu bakar yang hina telah menjadi Matahari. Namun hawa nafsu adalah sumur tanpa dasar, kantong bolong. Betapapun banyaknya diisi, ia tak akan pernah penuh dan selalu minta diisi. Ia berkoar-koar dengan bangganya ke seluruh jagad raya, sebagai sang Matahari, inti daya gerak seluruh semesta. Menghukum planet2 yang membangkang dan menelan asteroid dan komet-komet yang mengejeknya dengan lincah.
Ketika ia sedang sibuk mengacaukan tata surya dengan keangkuhannya, terdengar suara sayup2 dari sebuah bintang yang mungil di kegelapan ruang tanpa batas.
"Wahai matahari, kau bahkan tidak setara dibanding dengan tahi lalatnya Tuhan," bisiknya.
Matahari makin panas oleh angkaranya sendiri. Maka, matahari mbanggel, memberontak dari hukum alam. Ia membatin, ingin menjadi Tuhan!
***
"Tentu aja itu nggak bisa," kata ibu mengakhiri cerita."Tuhan marah, lalu mengembalikannya menjadi penjual kayu bakar seperti sedia kala".
Kami masih melongo menatap wajahnya dalam cahaya redup. Kemudian ibu bangkit dan mengajak kami makan malam. Ia menyendok nasi dari dandhang ke dalam beberapa piring kaleng warna-warni. Beras porase pembagian dari Kodam itu masih hangat mengepulkan bau karung goni yang apek. Bila sedang beruntung, ibu mengajak kita membakar tempe bungkusan atau ikan asin yang dibumbui air garam. Bila tidak, kami bisa membakar terasi atau cukup menaburi nasi dengan garam dan dikepret sedikit air teh hangat biar tidak seret di leher.
Sambil makan bersama, salah satu dari kami bertanya ingin tahu. "Trus gimana terusannya ceritanya bu?"
"Habis, kan sudah jadi penjual kayu bakar lagi. Tapi sekarang dia sadar akan kesalahannya" ibu menutup ceritanya dengan singkat.
Kami tidak begitu paham tentang cerita yang berputar-putar itu hingga waktu yang lama. Tapi rasanya masih lebih sengsara hidupnya si penjual kayu bakar.
**********
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 Hijriyah.
Mohon maaf Lahir dan Batin
Maaf juga kalo ceritanya nggak akurat ya... ;-)
Sunday, October 21, 2007
Tuesday, September 25, 2007
Pak Tukang
Pak Imam menginjak pedal rem Honda CB100nya pelan-pelan. Kemudian ia turun dari sadel dan berjalan membuka pintu pagar rumah kami. Sejenak kemudian ia kembali ke sepeda motornya, mengangkat standar lalu mendorong setangnya memasuki teras rumahku. CB100 berwarna merah itu selalu menarik perhatian orang. Ia merawatnya dengan sangat baik, sehingga bagian2 logam yang dipernickel jadi sangat kinclong. Pernah suatu saat aku bertanya iseng padanya.
"Gak ganti motor baru aja pak?" tanyaku sambil berdiri menyandar tembok belakang rumah.
"Nggak ah mas, itu aja udah cukup," pak Imam meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala. Lalu bergerak meluruskan punggungnya yang letih. Perutnya jadi tampak membusung ke depan. Setelah itu dia sandarkan kedua kakinya ke dinding kolam ikan di depannya untuk sedikit bersantai. "Si kuntul masih bisa lari 70-80 lho. Waktu itu saya dipalangin, trus saya kejar. Pas dari deket nggak taunya cewek. Mukanya ketutupan helm. Yah, nggak jadi deh saya marahin."
Ia memberi nama si kuntul untuk CB100 kesayangannya.
"Setiap di lampu merah saya ditanyain melulu sama anak2 muda. Banyak yang nawar juga. Tapi nggak ah," lanjutnya jual mahal. "pernah saya dipalangin juga sama anak muda, pake motor baru. Saya kejar aja, trus saya marahin. Situ udah bisa naek motor apa belom sih? Kalo belom bisa, belajar dulu. Jangan bawa motor ke jalanan. Kalo mau ngadu, hayo. Tapi jangan adu cepet, saya pasti kalah. Kalo berani adu kepala. Situ ngadep sini, saya ngadep situ," dia bercerita seperti sedang menantang. "Biar saya tabrakin sekalian. Motor saya kan paling berapa juta, kalo dia kan paling nggak 20 juta. Biar ancur sekalian."
"Ampun pak, maaf, nggak sengaja," katanya begitu jawaban anak muda itu.
"Makanya kalo bawa motor jangan sembarangan dong. Hargai orang lain. Saya nih, situ belum ada udah bawa motor. Tapi nyetirnya nggak kayak situ," pak Imam mengakhiri ceritanya dengan kebijaksanaan.
Tapi harus diakui si kuntul memang motor yang istimewa. Ia teman setia pak Imam yang sudah mengantarnya pergi bekerja beribu-ribu kilometer. Dengan menaiki motor tua itu pak Imam bisa menghemat tenaga, waktu dan pengeluaran. Selisih yang sangat berharga untuk keluarga tukang batu seperti dia.
***
Bapak kenal pak Imam dari kakakku. Waktu itu pak Imam bekerja di rumah mertua Mas Sigit. Karena saat ini agak sulit mencari tukang yang baik, akhirnya bapak meminta bantuan pak Imam. Waktu itu kami ingin memperbaiki kamar mandi. Ternyata pak Imam memang pekerja yang baik. Waktu kerjanya disiplin, hasilnya rapi, dan penuh tanggung jawab. Ia juga bisa dimintai bantuan lain-lain.
Sejak pertama kami kenal, ia sudah berpasangan dengan Pak Man. Pria jangkung kurus dengan gigi mulai ompong. Aku tak tau bagaimana ceritanya kerjasama itu dimulai. Yang jelas hingga kini mereka selalu bekerja berdua.
Pak Man lain lagi. Ia pribadi yang agak ruwet. Mungkin karena keluarganya juga sedikit ruwet. Hidup pasti berat untuk mereka. Setiap hari adalah perjuangan untuk survive. Istri dan anaknya sakit. Bahkan tahun lalu anaknya meninggal. Sebenarnya di dalam, ia pria baik. Tekanan kehidupanlah yang membuat kalang kabut.
Yang agak mengganggu, kadang ia mengusulkan ide2nya yang nyeleneh. Payahnya lagi, bapak selalu menganggap ide2 itu sesuatu yang gemilang. Dasar bapak selera ndeso. Jadilah rumah kami nggak keruan bentuknya :D
***
Kali ini pak Imam dan pak Man membantu bapak membuat warung di depan rumah. Karena warung di kanan depan sudah diubah jadi garasi, maka Pak Imam terpaksa menebang pohon rambutan kesayangan yang ada di kanan depan. Warung itu untuk Mas Bayu. Akibat pengobatan untuk skizofrenia yang dideritanya, beberapa kemampuannya jadi menurun. Gerak motorisnya jadi lambat. Kemampuan berpikirnya juga berkurang. Artinya ia disarankan oleh dokter untuk menekuni pekerjaan yang sederhana. Karena itu, meskipun sudah sembuh, kami punya tugas untuk membantunya kembali produktif sesegera mungkin. Berpacu dengan usianya yang makin banyak.
Sudah lebih dari sebulan mereka berdua bekerja keras. Membuat pondasi, merangkai besi beton sebagai kerangka bangunan, membuat kusen jendela dan pintu, memasang keramik, menerapkan atap asbes dan eternit. Hari sabtu kemarin aku membantu pak Man menyambung aliran listrik ke rumah utama. Sedikit-sedikit kelihatan juga bentuknya yang agak ganjil. Lagi-lagi karena ide bapak yang ndeso itu.
Dalam bulan puasa ini, pekerjaan makin berat. Untuk datang ke rumah kami saja, mereka berdua harus berjuang menghadapi macet yg luar biasa. Belum lagi beberapa minggu ini si kuntul ikut ngadat. Udara panas jakarta membuat beban kedua orang tua itu makin berat. Berbuka puasa pun harus di perjalanan. Menambah biaya yang harus dikeluarkan saja.
"Aduh mas, saya jadi terasa lebih capek kalo ngelihat bangunan jadinya kayak begini. Tapi biarin aja deh mas, diemin aja kemauannya bapak begitu, abis susah dibilangin," katanya mengeluh. Agaknya ia tidak setuju dengan gagasan bapak tentang bangunan warung itu.
Aku hanya tersenyum kecut. Aku mengenal keras kepalanya bapak. Kalo diajak berdebat, bisa-bisa suasana rumah ribut melulu. Jadi kami semua sepakat membiarkan saja apa keinginannya. "Iya pak, nggak papa lah. Yang penting nanti kalo udah jadi semoga warungnya laris..." kataku menghibur.
Pak Imam membuka kaosnya yang basah oleh keringat, lalu merebahkan punggungnya ke lantai keramik yang baru kemarin ia pasang.
***
Tanpa terasa waktu melangkah begitu jauhnya. Tanah lapang di depan rumahku yang luasnya berhektar2 telah habis. Dalam beberapa puluh tahun, tanah yang dulunya sawah yang luas, padang rumput tempat ternak kami merumput telah berubah menjadi rumah-rumah besar dan kecil yang semrawut. Sedikit tanah yang tersisa karena pemiliknya tinggal di luar daerah menjadi tempat pembuangan sampah warga sekitar. Tidak ada yang tergerak memikirkan perasaan pemilik tanah itu bila melihat sebidang tanah miliknya berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Semua orang hanya ingin masalahnya sendiri selesai seketika.
Di depan rumahku para tukang batu yang berjongkok menikmati rokoknya itu sedang membangun sebuah rumah megah di petak kosong yang terakhir. Pemiliknya seorang jendral Angkatan Udara yang katanya sedang mempersiapkan masa pensiunnya. Sesekali kulihat pak Jenderal itu menengok pembangunannya dengan harley hitam besar yang menggeram keras.
"Tadi siang ibu ditanyain sama Tono, tukangnya pak Jenderal yang kecil2 itu anaknya, Gus," kata ibu. "Katanya kenapa ibu nggak bilang ke saya aja mau bikin warung? Kalo saya yang ngerjakan pasti udah selesai dari kemarin2. Nggak kayak tukangnya ibu, masang batu setepak aja dua hari."
Tukang-tukang itu bekerja pada seorang kontraktor berpengalaman yang tentu saja memilih anak-anak muda yang kuat sehingga bisa menyelesaikan proyek tepat waktu. Seminggu sebelum puasa, rumah itu harus selesai. Mereka semua akan kembali ke Jawa Timur untuk beristirahat. Setelah lebaran mereka akan kembali ke Jakarta untuk mengerjakan rumah yang lain. Karena ingin membawa uang lebih banyak saat lebaran, beberapa diantara mereka mulai mencari kerja lepas untuk mengisi kekosongan seminggu menjelang hari raya itu. Tapi tentu saja kami tidak menceritakan hal itu kepada Pak Imam dan Pak Man.
***
Sore itu Pak Imam menuntun si kuntul dengan bangga ke luar rumah. Hari ini bapak menyerahkan gaji mingguan kepada mereka berdua. Kami mengantar mereka ke depan gerbang sambil beramah tamah. Biar bagaimanapun kami telah mengenalnya begitu lama. Diantara kami dan mereka berdua sudah terbangun rasa hormat yang bersahaja.
Pak Imam menendang pedal starter CB100 merah hati itu. Mesin menyala dengan tergesa.
"Abis saya bersihin karburator dan businya jadi greng lagi kan mas?" Pak Imam tertawa lebar.
Ia mengenakan helm klasiknya yang lucu sambil memberi waktu pak Man untuk membonceng di belakangnya. Setelah siap, mereka mengangguk serempa.
"Monggo Bu, Pak, pareng rumiyiiin. Pulang dulu mas!" katanya setengah berteriak. Pak Man memamerkan turut memamerkan giginya yang ompong.
Kami mengangguk. Aku setengah tertawa melihatnya memacu si kuntul yang makin tua. Sungguh suatu kehidupan yang penuh semangat.
***
Bogor, 26 September 2007
"Gak ganti motor baru aja pak?" tanyaku sambil berdiri menyandar tembok belakang rumah.
"Nggak ah mas, itu aja udah cukup," pak Imam meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala. Lalu bergerak meluruskan punggungnya yang letih. Perutnya jadi tampak membusung ke depan. Setelah itu dia sandarkan kedua kakinya ke dinding kolam ikan di depannya untuk sedikit bersantai. "Si kuntul masih bisa lari 70-80 lho. Waktu itu saya dipalangin, trus saya kejar. Pas dari deket nggak taunya cewek. Mukanya ketutupan helm. Yah, nggak jadi deh saya marahin."
Ia memberi nama si kuntul untuk CB100 kesayangannya.
"Setiap di lampu merah saya ditanyain melulu sama anak2 muda. Banyak yang nawar juga. Tapi nggak ah," lanjutnya jual mahal. "pernah saya dipalangin juga sama anak muda, pake motor baru. Saya kejar aja, trus saya marahin. Situ udah bisa naek motor apa belom sih? Kalo belom bisa, belajar dulu. Jangan bawa motor ke jalanan. Kalo mau ngadu, hayo. Tapi jangan adu cepet, saya pasti kalah. Kalo berani adu kepala. Situ ngadep sini, saya ngadep situ," dia bercerita seperti sedang menantang. "Biar saya tabrakin sekalian. Motor saya kan paling berapa juta, kalo dia kan paling nggak 20 juta. Biar ancur sekalian."
"Ampun pak, maaf, nggak sengaja," katanya begitu jawaban anak muda itu.
"Makanya kalo bawa motor jangan sembarangan dong. Hargai orang lain. Saya nih, situ belum ada udah bawa motor. Tapi nyetirnya nggak kayak situ," pak Imam mengakhiri ceritanya dengan kebijaksanaan.
Tapi harus diakui si kuntul memang motor yang istimewa. Ia teman setia pak Imam yang sudah mengantarnya pergi bekerja beribu-ribu kilometer. Dengan menaiki motor tua itu pak Imam bisa menghemat tenaga, waktu dan pengeluaran. Selisih yang sangat berharga untuk keluarga tukang batu seperti dia.
***
Bapak kenal pak Imam dari kakakku. Waktu itu pak Imam bekerja di rumah mertua Mas Sigit. Karena saat ini agak sulit mencari tukang yang baik, akhirnya bapak meminta bantuan pak Imam. Waktu itu kami ingin memperbaiki kamar mandi. Ternyata pak Imam memang pekerja yang baik. Waktu kerjanya disiplin, hasilnya rapi, dan penuh tanggung jawab. Ia juga bisa dimintai bantuan lain-lain.
Sejak pertama kami kenal, ia sudah berpasangan dengan Pak Man. Pria jangkung kurus dengan gigi mulai ompong. Aku tak tau bagaimana ceritanya kerjasama itu dimulai. Yang jelas hingga kini mereka selalu bekerja berdua.
Pak Man lain lagi. Ia pribadi yang agak ruwet. Mungkin karena keluarganya juga sedikit ruwet. Hidup pasti berat untuk mereka. Setiap hari adalah perjuangan untuk survive. Istri dan anaknya sakit. Bahkan tahun lalu anaknya meninggal. Sebenarnya di dalam, ia pria baik. Tekanan kehidupanlah yang membuat kalang kabut.
Yang agak mengganggu, kadang ia mengusulkan ide2nya yang nyeleneh. Payahnya lagi, bapak selalu menganggap ide2 itu sesuatu yang gemilang. Dasar bapak selera ndeso. Jadilah rumah kami nggak keruan bentuknya :D
***
Kali ini pak Imam dan pak Man membantu bapak membuat warung di depan rumah. Karena warung di kanan depan sudah diubah jadi garasi, maka Pak Imam terpaksa menebang pohon rambutan kesayangan yang ada di kanan depan. Warung itu untuk Mas Bayu. Akibat pengobatan untuk skizofrenia yang dideritanya, beberapa kemampuannya jadi menurun. Gerak motorisnya jadi lambat. Kemampuan berpikirnya juga berkurang. Artinya ia disarankan oleh dokter untuk menekuni pekerjaan yang sederhana. Karena itu, meskipun sudah sembuh, kami punya tugas untuk membantunya kembali produktif sesegera mungkin. Berpacu dengan usianya yang makin banyak.
Sudah lebih dari sebulan mereka berdua bekerja keras. Membuat pondasi, merangkai besi beton sebagai kerangka bangunan, membuat kusen jendela dan pintu, memasang keramik, menerapkan atap asbes dan eternit. Hari sabtu kemarin aku membantu pak Man menyambung aliran listrik ke rumah utama. Sedikit-sedikit kelihatan juga bentuknya yang agak ganjil. Lagi-lagi karena ide bapak yang ndeso itu.
Dalam bulan puasa ini, pekerjaan makin berat. Untuk datang ke rumah kami saja, mereka berdua harus berjuang menghadapi macet yg luar biasa. Belum lagi beberapa minggu ini si kuntul ikut ngadat. Udara panas jakarta membuat beban kedua orang tua itu makin berat. Berbuka puasa pun harus di perjalanan. Menambah biaya yang harus dikeluarkan saja.
"Aduh mas, saya jadi terasa lebih capek kalo ngelihat bangunan jadinya kayak begini. Tapi biarin aja deh mas, diemin aja kemauannya bapak begitu, abis susah dibilangin," katanya mengeluh. Agaknya ia tidak setuju dengan gagasan bapak tentang bangunan warung itu.
Aku hanya tersenyum kecut. Aku mengenal keras kepalanya bapak. Kalo diajak berdebat, bisa-bisa suasana rumah ribut melulu. Jadi kami semua sepakat membiarkan saja apa keinginannya. "Iya pak, nggak papa lah. Yang penting nanti kalo udah jadi semoga warungnya laris..." kataku menghibur.
Pak Imam membuka kaosnya yang basah oleh keringat, lalu merebahkan punggungnya ke lantai keramik yang baru kemarin ia pasang.
***
Tanpa terasa waktu melangkah begitu jauhnya. Tanah lapang di depan rumahku yang luasnya berhektar2 telah habis. Dalam beberapa puluh tahun, tanah yang dulunya sawah yang luas, padang rumput tempat ternak kami merumput telah berubah menjadi rumah-rumah besar dan kecil yang semrawut. Sedikit tanah yang tersisa karena pemiliknya tinggal di luar daerah menjadi tempat pembuangan sampah warga sekitar. Tidak ada yang tergerak memikirkan perasaan pemilik tanah itu bila melihat sebidang tanah miliknya berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Semua orang hanya ingin masalahnya sendiri selesai seketika.
Di depan rumahku para tukang batu yang berjongkok menikmati rokoknya itu sedang membangun sebuah rumah megah di petak kosong yang terakhir. Pemiliknya seorang jendral Angkatan Udara yang katanya sedang mempersiapkan masa pensiunnya. Sesekali kulihat pak Jenderal itu menengok pembangunannya dengan harley hitam besar yang menggeram keras.
"Tadi siang ibu ditanyain sama Tono, tukangnya pak Jenderal yang kecil2 itu anaknya, Gus," kata ibu. "Katanya kenapa ibu nggak bilang ke saya aja mau bikin warung? Kalo saya yang ngerjakan pasti udah selesai dari kemarin2. Nggak kayak tukangnya ibu, masang batu setepak aja dua hari."
Tukang-tukang itu bekerja pada seorang kontraktor berpengalaman yang tentu saja memilih anak-anak muda yang kuat sehingga bisa menyelesaikan proyek tepat waktu. Seminggu sebelum puasa, rumah itu harus selesai. Mereka semua akan kembali ke Jawa Timur untuk beristirahat. Setelah lebaran mereka akan kembali ke Jakarta untuk mengerjakan rumah yang lain. Karena ingin membawa uang lebih banyak saat lebaran, beberapa diantara mereka mulai mencari kerja lepas untuk mengisi kekosongan seminggu menjelang hari raya itu. Tapi tentu saja kami tidak menceritakan hal itu kepada Pak Imam dan Pak Man.
***
Sore itu Pak Imam menuntun si kuntul dengan bangga ke luar rumah. Hari ini bapak menyerahkan gaji mingguan kepada mereka berdua. Kami mengantar mereka ke depan gerbang sambil beramah tamah. Biar bagaimanapun kami telah mengenalnya begitu lama. Diantara kami dan mereka berdua sudah terbangun rasa hormat yang bersahaja.
Pak Imam menendang pedal starter CB100 merah hati itu. Mesin menyala dengan tergesa.
"Abis saya bersihin karburator dan businya jadi greng lagi kan mas?" Pak Imam tertawa lebar.
Ia mengenakan helm klasiknya yang lucu sambil memberi waktu pak Man untuk membonceng di belakangnya. Setelah siap, mereka mengangguk serempa.
"Monggo Bu, Pak, pareng rumiyiiin. Pulang dulu mas!" katanya setengah berteriak. Pak Man memamerkan turut memamerkan giginya yang ompong.
Kami mengangguk. Aku setengah tertawa melihatnya memacu si kuntul yang makin tua. Sungguh suatu kehidupan yang penuh semangat.
***
Bogor, 26 September 2007
Friday, August 31, 2007
Ciptakan relungmu sendiri
Dalam sebuah diskusi tentang strategi, Ibu Moira Moeliono, peneliti senior kami mengungkapkan tentang "niche" yang beliau terjemahkan secara unik dengan kata "relung". Waktu itu kami membicarakan posisi organisasi kami menghadapi masa depan. Bagaimana di usia melewati satu dekade, organisasi ini mendapat begitu banyak kesempatan namun pada saat yang bersamaan harus menghadapi tantangan yang luar biasa. Betapa semuanya itu membuat kita terperangah sehingga kita harus menarik nafas dalam-dalam, merenung sebelum berfikir untuk menentukan langkah ke depan.
Aku tidak akan membicarakan tentang kantor, karir dan lain-lain. Karena itu bisa sangat membosankan. Aku hanya tertarik dengan "relung" itu. Aku pikir, bukankah akhir2 ini kita juga memiliki masalah yang sama? Begitu banyak perubahan yang kita hadapi di dunia dewasa ini, yang sepertinya "too much that we can handle"?
Aku menghindar dari sebuah pembahasan yang membosankan, tapi malah beralih ke pembicaraan yang lebih klise lagi. Karena itu kalian boleh berpaling ke lembar lain yang lebih menarik daripada membaca pikiranku yang berikut ini.
Perubahan
Kita tak akan bisa lepas dari perubahan. Perubahan itu waktu. Kita dalam kungkungan waktu. Ada yang mengatakan bahwa kemampuan otak dan akal budi manusia itu tak terbatas. Namun kenyataannya, ia begitu kecil. Ia lekang. Karenanya manusia memotong-motong rangkaian panjang keabadian dalam periode2. Dalam detik, menit, hari bulan, tahun, windu, dekade, ulang tahun perak, emas, abad, milenia agar dapat memahami fenomena itu sedikit-sedikit.
Ibu ingat kata pertama yang diucapkan anaknya. Dan ketika anak itu dewasa, ia menitikkan air mata harunya melepas putrinya disunting kekasihnya. Sepasang kekasih mengenang pertemuan mereka untuk menyegarkan cinta mereka yang fluktuatif. Seorang karyawan menunggu hari gajian dengan harap-harap cemas berapa sisa yang dapat ia simpan untuk melanjutkan hidup hingga gajian berikutnya.
Manusia secara naluriah hanya mengingat apa yang menyenangkan mereka saja. Karena itu manusia terbatas. Mereka tidak dapat memahami bahwa rentang waktu adalah rangkaian panjang keabadian. Lihatlah keabadian itu. Di antara kesenangan ada kedukaan. Terpeleset, khilaf dan kesalahan. Atau paduan semuanya. Di antara malam dan siang ada fajar yang dingin dan pagi yang sejuk cerah. Di antara siang yang membakar dan malam yang gelap, ada lembayung senja yang syahdu. Dalam kefanaan cara pandang kita sebagai manusia, cobalah memahami cara pandang Tuhan yang menyeluruh.
Hidup bergerak dari satu titik ke ujung titik yang lain. Dalam pergerakan itu kita merangkak dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Dan pada saat yang bersamaan peristiwa-peristiwa juga berlangsung pada setiap unsur di semesta. Kadang tidak bersinggungan, namun seringkali orang-orang di sekitar kita menyentuh hidup kita begitu mendalam. Mereka menjadi berkah yang memberi keindahan atau sebaliknya meninggalkan luka. Gerakan waktu adalah perubahan itu.
Perubahan harusnya menyadarkan bahwa hidup ini tidak statis, tapi bergerak secara dinamis. Mengikuti gerak itu adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada yang dapat menghindar. Misalnya, kini dunia memiliki internet. Bagi alam, ia hanya sejumput kecil gaya yang menggerakkan semesta. Bagi manusia itu perubahan besar. Ia mengubah cara pandang kita terhadap semua. Ia seperti meredefinisi cara kita bertahan hidup. Seakan untuk hidup, tidak cukup hanya kerja keras dan semangat. Tapi juga kecerdasan dan kesempatan untuk mempelajari dan kemampuan mencerna banyak hal sekaligus.
Dunia digital membuka kesempatan bagi banyak orang. Membuka banyak bidang yang dahulu sangat ekslusif menjadi lebih egaliter. Fotografi jadi lebih mudah buat para pemula. Pemerintahan jadi lebih transparan. Navigasi darat, cukup dengan google earth dari layar pc kita. Dan banyak lagi.
Proses itu menggembirakan, tapi di sisi lain ia juga membuat kita linglung. Karena kecepatan perubahan itu datang, maka sedikit saja kita terlambat, sudah jauh ketinggalan. Begitu banyak informasi, dan tak ada lagi tempat bagi kita untuk berperan. Setiap orang telah memiliki spesialisasinya sendiri. Kita juga dapat melihat keunggulan kreasi manusia yang mengagumkan di belahan bumi yang lain. Sehingga membuat diri kita seakan tak ada apa-apanya, membuat ide cemerlang kita usang. Mendatangkan kekhawatiran sendiri dalam hati kita. Akankah kita dapat bertahan dalam gelombang perubahan? Meski harus tertatih2 mendayung segala daya? Dimanakah kita seharusnya berada?
Sebagai sebuah pribadi, manusia menemukan sarana baru dalam berkomunikasi. Orang-orang yang lebih introvert lebih mudah mengungkapkan perasaannya melalui email, blog, skype dan lain-lain. Orang-orang yang lebih ekstrovert lebih terbuka lagi terhadap ekplorasi perasaannya. Perkembangan social networking site seperti friendster, myspace dkk juga mengungkapkan cara baru bertatap muka. Ia tidak hanya memberi kesempatan kita berjumpa orang-orang yang memiliki kesamaan minat dengan kita, tapi juga memperkenalkan kita pada teman-teman baru dengan spektrum latar belakang yang jauh lebih luas. Melewati batasan lingkaran pergaulan di dunia nyata.
Tapi apakah semua itu membuat sebuah hubungan antar manusia menjadi lebih mudah? Rasanya tidak serta-merta demikian. Bahkan, bila kita tidak dapat mengelolanya dengan baik, dunia kita akan jadi hiruk pikuk.
Relungmu
Apakah itu sebuah ungkapan ketakutan? Mungkin ya. Memang pada hakikatnya manusia selalu ketakutan terhadap ketidak pastian. Sesuatu yang tidak bisa disentuh, dirasa, diduga oleh indranya secara langsung akan diasumsikan sebagai ancaman terhadap eksistensinya. Manusia seringkali terikat begitu akrab dengan wadag kasarnya yang lemah. Sehingga kadang ia lupa menuruti hakikatnya yang lebih mulia di alam rohani.
Bukankah secara rohaniah kita ini adalah percikan keabadian Sang Penguasa Hidup? jadi kenapa kita mesti takut terhadap perubahan? Kita datang dari keabadian, dan suatu saat akan kembali ke alam tanpa batas. Mengapa mesti kuatir?
Hidup adalah keseharian. Selama masih berpijak di tanah, kita akan berbicara atas kekasaran rupa kita ini. Lumrah sekali kalau sebagian besar manusia tunduk pada hukum ini. Dan selama hidupnya akan ditemani oleh kekuatiran2 itu.
Perubahan yang terjadi secara serempak pada setiap unsur semesta adalah kemajemukan hidup. Kemajemukan itu menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Karena ia berada di luar dirinya. Ia tak dapat kita kontrol. Karena itu ia adalah suatu ancaman bagi diri. Kita takut suatu saat jati diri kita akan tenggelam dalam kemajemukan citra individu lain di dunia ini.
Jadi, bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan? Apakah sedemikian rumitnya? Aku tidak dapat menjawabnya. Bagiku semuanya kembali kepada berkah Tuhan yang namanya kemajemukan alias keragaman itu sendiri? Aku memilih percaya kepada kejeniusan Tuhan dengan menciptakan keragaman sesuai kehendakNya tanpa kita minta. Ia seperti ibu yang punya anak banyak. Ia seakan punya anak yang favorit, yang lebih dicintai dibanding anak yang lain. Sehingga membuat kita iri dengan saudara kita. Padahal kasihNya tidak sesempit pandangan kita. KasihNya seperti sumber air yang sejuk abadi. Seperti udara yang tidak kita ketahui asal usulnya tapi membuat semua makhluk hidup bernafas lega. Semuanya kebagian.
Orang-orang tua jaman dulu sering mencoba membantu kita memahami hidup dengan ungkapan2 kuno yang terkesan kolot. Hidup hanya numpang ngombe, mampir minum. Jalani hidup seperti air mengalir dan lain sebagainya. Kita kadang merasa bahwa tantangan hidup kita dewasa ini jauh lebih canggih sehingga ungkapan2 itu seakan tak relevan lagi. Namun proses hidup bukan hal yang baru bagi alam. Ia merupakan pengulangan-pengulangan yang mengikuti pola2 tertentu. Hanya membutuhkan sebuah kelapangan dan kecermatan sudut pandang kita terhadap dunia agar dapat melihat pola-pola itu.
Melalui pemahaman itu kita akan melihat dimana posisi kita dalam permainan. Dari situlah awal kita menjelajah. Jelajahi segala potensimu. Dan barengi dengan keyakinan akan adanya keragaman tadi. Kehadiran kita di dunia ini adalah atas sebuah alasan yang ada di benak Tuhan. Alasan itu adalah keunikan setiap ciptaan. Dalam sebuah ekosistem, semua unsur alam memiliki fungsi tertentu. Seremeh2nya suatu unsur, ada perannya dalam harmoni orkestra kehidupan. Keyakinan itu akan memberi keteguhan dalam hati kita dalam menekuni bidang kita atau memberi kita energi untuk memulai penjelajahan baru melewati rentang kemampuan kita.
Jadilah unik dalam gayamu sendiri. Bila kamu menekuni sesuatu, tekunilah dengan mendalam. Banyak orang yang memiliki perhatian yang begitu luas. Tetaplah demikian, mungkin keluasan pengetahuan adalah keunikanmu. Tapi bila itu membuatmu tidak fokus, pilihlah mana yang benar2 kau suka. Ibarat kamu memilih kekasih, pekerjaanmu, hobimu, perhatianmu atas sesuatu bidang adalah teman yang akan mendampingimu menempuh hidup. Jadi jangan membuatnya membosankan.
Oh ya, ada yang bilang bahwa waktu adalah obat yang terbaik. Oleh sebab itu, manfaatkan waktu2 tertentu untuk merefleksi kehidupan kita. Jadikan tahapan2 hidup sebagai sebuah cermin untuk mendefinisikan hidup kita kembali. Dan mengisinya dengan hal-hal yang lebih menyenangkan lagi. Aku sekali waktu mengakui kebodohan, kekonyolan dan kepicikanku sendiri untuk tidak mengulanginya di lain kesempatan. Tapi justru saat itu aku merasa menjadi manusia biasa dan tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk diterima oleh suatu komunitas. Beauty is in the eyes of beholder. Biarkan penonton dengan asumsinya sendiri. Aku akan tetap memiliki kebebasan untuk mengatakan siapa diri kita sebenarnya.
Aku selalu merasa bahwa pada umumnya orang menyukai orang yang memiliki integritas pribadi. Bagiku itu adalah pedoman sebelum pada akhirnya aku akan menemukan relungku sendiri dalam kehidupan ini. Ini belum lagi membuahkan hasil, tapi baru sebuah ikhtiar belaka, jadi doakan semoga berhasil! ;-)
*******
gak terlalu konek dgn judulnya kan? namanya juga garing2an di siang hari... hehehe
bogor, 4 september 2007.
Aku tidak akan membicarakan tentang kantor, karir dan lain-lain. Karena itu bisa sangat membosankan. Aku hanya tertarik dengan "relung" itu. Aku pikir, bukankah akhir2 ini kita juga memiliki masalah yang sama? Begitu banyak perubahan yang kita hadapi di dunia dewasa ini, yang sepertinya "too much that we can handle"?
Aku menghindar dari sebuah pembahasan yang membosankan, tapi malah beralih ke pembicaraan yang lebih klise lagi. Karena itu kalian boleh berpaling ke lembar lain yang lebih menarik daripada membaca pikiranku yang berikut ini.
Perubahan
Kita tak akan bisa lepas dari perubahan. Perubahan itu waktu. Kita dalam kungkungan waktu. Ada yang mengatakan bahwa kemampuan otak dan akal budi manusia itu tak terbatas. Namun kenyataannya, ia begitu kecil. Ia lekang. Karenanya manusia memotong-motong rangkaian panjang keabadian dalam periode2. Dalam detik, menit, hari bulan, tahun, windu, dekade, ulang tahun perak, emas, abad, milenia agar dapat memahami fenomena itu sedikit-sedikit.
Ibu ingat kata pertama yang diucapkan anaknya. Dan ketika anak itu dewasa, ia menitikkan air mata harunya melepas putrinya disunting kekasihnya. Sepasang kekasih mengenang pertemuan mereka untuk menyegarkan cinta mereka yang fluktuatif. Seorang karyawan menunggu hari gajian dengan harap-harap cemas berapa sisa yang dapat ia simpan untuk melanjutkan hidup hingga gajian berikutnya.
Manusia secara naluriah hanya mengingat apa yang menyenangkan mereka saja. Karena itu manusia terbatas. Mereka tidak dapat memahami bahwa rentang waktu adalah rangkaian panjang keabadian. Lihatlah keabadian itu. Di antara kesenangan ada kedukaan. Terpeleset, khilaf dan kesalahan. Atau paduan semuanya. Di antara malam dan siang ada fajar yang dingin dan pagi yang sejuk cerah. Di antara siang yang membakar dan malam yang gelap, ada lembayung senja yang syahdu. Dalam kefanaan cara pandang kita sebagai manusia, cobalah memahami cara pandang Tuhan yang menyeluruh.
Hidup bergerak dari satu titik ke ujung titik yang lain. Dalam pergerakan itu kita merangkak dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Dan pada saat yang bersamaan peristiwa-peristiwa juga berlangsung pada setiap unsur di semesta. Kadang tidak bersinggungan, namun seringkali orang-orang di sekitar kita menyentuh hidup kita begitu mendalam. Mereka menjadi berkah yang memberi keindahan atau sebaliknya meninggalkan luka. Gerakan waktu adalah perubahan itu.
Perubahan harusnya menyadarkan bahwa hidup ini tidak statis, tapi bergerak secara dinamis. Mengikuti gerak itu adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada yang dapat menghindar. Misalnya, kini dunia memiliki internet. Bagi alam, ia hanya sejumput kecil gaya yang menggerakkan semesta. Bagi manusia itu perubahan besar. Ia mengubah cara pandang kita terhadap semua. Ia seperti meredefinisi cara kita bertahan hidup. Seakan untuk hidup, tidak cukup hanya kerja keras dan semangat. Tapi juga kecerdasan dan kesempatan untuk mempelajari dan kemampuan mencerna banyak hal sekaligus.
Dunia digital membuka kesempatan bagi banyak orang. Membuka banyak bidang yang dahulu sangat ekslusif menjadi lebih egaliter. Fotografi jadi lebih mudah buat para pemula. Pemerintahan jadi lebih transparan. Navigasi darat, cukup dengan google earth dari layar pc kita. Dan banyak lagi.
Proses itu menggembirakan, tapi di sisi lain ia juga membuat kita linglung. Karena kecepatan perubahan itu datang, maka sedikit saja kita terlambat, sudah jauh ketinggalan. Begitu banyak informasi, dan tak ada lagi tempat bagi kita untuk berperan. Setiap orang telah memiliki spesialisasinya sendiri. Kita juga dapat melihat keunggulan kreasi manusia yang mengagumkan di belahan bumi yang lain. Sehingga membuat diri kita seakan tak ada apa-apanya, membuat ide cemerlang kita usang. Mendatangkan kekhawatiran sendiri dalam hati kita. Akankah kita dapat bertahan dalam gelombang perubahan? Meski harus tertatih2 mendayung segala daya? Dimanakah kita seharusnya berada?
Sebagai sebuah pribadi, manusia menemukan sarana baru dalam berkomunikasi. Orang-orang yang lebih introvert lebih mudah mengungkapkan perasaannya melalui email, blog, skype dan lain-lain. Orang-orang yang lebih ekstrovert lebih terbuka lagi terhadap ekplorasi perasaannya. Perkembangan social networking site seperti friendster, myspace dkk juga mengungkapkan cara baru bertatap muka. Ia tidak hanya memberi kesempatan kita berjumpa orang-orang yang memiliki kesamaan minat dengan kita, tapi juga memperkenalkan kita pada teman-teman baru dengan spektrum latar belakang yang jauh lebih luas. Melewati batasan lingkaran pergaulan di dunia nyata.
Tapi apakah semua itu membuat sebuah hubungan antar manusia menjadi lebih mudah? Rasanya tidak serta-merta demikian. Bahkan, bila kita tidak dapat mengelolanya dengan baik, dunia kita akan jadi hiruk pikuk.
Relungmu
Apakah itu sebuah ungkapan ketakutan? Mungkin ya. Memang pada hakikatnya manusia selalu ketakutan terhadap ketidak pastian. Sesuatu yang tidak bisa disentuh, dirasa, diduga oleh indranya secara langsung akan diasumsikan sebagai ancaman terhadap eksistensinya. Manusia seringkali terikat begitu akrab dengan wadag kasarnya yang lemah. Sehingga kadang ia lupa menuruti hakikatnya yang lebih mulia di alam rohani.
Bukankah secara rohaniah kita ini adalah percikan keabadian Sang Penguasa Hidup? jadi kenapa kita mesti takut terhadap perubahan? Kita datang dari keabadian, dan suatu saat akan kembali ke alam tanpa batas. Mengapa mesti kuatir?
Hidup adalah keseharian. Selama masih berpijak di tanah, kita akan berbicara atas kekasaran rupa kita ini. Lumrah sekali kalau sebagian besar manusia tunduk pada hukum ini. Dan selama hidupnya akan ditemani oleh kekuatiran2 itu.
Perubahan yang terjadi secara serempak pada setiap unsur semesta adalah kemajemukan hidup. Kemajemukan itu menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Karena ia berada di luar dirinya. Ia tak dapat kita kontrol. Karena itu ia adalah suatu ancaman bagi diri. Kita takut suatu saat jati diri kita akan tenggelam dalam kemajemukan citra individu lain di dunia ini.
Jadi, bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan? Apakah sedemikian rumitnya? Aku tidak dapat menjawabnya. Bagiku semuanya kembali kepada berkah Tuhan yang namanya kemajemukan alias keragaman itu sendiri? Aku memilih percaya kepada kejeniusan Tuhan dengan menciptakan keragaman sesuai kehendakNya tanpa kita minta. Ia seperti ibu yang punya anak banyak. Ia seakan punya anak yang favorit, yang lebih dicintai dibanding anak yang lain. Sehingga membuat kita iri dengan saudara kita. Padahal kasihNya tidak sesempit pandangan kita. KasihNya seperti sumber air yang sejuk abadi. Seperti udara yang tidak kita ketahui asal usulnya tapi membuat semua makhluk hidup bernafas lega. Semuanya kebagian.
Orang-orang tua jaman dulu sering mencoba membantu kita memahami hidup dengan ungkapan2 kuno yang terkesan kolot. Hidup hanya numpang ngombe, mampir minum. Jalani hidup seperti air mengalir dan lain sebagainya. Kita kadang merasa bahwa tantangan hidup kita dewasa ini jauh lebih canggih sehingga ungkapan2 itu seakan tak relevan lagi. Namun proses hidup bukan hal yang baru bagi alam. Ia merupakan pengulangan-pengulangan yang mengikuti pola2 tertentu. Hanya membutuhkan sebuah kelapangan dan kecermatan sudut pandang kita terhadap dunia agar dapat melihat pola-pola itu.
Melalui pemahaman itu kita akan melihat dimana posisi kita dalam permainan. Dari situlah awal kita menjelajah. Jelajahi segala potensimu. Dan barengi dengan keyakinan akan adanya keragaman tadi. Kehadiran kita di dunia ini adalah atas sebuah alasan yang ada di benak Tuhan. Alasan itu adalah keunikan setiap ciptaan. Dalam sebuah ekosistem, semua unsur alam memiliki fungsi tertentu. Seremeh2nya suatu unsur, ada perannya dalam harmoni orkestra kehidupan. Keyakinan itu akan memberi keteguhan dalam hati kita dalam menekuni bidang kita atau memberi kita energi untuk memulai penjelajahan baru melewati rentang kemampuan kita.
Jadilah unik dalam gayamu sendiri. Bila kamu menekuni sesuatu, tekunilah dengan mendalam. Banyak orang yang memiliki perhatian yang begitu luas. Tetaplah demikian, mungkin keluasan pengetahuan adalah keunikanmu. Tapi bila itu membuatmu tidak fokus, pilihlah mana yang benar2 kau suka. Ibarat kamu memilih kekasih, pekerjaanmu, hobimu, perhatianmu atas sesuatu bidang adalah teman yang akan mendampingimu menempuh hidup. Jadi jangan membuatnya membosankan.
Oh ya, ada yang bilang bahwa waktu adalah obat yang terbaik. Oleh sebab itu, manfaatkan waktu2 tertentu untuk merefleksi kehidupan kita. Jadikan tahapan2 hidup sebagai sebuah cermin untuk mendefinisikan hidup kita kembali. Dan mengisinya dengan hal-hal yang lebih menyenangkan lagi. Aku sekali waktu mengakui kebodohan, kekonyolan dan kepicikanku sendiri untuk tidak mengulanginya di lain kesempatan. Tapi justru saat itu aku merasa menjadi manusia biasa dan tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk diterima oleh suatu komunitas. Beauty is in the eyes of beholder. Biarkan penonton dengan asumsinya sendiri. Aku akan tetap memiliki kebebasan untuk mengatakan siapa diri kita sebenarnya.
Aku selalu merasa bahwa pada umumnya orang menyukai orang yang memiliki integritas pribadi. Bagiku itu adalah pedoman sebelum pada akhirnya aku akan menemukan relungku sendiri dalam kehidupan ini. Ini belum lagi membuahkan hasil, tapi baru sebuah ikhtiar belaka, jadi doakan semoga berhasil! ;-)
*******
gak terlalu konek dgn judulnya kan? namanya juga garing2an di siang hari... hehehe
bogor, 4 september 2007.
Tuesday, July 17, 2007
Rumah
"Keong aja punya rumah, masa kita nggak?" kata ibu padaku suatu hari. Beliau orang yang sangat sederhana. Aku cuma tertawa mendengar ungkapannya itu.
"Iya deh, nanti aku beli rumah beneran deh", jawabku masih tertawa-tawa. "Sekarang kan aku dah punya rumah keong. Kalo kemaleman tidur di jok si merah aja".
Beliau cuma tersenyum, lalu melanjutkan kegiatannya menyiangi sayuran di atas tampah tuanya. Aku ingat sekali waktu kami masih kecil2, kami sering berkumpul mengelilingi tampah. Membantu ibu memilihi beras, menyiangi sayuran, menjemur gaplek, nasi kering atau mengayak tepung beras yang kita tumbuk bergantian di lumpang besi. Ibu akan mengajari kita mencari gabah, kutu beras, atau kotoran berupa kerikil dan beling yang tercampur dalam beras. Lain waktu, ia akan menunjukkan caranya melorot daun katuk dari batangnya yang mungil hingga mengeluarkan bunyi gemeretak yang lucu. Aku tau cara menyiangi bayam atau daun kangkung dengan melihatnya setiap hari. Aku agak jijik menyiangi kulit melinjo, karena kadang banyak ulat di dalamnya. Biasanya untuk mengusir rasa jijik ibu akan menceritakan kisahnya waktu kecil, yang harus bekerja lebih keras dari kita2. Waktu ia harus mengangkut telepong sapi dari kandang ke sawah. Sampai ia lari ketakutan melihat larva kumbang tahi yang sebesar jempol kaki orang dewasa. Ceritanya begitu nyata sehingga kami ikut bergidik karena bayangannya.
Tapi ketika kini aku kenang lagi, semuanya jauh lebih menyenangkan. Kadang ingatan itu membuatku ingin mengulang kembali semuanya dan melakukannya dengan lebih baik. Aku ingin membantu ibu dengan lebih gembira. Aku tidak ingin cemberut karena tidak ingin ketinggalan acara televisi atau main bersama anak-anak lain ke sawah. Aku hanya ingin berkeliling di tampah dengan saudaraku membantu ibu sebisa-bisanya.
"Ado berangkat bu," aku meraih tangan kanannya lalu menciumnya. Ibu tersenyum. Waktu terasa begitu singkat, rambutnya kini telah menjadi kelabu. Manusia memang begitu ceroboh dengan waktu. Padahal kita yang terikat kontrak dengan dia, bukan sebaliknya. Kita membiarkan semua hal berlalu seakan detail momen kehidupan kita itu sesuatu yang sudah seharusnya mengalir begitu saja. We take it for granted. Baru ketika menjadi kenangan, kita menjadi sentimentil, ingin memutar balik waktu dan merengkuhnya kembali. Tapi bila waktu bisa diputar ulang apakah kita akan bisa melakukan hal yang sama dengan lebih baik? Ataukah kita makin menganggap remeh hidup kita? Karena kita bisa mengkoreksinya kapanpun kita mau?
Aku merekam wajah ibu baik2 dalam ingatan. Kubuka pintu pagar. Sementara ibu mengantarku hingga ke pagar. Gantian memandangku pergi menjauh.
***
Di kantor, mitra kerjaku sudah menjadi ibu. Fitri belum lama ini menikah dan cukup beruntung karena segera dikaruniai kehamilan. Menanti kedatangan seorang anak membuat perempuan yang masih kekanak2an itu berpikir tentang banyak hal. Bahkan ia mulai membuat kami bosan dengan email2 forward nya yang isinya soal perkawinan, kehamilan dan sejenisnya. Satu lagi, ia sibuk nyari info soal rumah. Bahkan multiplynya pun isinya tentang website2 iklan rumah. Ya ampuuun...
Tapi kalau hati lagi lapang, aku bisa memahami kekuatirannya. Orang tua mana yang nggak ingin anaknya nyaman? Karena itu aku sekali2 mengajaknya ngobrol soal rumah. Betapa mahalnya sebuah rumah. Apalagi kalau beli di perumahan. Harganya mahal, cicilannya tinggi, luasnya tak seberapa. Obrolan itu mengisi sela2 kesibukan kami melayani pengunjung perpustakaan.
Membosankan, tapi kadang bisa mengungkap kenyataan yang baru kita ketahui. Misalnya tentang daerah mana di bogor yang hawanya masih sejuk. Daerah yang air tanahnya terlalu dalam. Perumahan yang kualitas bangunannya kurang baik. Dan lain sebagainya.
Ibu muda itu ingin cepat2 punya rumah, karena tinggal di rumah mertua tentu saja tidak sepenuhnya enak. Ada saja kekurangannya. Kadang aku sok berpengalaman memberi masukan. Menurutku rumah bisa dimana saja. Bila sepasang pengantin baru mampir di rumah mertua beberapa waktu, itu kan wajar saja. Tinggal bagaimana sikap kita terhadap orang tua baru kita. Fitri setuju soal itu, namun mulai bercerita hal-hal yang tak tercatat dalam buku panduan. Semacam bugs program komputer yang unik pada setiap rumah tangga. Yang muncul begitu saja mengacaukan jalannya sistem yang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Tentang paviliun yg sepi jauh dari rumah utama dan kehadiran keluarga ipar yg lebih membutuhkan. Aku cuma bisa tertegun. Aku kan belum kawin...
***
Kadangkala ada keinginan begitu saja untuk main ke sanggar sebelum pulang ke rumah. Aku stop angkot di dekat stasiun kereta api. Lalu berjalan cepat memasuki koridor baru stasiun bogor. Para penumpang sedikit mengantri di depan loket kumuh untuk membeli tiket. Aku bayar 2000 perak untuk stasiun depok lama. Setelah memilih kereta yang tepat menuju jakarta, sekitar 30 menitan aku sampai di stasiun depok lama.
Sanggarku dulu letaknya dekat pangkalan becak. Disela2 waktu mereka menarik becak, mereka suka mampir dan memainkan gamelan, sendiri atau mengajak teman2nya bergabung. Biasanya mereka cuma mengangguk memberi salam padaku yang sedang duduk di dalam rumah. Aku membalas tersenyum, dan itu berarti persetujuan.
Bagiku, rumah itu tidak menjadi rumah bila gamelan tidak ada yang memainkan. Saat aku tiba di sanggar kira2 menjelang jam 7 malam, satu-satu teman2 penarik becak, supir angkot, pembantu rumah tangga, tukang cuci mobil, semuanya berdatangan. Mereka menempati posisi masing2, lalu melihat ke papan tulis untuk mengingat2 not lagu yang dilatih hari2 lalu. Sebagian masih menikmati kepulan asap rokok atau bercerita tentang tarikan hari ini.
Mas Wandi atau mas Gito mengeluarkan kendhang ke teras.
"Baru dateng mas Bagus?" mas Gito menyapaku dengan ramah.
"Iya mas" jawabku tersenyum. Diletakkannya kendhang sejenak di lantai untuk menyalamiku. Aku berdiri menyambutnya.
"Ini dari kantor langsung?" tanyanya.
"Iya, dari Bogor, Mas. Tadi saya pikir2 mau ke sanggar, jadi turun di stasiun. Langsung naik kereta kesini," jawabku lagi."Monggo, silahkan langsung saja".
Mas Gito tersenyum lalu mengangkat kendhang yang berjumlah 3 buah itu ke teras. Ia baru setahun ini belajar main kendhang, tapi permainannya sudah menakjubkan. Seakan-akan dia terlahir untuk itu. Lalu permainan dimulai. Aku menghirup teh manis hangat yang dihaturkan mas Wawan kepadaku. Kami bercakap2 tentang banyak hal.
Tanpa terasa sudah jam sembilan. Latihan harus berakhir. Itulah kisah yang kami lalui 2 tahun terakhir ini. Saat kami sudah mulai kerasan, justru kami harus pergi. Kontrak rumah sudah berakhir. Di hari terakhir kami di sanggar, aku hanya tersenyum. Sambil berjongkok di teras, aku memandang mas Togar dan mas Wandi yang setia membantu kami pindahan. Bagi orang yang bekerja di jalanan seperti mereka, rumah adalah sebuah impian yang jauh. Mereka punya rumah di kampung, tempat anak dan istri mereka tinggal. Tapi itu hanya anggan-angan yang menghiasi tidur mereka di atas becak atau di emper-emper toko yang dingin.
Saat musim hujan datang, mereka menyatukan dua becak berhadap2an, menutup atap dan kedua sisi samping dengan lembaran plastik. Dan berbagi ruangan jok yang sempit dengan kawannya untuk sekedar dapat tidur dengan kaki lurus. Mas Gito lebih beruntung. Dapat tidur di jok angkot tarikannya. Pakaian dan barang2 disimpan di kos2an yang disewa bersama.
Di sanggar, aku, mas Wawan dan mbak Tuti menganggap mereka keluarga. Saat malam tiba, mas Wawan menggelar tikar tua biar mas Wandi dkk bisa tidur lebih nyaman. Becak bisa di parkir di halaman. Biarpun hidup kasar, budi mereka halus. Mereka selalu menolak kami ajak tidur di dalam. Mereka memilih tidur di teras, atau bila hujan badai, mereka hanya mau tidur di ruang tamu.
"Mas Bagus," kata mas Wandi tiba-tiba."Kalau bisa sih sanggar jangan sampe bubar. Sayang, mas. Biar bagaimanapun caranya pokoknya kumpulane jangan bubar deh".
"Insya Allah, mas," jawabku. "Temen2 jangan kecewa dulu. Kita anggep aja ini istirahat sebulan. Nanti kita usaha lagi bagaimana caranya supaya kita dapet tempat lagi".
Sekali lagi aku cuma bisa tersenyum. Rumah memang bukan cuma tempat kita bisa berteduh dari hujan dan panas. Bukan cuma tempat kita memadu cinta dengan kekasih kita dan beranak pinak. Tapi tempat dimana kita menjadi manusia biasa. Tempat yang menerima kita tanpa pretensi apa2.
***
Aku sudah sebulan ini ngekos setelah hampir setahun bolak balik jakarta bogor dengan mobil merahku. Dulu aku pernah ngekos, mungkin setengah tahun. Tapi karena kota ini begitu sepi, aku pilih menghabiskan waktu menyetir di jalan dan bertemu keluarga. Selain itu dulu aku punya temen bareng pulang, sobatku Nety yang tinggal di Bintaro. Sekarang kontrak kerjanya tidak diperpanjang. Jadi aku merasa iseng juga menyetir sendirian jakarta-bogor.
Singkatnya aku ngekos lagi. Kembali pada kebingungan yang lama. Pulang terlalu cepat dan tidak banyak yang bisa dikerjakan. Membaca buku-buku yg aku bawa dari kantor atau ebook di hp sudah. Keliling2 kuliner kota bogor hampir tiap malam sudah. Jalan2 ke pasar anyar, melihat2 kelinci di emperan kebun raya bogor juga sudah. Akhirnya ikut berenang atau browsing internet di kantor hingga malam.
Untuk membuang waktu, aku blogwalking kesana-sini. Banyak sekali yang menulis dari tempat2 jauh. Satu dua orang sedang belajar di negara seberang bercerita tentang perjuangannya beradaptasi. Aku membayangkan betapa beratnya tinggal di negeri asing yang bahasanya saja susah kita mengerti. Bayi masih lebih beruntung, memang omongannya tidak dimengerti tapi dia nggak perlu mikir nyari duit. Bahkan ia belum punya pikiran.
Sobatku menikah dengan pria bule. Pria holland yang patah hati. Ia bercerai dari istrinya terdahulu yang membawa putranya dan membuatnya bangkrut karena tunjangan untuk anak. Ia beruntung menikah dengan wanita indonesia. Yang begitu baik, setia dan mencintai apa adanya. Aku nggak tau apa sobatku itu dulu sering ke luar negeri atau tidak. Ia hanya bercerita tentang tahun-tahun pertamanya via yahoo messenger. Setidaknya dinginnya cuaca membuat tulangnya ngilu. Waktu kukabari aku bertemu ibunya di rumahnya di tanah abang dia sangat gembira.
Setelah setahun lebih, dia bisa bertahan. Minggu lalu dia lulus kursus bahasa belanda. Katanya dia sudah bisa mengerti banyak bahasa lisan dan membaca dengan baik. Sedangkan menulis memang butuh belajar lebih banyak. Aku rasa, seperti keberuntungan suaminya. Ia juga beruntung menemukan pria yang baik. Yang membuat tempat yang asing sama hangatnya dengan keluarga di tanah air.
Banyak sekali pengalaman yg aku dapet dari blogwalking. Banyak yang memberi semangat, sangat sedikit yang menunjukkan pengalaman pahit selain putus cinta. Padahal pengalaman semacam itu lebih berharga buat kita. Bukan untuk bilang, not in my backyard. Untukku, mendengar cerita bahagia itu menyenangkan, mendengar cerita sedih menjadi sebuah beban. Such a heavy burden to bear. Tapi mendengar orang2 yang survive menempuh kepahitan hidup adalah sebuah inspirasi.
Aku sendiri nggak bisa melupakan masa lalu. Waktu kakakku sedang menderita skizofrenia kronis. Kalau bisa pergi, pasti aku akan pergi. Tapi aku sekeluarga bertahan. Itu memberikan ikatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia membuat kami sadar bahwa hidup begitu ringkih namun sangat berharga untuk kita tempuh. Tak banyak teman yang bertahan dalam kondisi seperti itu, tapi rumah akan selalu menerima kita.
Ada teman yang memiliki pengalaman sangat pahit di rumah. Kembali ke sana hanya mengingatkan dia pada kegetiran itu. Menurutku rumah seperti itu hanya sebutan, bukan rumah sesungguhnya. Rumah yang sesungguhnya akan memiliki makna yang hangat di hati kita. Ada kegetiran, tapi senyum dan kebahagiaan mendominasi batin kita. Di mana kita merasa menjadi lebih bersahaja menghadapi hidup di situ aku akan pulang. Tempatnya bisa lebih dari satu dan bisa dimana saja, tapi bermuaranya hanya di kedalaman hati kita.
Malam itu aku pulang walaupun weekend masih jauh. Ternyata ibuku kena musibah. Tangannya tersiram minyak panas saat menggoreng makanan. Bapak menyuruhku menengok beliau di kamar. Matanya terpejam berusaha untuk tidur. Namun rasa sakitnya sulit dilawan bahkan dengan bantuan obat. Aku memandangnya diam lalu membiarkannya tertidur. Setelah menanyakan keadaannya pada bapak aku sngat bersyukur pulang ke rumah.
Bogor, 18 Juli 2007
"Iya deh, nanti aku beli rumah beneran deh", jawabku masih tertawa-tawa. "Sekarang kan aku dah punya rumah keong. Kalo kemaleman tidur di jok si merah aja".
Beliau cuma tersenyum, lalu melanjutkan kegiatannya menyiangi sayuran di atas tampah tuanya. Aku ingat sekali waktu kami masih kecil2, kami sering berkumpul mengelilingi tampah. Membantu ibu memilihi beras, menyiangi sayuran, menjemur gaplek, nasi kering atau mengayak tepung beras yang kita tumbuk bergantian di lumpang besi. Ibu akan mengajari kita mencari gabah, kutu beras, atau kotoran berupa kerikil dan beling yang tercampur dalam beras. Lain waktu, ia akan menunjukkan caranya melorot daun katuk dari batangnya yang mungil hingga mengeluarkan bunyi gemeretak yang lucu. Aku tau cara menyiangi bayam atau daun kangkung dengan melihatnya setiap hari. Aku agak jijik menyiangi kulit melinjo, karena kadang banyak ulat di dalamnya. Biasanya untuk mengusir rasa jijik ibu akan menceritakan kisahnya waktu kecil, yang harus bekerja lebih keras dari kita2. Waktu ia harus mengangkut telepong sapi dari kandang ke sawah. Sampai ia lari ketakutan melihat larva kumbang tahi yang sebesar jempol kaki orang dewasa. Ceritanya begitu nyata sehingga kami ikut bergidik karena bayangannya.
Tapi ketika kini aku kenang lagi, semuanya jauh lebih menyenangkan. Kadang ingatan itu membuatku ingin mengulang kembali semuanya dan melakukannya dengan lebih baik. Aku ingin membantu ibu dengan lebih gembira. Aku tidak ingin cemberut karena tidak ingin ketinggalan acara televisi atau main bersama anak-anak lain ke sawah. Aku hanya ingin berkeliling di tampah dengan saudaraku membantu ibu sebisa-bisanya.
"Ado berangkat bu," aku meraih tangan kanannya lalu menciumnya. Ibu tersenyum. Waktu terasa begitu singkat, rambutnya kini telah menjadi kelabu. Manusia memang begitu ceroboh dengan waktu. Padahal kita yang terikat kontrak dengan dia, bukan sebaliknya. Kita membiarkan semua hal berlalu seakan detail momen kehidupan kita itu sesuatu yang sudah seharusnya mengalir begitu saja. We take it for granted. Baru ketika menjadi kenangan, kita menjadi sentimentil, ingin memutar balik waktu dan merengkuhnya kembali. Tapi bila waktu bisa diputar ulang apakah kita akan bisa melakukan hal yang sama dengan lebih baik? Ataukah kita makin menganggap remeh hidup kita? Karena kita bisa mengkoreksinya kapanpun kita mau?
Aku merekam wajah ibu baik2 dalam ingatan. Kubuka pintu pagar. Sementara ibu mengantarku hingga ke pagar. Gantian memandangku pergi menjauh.
***
Di kantor, mitra kerjaku sudah menjadi ibu. Fitri belum lama ini menikah dan cukup beruntung karena segera dikaruniai kehamilan. Menanti kedatangan seorang anak membuat perempuan yang masih kekanak2an itu berpikir tentang banyak hal. Bahkan ia mulai membuat kami bosan dengan email2 forward nya yang isinya soal perkawinan, kehamilan dan sejenisnya. Satu lagi, ia sibuk nyari info soal rumah. Bahkan multiplynya pun isinya tentang website2 iklan rumah. Ya ampuuun...
Tapi kalau hati lagi lapang, aku bisa memahami kekuatirannya. Orang tua mana yang nggak ingin anaknya nyaman? Karena itu aku sekali2 mengajaknya ngobrol soal rumah. Betapa mahalnya sebuah rumah. Apalagi kalau beli di perumahan. Harganya mahal, cicilannya tinggi, luasnya tak seberapa. Obrolan itu mengisi sela2 kesibukan kami melayani pengunjung perpustakaan.
Membosankan, tapi kadang bisa mengungkap kenyataan yang baru kita ketahui. Misalnya tentang daerah mana di bogor yang hawanya masih sejuk. Daerah yang air tanahnya terlalu dalam. Perumahan yang kualitas bangunannya kurang baik. Dan lain sebagainya.
Ibu muda itu ingin cepat2 punya rumah, karena tinggal di rumah mertua tentu saja tidak sepenuhnya enak. Ada saja kekurangannya. Kadang aku sok berpengalaman memberi masukan. Menurutku rumah bisa dimana saja. Bila sepasang pengantin baru mampir di rumah mertua beberapa waktu, itu kan wajar saja. Tinggal bagaimana sikap kita terhadap orang tua baru kita. Fitri setuju soal itu, namun mulai bercerita hal-hal yang tak tercatat dalam buku panduan. Semacam bugs program komputer yang unik pada setiap rumah tangga. Yang muncul begitu saja mengacaukan jalannya sistem yang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Tentang paviliun yg sepi jauh dari rumah utama dan kehadiran keluarga ipar yg lebih membutuhkan. Aku cuma bisa tertegun. Aku kan belum kawin...
***
Kadangkala ada keinginan begitu saja untuk main ke sanggar sebelum pulang ke rumah. Aku stop angkot di dekat stasiun kereta api. Lalu berjalan cepat memasuki koridor baru stasiun bogor. Para penumpang sedikit mengantri di depan loket kumuh untuk membeli tiket. Aku bayar 2000 perak untuk stasiun depok lama. Setelah memilih kereta yang tepat menuju jakarta, sekitar 30 menitan aku sampai di stasiun depok lama.
Sanggarku dulu letaknya dekat pangkalan becak. Disela2 waktu mereka menarik becak, mereka suka mampir dan memainkan gamelan, sendiri atau mengajak teman2nya bergabung. Biasanya mereka cuma mengangguk memberi salam padaku yang sedang duduk di dalam rumah. Aku membalas tersenyum, dan itu berarti persetujuan.
Bagiku, rumah itu tidak menjadi rumah bila gamelan tidak ada yang memainkan. Saat aku tiba di sanggar kira2 menjelang jam 7 malam, satu-satu teman2 penarik becak, supir angkot, pembantu rumah tangga, tukang cuci mobil, semuanya berdatangan. Mereka menempati posisi masing2, lalu melihat ke papan tulis untuk mengingat2 not lagu yang dilatih hari2 lalu. Sebagian masih menikmati kepulan asap rokok atau bercerita tentang tarikan hari ini.
Mas Wandi atau mas Gito mengeluarkan kendhang ke teras.
"Baru dateng mas Bagus?" mas Gito menyapaku dengan ramah.
"Iya mas" jawabku tersenyum. Diletakkannya kendhang sejenak di lantai untuk menyalamiku. Aku berdiri menyambutnya.
"Ini dari kantor langsung?" tanyanya.
"Iya, dari Bogor, Mas. Tadi saya pikir2 mau ke sanggar, jadi turun di stasiun. Langsung naik kereta kesini," jawabku lagi."Monggo, silahkan langsung saja".
Mas Gito tersenyum lalu mengangkat kendhang yang berjumlah 3 buah itu ke teras. Ia baru setahun ini belajar main kendhang, tapi permainannya sudah menakjubkan. Seakan-akan dia terlahir untuk itu. Lalu permainan dimulai. Aku menghirup teh manis hangat yang dihaturkan mas Wawan kepadaku. Kami bercakap2 tentang banyak hal.
Tanpa terasa sudah jam sembilan. Latihan harus berakhir. Itulah kisah yang kami lalui 2 tahun terakhir ini. Saat kami sudah mulai kerasan, justru kami harus pergi. Kontrak rumah sudah berakhir. Di hari terakhir kami di sanggar, aku hanya tersenyum. Sambil berjongkok di teras, aku memandang mas Togar dan mas Wandi yang setia membantu kami pindahan. Bagi orang yang bekerja di jalanan seperti mereka, rumah adalah sebuah impian yang jauh. Mereka punya rumah di kampung, tempat anak dan istri mereka tinggal. Tapi itu hanya anggan-angan yang menghiasi tidur mereka di atas becak atau di emper-emper toko yang dingin.
Saat musim hujan datang, mereka menyatukan dua becak berhadap2an, menutup atap dan kedua sisi samping dengan lembaran plastik. Dan berbagi ruangan jok yang sempit dengan kawannya untuk sekedar dapat tidur dengan kaki lurus. Mas Gito lebih beruntung. Dapat tidur di jok angkot tarikannya. Pakaian dan barang2 disimpan di kos2an yang disewa bersama.
Di sanggar, aku, mas Wawan dan mbak Tuti menganggap mereka keluarga. Saat malam tiba, mas Wawan menggelar tikar tua biar mas Wandi dkk bisa tidur lebih nyaman. Becak bisa di parkir di halaman. Biarpun hidup kasar, budi mereka halus. Mereka selalu menolak kami ajak tidur di dalam. Mereka memilih tidur di teras, atau bila hujan badai, mereka hanya mau tidur di ruang tamu.
"Mas Bagus," kata mas Wandi tiba-tiba."Kalau bisa sih sanggar jangan sampe bubar. Sayang, mas. Biar bagaimanapun caranya pokoknya kumpulane jangan bubar deh".
"Insya Allah, mas," jawabku. "Temen2 jangan kecewa dulu. Kita anggep aja ini istirahat sebulan. Nanti kita usaha lagi bagaimana caranya supaya kita dapet tempat lagi".
Sekali lagi aku cuma bisa tersenyum. Rumah memang bukan cuma tempat kita bisa berteduh dari hujan dan panas. Bukan cuma tempat kita memadu cinta dengan kekasih kita dan beranak pinak. Tapi tempat dimana kita menjadi manusia biasa. Tempat yang menerima kita tanpa pretensi apa2.
***
Aku sudah sebulan ini ngekos setelah hampir setahun bolak balik jakarta bogor dengan mobil merahku. Dulu aku pernah ngekos, mungkin setengah tahun. Tapi karena kota ini begitu sepi, aku pilih menghabiskan waktu menyetir di jalan dan bertemu keluarga. Selain itu dulu aku punya temen bareng pulang, sobatku Nety yang tinggal di Bintaro. Sekarang kontrak kerjanya tidak diperpanjang. Jadi aku merasa iseng juga menyetir sendirian jakarta-bogor.
Singkatnya aku ngekos lagi. Kembali pada kebingungan yang lama. Pulang terlalu cepat dan tidak banyak yang bisa dikerjakan. Membaca buku-buku yg aku bawa dari kantor atau ebook di hp sudah. Keliling2 kuliner kota bogor hampir tiap malam sudah. Jalan2 ke pasar anyar, melihat2 kelinci di emperan kebun raya bogor juga sudah. Akhirnya ikut berenang atau browsing internet di kantor hingga malam.
Untuk membuang waktu, aku blogwalking kesana-sini. Banyak sekali yang menulis dari tempat2 jauh. Satu dua orang sedang belajar di negara seberang bercerita tentang perjuangannya beradaptasi. Aku membayangkan betapa beratnya tinggal di negeri asing yang bahasanya saja susah kita mengerti. Bayi masih lebih beruntung, memang omongannya tidak dimengerti tapi dia nggak perlu mikir nyari duit. Bahkan ia belum punya pikiran.
Sobatku menikah dengan pria bule. Pria holland yang patah hati. Ia bercerai dari istrinya terdahulu yang membawa putranya dan membuatnya bangkrut karena tunjangan untuk anak. Ia beruntung menikah dengan wanita indonesia. Yang begitu baik, setia dan mencintai apa adanya. Aku nggak tau apa sobatku itu dulu sering ke luar negeri atau tidak. Ia hanya bercerita tentang tahun-tahun pertamanya via yahoo messenger. Setidaknya dinginnya cuaca membuat tulangnya ngilu. Waktu kukabari aku bertemu ibunya di rumahnya di tanah abang dia sangat gembira.
Setelah setahun lebih, dia bisa bertahan. Minggu lalu dia lulus kursus bahasa belanda. Katanya dia sudah bisa mengerti banyak bahasa lisan dan membaca dengan baik. Sedangkan menulis memang butuh belajar lebih banyak. Aku rasa, seperti keberuntungan suaminya. Ia juga beruntung menemukan pria yang baik. Yang membuat tempat yang asing sama hangatnya dengan keluarga di tanah air.
Banyak sekali pengalaman yg aku dapet dari blogwalking. Banyak yang memberi semangat, sangat sedikit yang menunjukkan pengalaman pahit selain putus cinta. Padahal pengalaman semacam itu lebih berharga buat kita. Bukan untuk bilang, not in my backyard. Untukku, mendengar cerita bahagia itu menyenangkan, mendengar cerita sedih menjadi sebuah beban. Such a heavy burden to bear. Tapi mendengar orang2 yang survive menempuh kepahitan hidup adalah sebuah inspirasi.
Aku sendiri nggak bisa melupakan masa lalu. Waktu kakakku sedang menderita skizofrenia kronis. Kalau bisa pergi, pasti aku akan pergi. Tapi aku sekeluarga bertahan. Itu memberikan ikatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia membuat kami sadar bahwa hidup begitu ringkih namun sangat berharga untuk kita tempuh. Tak banyak teman yang bertahan dalam kondisi seperti itu, tapi rumah akan selalu menerima kita.
Ada teman yang memiliki pengalaman sangat pahit di rumah. Kembali ke sana hanya mengingatkan dia pada kegetiran itu. Menurutku rumah seperti itu hanya sebutan, bukan rumah sesungguhnya. Rumah yang sesungguhnya akan memiliki makna yang hangat di hati kita. Ada kegetiran, tapi senyum dan kebahagiaan mendominasi batin kita. Di mana kita merasa menjadi lebih bersahaja menghadapi hidup di situ aku akan pulang. Tempatnya bisa lebih dari satu dan bisa dimana saja, tapi bermuaranya hanya di kedalaman hati kita.
Malam itu aku pulang walaupun weekend masih jauh. Ternyata ibuku kena musibah. Tangannya tersiram minyak panas saat menggoreng makanan. Bapak menyuruhku menengok beliau di kamar. Matanya terpejam berusaha untuk tidur. Namun rasa sakitnya sulit dilawan bahkan dengan bantuan obat. Aku memandangnya diam lalu membiarkannya tertidur. Setelah menanyakan keadaannya pada bapak aku sngat bersyukur pulang ke rumah.
Bogor, 18 Juli 2007
Sunday, March 11, 2007
Sang Badai
Hujan turun sangat dahsyat. Butir-butir air berukuran besar seperti serbuan senapan mesin menabrak dinding-dinding kayu tua rumah simbok. Mengetuk2 keras hingga suasana dalam rumah kuno itu menjadi riuh. Simbok berlari ke dalam rumah, membawa tampah berisi jemuran gaplek yang hampir kering. Gaplek itu sudah mengering dengan sempurna, warnanya putih rata. Bila tak segera diangkat, besok pasti berjamur. Gaplek itu adalah tandon makanan musim paceklik mendatang. Gaplek dideplok lalu di "dhang" jadi thiwul. Jadi buat Simbok Mar, benda itu berharga seperti emas. Masih ada dua tampah lagi yang harus diangkat. Laki-laki muda itu ikut berlari keluar, menumpuk kedua tampah itu jadi satu dan mengangkatnya segera ke dalam rumah.
"Matur Nuwun Mas," simbok tersenyum. Rambut2nya yang didominasi uban terlihat basah karena hujan. Rio sudah beberapa bulan harus berpindah tempat tinggal. Rumah Simbok adalah tempatnya menginap beberapa minggu terakhir. Tugasnya di lapangan memaksanya begitu. Tapi itu bukan sesuatu yang menyulitkan. Sebaliknya malah menyenangkan. Tidak ada pekerjaan sebaik ini. Menyentuh kehidupan orang-orang biasa adalah sebuah gairah tersendiri baginya. Bahkan jauh sebelum ia memutuskan ikut dengan organisasinya sekarang ia telah menjadikan minatnya itu sebuah hobi. Dalam waktu-waktu senggangnya ia berjalan menyusuri lorong2 kotanya yang kumuh. Menghisap rokok bersama para pengangguran di pos ronda. Turun dalam gotong royong kebersihan kampung. Menghabiskan malam dengan obrolan tak penting dengan para perempuan jalanan di kota. Atau bermain catur dengan para kuli angkut pasar induk. Ia pribadi yang unik. Kedalaman pikirannya sama sulitnya dengan memahami perasaan hatinya.
Tidak, ia bukan pria malas karena memilik keunikan semacam itu. Ia menghasilkan uang yang lebih dari cukup untuk dirinya sendiri. Tapi panggilan untuk tenggelam dalam pernak-pernik kehidupan manusia adalah darahnya sendiri. Daripada berdandan perlente, ia memilih berpakaian sederhana, dengan topi baseball tuanya memanggul ransel berisi kamera analognya yang setia.
"Aku melihat mereka seperti cermin yang berhadapan. Matanya dan mataku memantulkan citra diriku secara berlawanan terus menerus tanpa batas," katanya suatu saat."Mata tak berbohong. Karena hakikatnya ia hanya sebuah alat optik bersahaja yang memantulkan segala sesuatu apa adanya. Hati yang memutuskan, mulut dan laku yang mengejawantahkan".
Ia tak sekedar berfilsafat. Semua orang tahu bagaimana ia menjalani hidupnya dengan jujur. Dia memang berjanji pada dirinya untuk selalu teguh pada kejujuran kamera klasiknya. Hidupnya adalah kumpulan ribuan potret yang diambilnya kemanapun ia pergi. Dalam kamarnya yang redup, berpuluh-puluh potret ditempel di dinding. Mungkin potret-potret itu adalah wakil dari makna hidup yang ingin dicarinya. Tapi untuk menterjemahkan wataknya secara utuh rasanya hampir tidak mungkin.
Di luar hujan makin menggila, bangunan kayu itu berderit keras. Ia meronta melawan terpaan badai yang tak seperti biasanya itu. Wajah Simbok terlihat panik. Ia bergegas ke dalam mengambil selendang tuanya. lalu ia berjalan ke beranda, mengikatkan selendang tuanya ke tiang.
"Lewat, lewat, lewat, lesus gedhe ojo lewat omahku... lewato ratan kono," bibir perempuan tua itu berbicara kepada angin. Angin menderu keras, ujung jariknya tersapu ke samping. Simbok ketakutan dan berlari ke dalam sambil berpegangan pada pintu. Lalu terduduk pada amben dengan lesu. Gantian Lik Gino yang keluar, ia mengumandangkan adzan dengan lantang. Berseru memanggil Tuhan, sang pemilik angin. Rio hanya bisa berdoa dalam hati. Lalu menyodorkan segelas air putih untuk menenangkan Simbok. Badai sedang tak bermurah hati. Lidah-lidah angin menjilat muka bumi dan menelannya seketika itu juga ke langit.
***
Cara hidup seperti itu membingungkan Ade. Pria itu penyayang bukan main. Kesederhanaannya baginya juga sesuatu yang menyenangkan. Rio juga pria yang hangat. Ia mudah dekat dengan siapa saja termasuk sengan sahabat2nya. Dalam kesempatan lain ia juga tak ragu-ragu menggamit lengannya dengan mesra dan memperkenalkannya pada teman-temannya dan bahkan kepada keluarganya di rumah. Ia melakukannya itu semua dengan tulus. Rio tahu, meski Ade mencintainya namun gadis itu tak mau menikah. Bukankah Ade juga memiliki pikirannya sendiri? Pengalaman hidupnya sendiri?
"Hmm," pria itu bergumam mendengar perkataan Ade. Ia memeluk gadis itu lembut. Direkatkannya wajahnya pada dahi kekasihnya. Ade balik memeluk dadanya.
"Hmm apa?" tanya Ade. Pria itu menarik selimut putih menutupi punggung Ade yang terbuka. Mulutnya mencium dahi gadis itu. Ia sayang. Sementara ia berfikir Ade mencium dagunya.
"Cuma hmm aja kok", ia tersenyum.
"Tell me, ayo bilang!" gadis itu merajuk. Kepalanya diangkat, sehingga wajah keduanya berhadapan satu sama lain.
Rio melihat dirinya dalam pupil Ade yang hitam jernih, begitu juga sebaliknya. Diantara mereka zarah-zarah energi mengalir, menyelami pikiran dan semua sel yang tersembunyi.
"Nothing dear. Aku sayang kamu aja kok," katanya singkat. Ade tersenyum, wajah keduanya saling mendekat menjadi sebuah ciuman yang indah. Lalu, mereka bercinta seperti sepasang kekasih yang terpisah bertahun-tahun lamanya. Seperti sepasang camar yang baru menyelesaikan migrasi ribuan kilometer jauhnya melintasi benua. Seperti umat manusia akan punah dan hanya mereka berdua yang akan melanjutkan peradaban ini.
***
Badai terus menerus menggempur. Pepohonan tak mampu lagi meliuk menghindari kekuatan angin. Batangnya membungkuk seperti bersujud takluk. Genting-genting tanah liat beterbangan. Lik Gino memeluk erat tiang. Kumandang adzan terdengar juga dari beberapa tempat. Gusti Allah menggenggam semesta alam dalam tangannya yang lebih lembut dari beledu, Ia mendengar. Angin mereda beberapa menit kemudian. Hanya menyisakan hujan serta puing-puing terserak. Lik Gino berjongkok di kaki tiang. Ia tampak bersyukur semuanya berakhir. Rumah Simbok masih utuh, hanya beberapa genting hilang dan dua lembar seng terbang entah kemana. Pohon2 di pekarangan juga ada yang tumbang. Tapi syukurlah semua selamat.
Simbok kembali tenang. Lik Gino mengecek situasi rumah dan pekarangan lalu minta ijin simbok pergi mengecek ke dusun sebelah. Hari ini Istrinya menengok keluarga di dusun sebelah. Semoga saja istri dan anaknya selamat. Ia menuntun sepeda onthelnya keluar, lalu mengayuhnya dengan cepat menyusuri jalan desa yang becek.
Rio menelpon teman2nya di kota mengabarkan kejadian barusan. Setelah itu ia keluar mengontrol keadaan. Sebuah dahan pohon petai yang cukup besar menimpa kabel listrik menuju rumah simbok. Ia mengamankan ujung kabel itu dengan sebuah potongan bambu kering yang diambil dari dapur. Tak lama para tetangga berdatangan. Mereka saling menanyakan kabar dan membawa berita2 tentang sanak saudara di dusun-dusun sebelah. katanya angin melintas ke arah timur. Simbok masih beruntung, rumah-rumah lain banyak yang roboh atau kehilangan atapnya.
Mereka membereskan segala sesuatunya, menyiapkan lampu sentir dan petromaks untuk penerangan malam ini. Sesorean itu Rio belajar menyalakan petromaks untuk pertama kalinya. Senyum lebarnya mengembang ketika akhirnya lampu itu berhasil menyala dengan terang. Ia menggantungnya di ruang tengah. Dan menempatkan sebuah lampu sentir di dapur untuk menerangi simbok yang sedang masak.
***
"Simbok jadi ingat waktu suami mbok mau pergi," Mbok Mar memulai ceritanya. Mereka sudah selesai makan malam. Simbok menghangatkan sayur lodeh tadi siang, menggoreng tempe yang baru setengah jadi, beberapa potong ikan asin dan sambal yang enak.
"Bapak sudah sakit tiga tahun penuh," lanjutnya. "Habis jatuh dari pohon, bapak sakit terus. Ndak bisa macul, ndak bisa jalan jauh."
Kami semua duduk bersila di tikar pandan lusuh yang digelar diatas lantai tanah. Petromaks di atas kami menarik sejumlah laron. beberapa diantaranya jatuh kebawah setelah sayapnya tersengat panas. Istri Lik Gino menepis laron2 itu dari atas ketel sayur, kemudian membereskan semuanya ke belakang. Tinggal aku dan Lik Gino dan putri ketiganya yang mungil.
"Setahun terakhir bapak tidur saja. Apa-apa harus diladeni simbok," simbok terlihat sedih. Dari kisah sedih kepergiannya, cerita itu terulur ke belakang saat mereka berdua jatuh cinta, menikah, punya anak dan mempunyai cucu. "Habis liat si gendhuk ini lahir, besoknya bapak nggak ada. Bapak nggak bisa ngomong, cuma air matanya nretes kesini.." Simbok menunjuk sudut matanya yang berkerut. Tangan yang satunya mengelus rambut cucunya yang tertidur di pangkuannya.
Rio memandang wanita tua itu hingga kisahnya berakhir. Bapak adalah pria satu-satunya dalam hidup simbok. Ketika beliau pergi, wanita lugu itu hanya tau melanjutkan hidup saja. Menjual sayuran dan telur bebek ke pasar untuk membantu anaknya membesarkan cucu2nya. Ia menikmati hari-hari dalam kesendirian pribadi. Namun meski kehangatan keluarga dan warga dusun membuat ia tak pernah merasa sendirian, kenangan tentang bapak selalu mendatangkan kerinduan di hatinya.
Sisa malam mereka habiskan untuk bercerita tentang badai tadi siang yang membuat setiap hati manusia kuatir tentang kesendirian. Sebelum kegelapan menyelimuti desa karang pandan.
"Matur Nuwun Mas," simbok tersenyum. Rambut2nya yang didominasi uban terlihat basah karena hujan. Rio sudah beberapa bulan harus berpindah tempat tinggal. Rumah Simbok adalah tempatnya menginap beberapa minggu terakhir. Tugasnya di lapangan memaksanya begitu. Tapi itu bukan sesuatu yang menyulitkan. Sebaliknya malah menyenangkan. Tidak ada pekerjaan sebaik ini. Menyentuh kehidupan orang-orang biasa adalah sebuah gairah tersendiri baginya. Bahkan jauh sebelum ia memutuskan ikut dengan organisasinya sekarang ia telah menjadikan minatnya itu sebuah hobi. Dalam waktu-waktu senggangnya ia berjalan menyusuri lorong2 kotanya yang kumuh. Menghisap rokok bersama para pengangguran di pos ronda. Turun dalam gotong royong kebersihan kampung. Menghabiskan malam dengan obrolan tak penting dengan para perempuan jalanan di kota. Atau bermain catur dengan para kuli angkut pasar induk. Ia pribadi yang unik. Kedalaman pikirannya sama sulitnya dengan memahami perasaan hatinya.
Tidak, ia bukan pria malas karena memilik keunikan semacam itu. Ia menghasilkan uang yang lebih dari cukup untuk dirinya sendiri. Tapi panggilan untuk tenggelam dalam pernak-pernik kehidupan manusia adalah darahnya sendiri. Daripada berdandan perlente, ia memilih berpakaian sederhana, dengan topi baseball tuanya memanggul ransel berisi kamera analognya yang setia.
"Aku melihat mereka seperti cermin yang berhadapan. Matanya dan mataku memantulkan citra diriku secara berlawanan terus menerus tanpa batas," katanya suatu saat."Mata tak berbohong. Karena hakikatnya ia hanya sebuah alat optik bersahaja yang memantulkan segala sesuatu apa adanya. Hati yang memutuskan, mulut dan laku yang mengejawantahkan".
Ia tak sekedar berfilsafat. Semua orang tahu bagaimana ia menjalani hidupnya dengan jujur. Dia memang berjanji pada dirinya untuk selalu teguh pada kejujuran kamera klasiknya. Hidupnya adalah kumpulan ribuan potret yang diambilnya kemanapun ia pergi. Dalam kamarnya yang redup, berpuluh-puluh potret ditempel di dinding. Mungkin potret-potret itu adalah wakil dari makna hidup yang ingin dicarinya. Tapi untuk menterjemahkan wataknya secara utuh rasanya hampir tidak mungkin.
Di luar hujan makin menggila, bangunan kayu itu berderit keras. Ia meronta melawan terpaan badai yang tak seperti biasanya itu. Wajah Simbok terlihat panik. Ia bergegas ke dalam mengambil selendang tuanya. lalu ia berjalan ke beranda, mengikatkan selendang tuanya ke tiang.
"Lewat, lewat, lewat, lesus gedhe ojo lewat omahku... lewato ratan kono," bibir perempuan tua itu berbicara kepada angin. Angin menderu keras, ujung jariknya tersapu ke samping. Simbok ketakutan dan berlari ke dalam sambil berpegangan pada pintu. Lalu terduduk pada amben dengan lesu. Gantian Lik Gino yang keluar, ia mengumandangkan adzan dengan lantang. Berseru memanggil Tuhan, sang pemilik angin. Rio hanya bisa berdoa dalam hati. Lalu menyodorkan segelas air putih untuk menenangkan Simbok. Badai sedang tak bermurah hati. Lidah-lidah angin menjilat muka bumi dan menelannya seketika itu juga ke langit.
***
Cara hidup seperti itu membingungkan Ade. Pria itu penyayang bukan main. Kesederhanaannya baginya juga sesuatu yang menyenangkan. Rio juga pria yang hangat. Ia mudah dekat dengan siapa saja termasuk sengan sahabat2nya. Dalam kesempatan lain ia juga tak ragu-ragu menggamit lengannya dengan mesra dan memperkenalkannya pada teman-temannya dan bahkan kepada keluarganya di rumah. Ia melakukannya itu semua dengan tulus. Rio tahu, meski Ade mencintainya namun gadis itu tak mau menikah. Bukankah Ade juga memiliki pikirannya sendiri? Pengalaman hidupnya sendiri?
"Hmm," pria itu bergumam mendengar perkataan Ade. Ia memeluk gadis itu lembut. Direkatkannya wajahnya pada dahi kekasihnya. Ade balik memeluk dadanya.
"Hmm apa?" tanya Ade. Pria itu menarik selimut putih menutupi punggung Ade yang terbuka. Mulutnya mencium dahi gadis itu. Ia sayang. Sementara ia berfikir Ade mencium dagunya.
"Cuma hmm aja kok", ia tersenyum.
"Tell me, ayo bilang!" gadis itu merajuk. Kepalanya diangkat, sehingga wajah keduanya berhadapan satu sama lain.
Rio melihat dirinya dalam pupil Ade yang hitam jernih, begitu juga sebaliknya. Diantara mereka zarah-zarah energi mengalir, menyelami pikiran dan semua sel yang tersembunyi.
"Nothing dear. Aku sayang kamu aja kok," katanya singkat. Ade tersenyum, wajah keduanya saling mendekat menjadi sebuah ciuman yang indah. Lalu, mereka bercinta seperti sepasang kekasih yang terpisah bertahun-tahun lamanya. Seperti sepasang camar yang baru menyelesaikan migrasi ribuan kilometer jauhnya melintasi benua. Seperti umat manusia akan punah dan hanya mereka berdua yang akan melanjutkan peradaban ini.
***
Badai terus menerus menggempur. Pepohonan tak mampu lagi meliuk menghindari kekuatan angin. Batangnya membungkuk seperti bersujud takluk. Genting-genting tanah liat beterbangan. Lik Gino memeluk erat tiang. Kumandang adzan terdengar juga dari beberapa tempat. Gusti Allah menggenggam semesta alam dalam tangannya yang lebih lembut dari beledu, Ia mendengar. Angin mereda beberapa menit kemudian. Hanya menyisakan hujan serta puing-puing terserak. Lik Gino berjongkok di kaki tiang. Ia tampak bersyukur semuanya berakhir. Rumah Simbok masih utuh, hanya beberapa genting hilang dan dua lembar seng terbang entah kemana. Pohon2 di pekarangan juga ada yang tumbang. Tapi syukurlah semua selamat.
Simbok kembali tenang. Lik Gino mengecek situasi rumah dan pekarangan lalu minta ijin simbok pergi mengecek ke dusun sebelah. Hari ini Istrinya menengok keluarga di dusun sebelah. Semoga saja istri dan anaknya selamat. Ia menuntun sepeda onthelnya keluar, lalu mengayuhnya dengan cepat menyusuri jalan desa yang becek.
Rio menelpon teman2nya di kota mengabarkan kejadian barusan. Setelah itu ia keluar mengontrol keadaan. Sebuah dahan pohon petai yang cukup besar menimpa kabel listrik menuju rumah simbok. Ia mengamankan ujung kabel itu dengan sebuah potongan bambu kering yang diambil dari dapur. Tak lama para tetangga berdatangan. Mereka saling menanyakan kabar dan membawa berita2 tentang sanak saudara di dusun-dusun sebelah. katanya angin melintas ke arah timur. Simbok masih beruntung, rumah-rumah lain banyak yang roboh atau kehilangan atapnya.
Mereka membereskan segala sesuatunya, menyiapkan lampu sentir dan petromaks untuk penerangan malam ini. Sesorean itu Rio belajar menyalakan petromaks untuk pertama kalinya. Senyum lebarnya mengembang ketika akhirnya lampu itu berhasil menyala dengan terang. Ia menggantungnya di ruang tengah. Dan menempatkan sebuah lampu sentir di dapur untuk menerangi simbok yang sedang masak.
***
"Simbok jadi ingat waktu suami mbok mau pergi," Mbok Mar memulai ceritanya. Mereka sudah selesai makan malam. Simbok menghangatkan sayur lodeh tadi siang, menggoreng tempe yang baru setengah jadi, beberapa potong ikan asin dan sambal yang enak.
"Bapak sudah sakit tiga tahun penuh," lanjutnya. "Habis jatuh dari pohon, bapak sakit terus. Ndak bisa macul, ndak bisa jalan jauh."
Kami semua duduk bersila di tikar pandan lusuh yang digelar diatas lantai tanah. Petromaks di atas kami menarik sejumlah laron. beberapa diantaranya jatuh kebawah setelah sayapnya tersengat panas. Istri Lik Gino menepis laron2 itu dari atas ketel sayur, kemudian membereskan semuanya ke belakang. Tinggal aku dan Lik Gino dan putri ketiganya yang mungil.
"Setahun terakhir bapak tidur saja. Apa-apa harus diladeni simbok," simbok terlihat sedih. Dari kisah sedih kepergiannya, cerita itu terulur ke belakang saat mereka berdua jatuh cinta, menikah, punya anak dan mempunyai cucu. "Habis liat si gendhuk ini lahir, besoknya bapak nggak ada. Bapak nggak bisa ngomong, cuma air matanya nretes kesini.." Simbok menunjuk sudut matanya yang berkerut. Tangan yang satunya mengelus rambut cucunya yang tertidur di pangkuannya.
Rio memandang wanita tua itu hingga kisahnya berakhir. Bapak adalah pria satu-satunya dalam hidup simbok. Ketika beliau pergi, wanita lugu itu hanya tau melanjutkan hidup saja. Menjual sayuran dan telur bebek ke pasar untuk membantu anaknya membesarkan cucu2nya. Ia menikmati hari-hari dalam kesendirian pribadi. Namun meski kehangatan keluarga dan warga dusun membuat ia tak pernah merasa sendirian, kenangan tentang bapak selalu mendatangkan kerinduan di hatinya.
Sisa malam mereka habiskan untuk bercerita tentang badai tadi siang yang membuat setiap hati manusia kuatir tentang kesendirian. Sebelum kegelapan menyelimuti desa karang pandan.
Tuesday, January 23, 2007
Sang gadis patah hati
THE HEART IS RIGHT
The
Heart is right to cry
Even when the smallest drop of light,
Of love,
Is taken away.
Perhaps you may kick, moan, scream
In a dignified
Silence,
But you are so right
To do so in any fashion
Until God returns
To
You.
Hafidz
"The Gift" - versions of Hafiz by Daniel Ladinsky
Lik Yem memanggilku untuk segera sarapan. Beliau bangun pagi-pagi benar untuk membantu ibu membersihkan rumah, dan menyiapkan sarapan buat kami. Sarapan pagi benar2 istimewa. Sebab biasanya tidak ada sarapan. Bapak pria keras. Katanya anak-laki-laki harus kuat. Harus tahan lapar. Bangun pagi-pagi, segera berangkat ke sekolah. Makan harus cepat, karena kalau ada perang kita pasti akan ketinggalan. Keburu musuh datang. Mungkin itu alasan saja, sebab ia tau betapa berat kerja ibu. Mengurus anak-anak, menggendong berkuintal2 beras untuk warung kami yang sederhana. Meski kami masih kecil, kami mengerti. Kami adalah serdadu cilik yang siap siaga.
Tapi bila ada Lik Yem di rumah, pagi akan jadi istimewa. Kami akan sarapan yang enak dan saat beliau mengantar kami ke sekolah, tak lupa ia memberikan sedikit uang kecil untuk jajan. Nanti setelah pulang sekolah kami akan saling bertanya membandingkan berapa uang yang kami dapat masing2.
"Ayo, Gus. Makannya yang cepet, habis itu pake kaos kaki sama sepatu, kita siap2 berangkat", kata Lik Yem memberi komando.
"Iya Lik Yem", aku mengiyakan dengan mulut penuh. Sambil mengunyah, kubenahi dasi buntungku yang berwarna merah dengan tangan kiri. Lik Yem datang dan menyisir rambutku dari belakang.
Air mataku hampir jatuh mengenangkan saat-saat indah itu. Ku alihkan pandangan ke arah sawah-sawah membentang di luar jendela. Lalu aku sibukkan diri mengatur letak sepeda yang kubawa ke dalam gerbong kereta. Aku akan turun di Madiun, lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda ke sebuah desa kecil di Ponorogo. Aku akan menengok Bu Lik ku yang sendirian.
***
Sekali lagi Ade mengejutkanku dengan klaksonnya yang lantang. Gadis itu tampaknya begitu menyukai kecepatan. Sudah beberapa kali ini ia mendahuluiku di tol. Biasanya aku cuma tergelak melihat pantat mobilnya melesat meninggalkan hempasan angin ke mobil tuaku. Hahaha... gadis edan!
Bukannya aku tak suka ngebut, tapi setir si merah sudah bergetar keras bahkan sebelum speedometer menyentuh angka 100. Aku mencoba nikmati perjalanan di tol dengan bernyanyi2 sendirian agar hasrat untuk menjejak pedal gas kuat-kuat agak mengendur sedikit. Tapi kurasa bagi banyak orang, kecepatan itu menenangkan. Dalam perjalananku ke desa2, saat aku duduk diatas kepala truk yang menanjak seperti gila ke atas gunung, aku menikmatinya. Saat aku berlari beberapa langkah meraih puncak gunung, aku meninggalkan teman yang kelelahan dibawahku. Saat aku mengayuh pedal sepedaku, aku penuh kendali atas mesin sederhana itu. Angin yang menepis wajahku seakan membuatku terbang cepat melintasi bukit2 dan padang yang luas. Berjuta-juta kerikil yang terpatri kuat dalam aspal hitam dibawahku serentak menjadi garis-garis panjang yang berlalu cepat di bawahku.
Jadi, tak ada alasan untuk mungkir. Dalam hal ini aku memahami gadis itu. Aku adalah burung. Suatu saat nanti sayapku akan luruh satu demi satu. Tapi sebelum itu terjadi, aku akan terbang sepuasnya. Membiarkan debu hati dan pikiran berhamburan dihirup oleh langit yang luas. Aku akan hinggap sesekali, dan menemukan kekhawatiran2 hidup lagi. Tapi sementara itu aku akan berkali-kali lagi terbang melalui siang, bintang-bintang malam dan makhluk-makhluk lemah dibawah sana.
"Tadi denger nggak aku klakson?" Ade bertanya. PM nya menyeruak diantara pesan2 teman2 kantor dalam meebo ku.
"Denger kok, sampe kaget deh! :D" jawabku terbahak. Dia ikut terbahak.
"Untung tadi pagi di sms, kalo nggak bablas deh", ia meringis malu."Kangen ya?" emoticonnya sok cool menggodaku.
Aku cuma meringis, sudah pasti itu sebuah ya. "Memangnya weekend ngapain aja sampe kebluk gitu?" tanyaku.
"Aku telponan sampe malem dengan priaku", katanya ringan.
"Pantess..", aku berjanji untuk tidak posesif. Makanya aku cuma tersenyum pendek. Para pengunjung berdatangan ke library ku. Hari ini aku berbagi tugas dengan Fitri. tetap saja email-email para scientist yang menunggu jawaban dengan tidak sabaran bikin hati makin kepingin terbang.
***
Lik Yem adalah adik ibu yang paling beliau sayangi. Sejak kecil hidupnya sangat menderita. Beliau lahir jaman jepang. Kehidupan serba susah. Katanya, dulu ketika nenekku meninggal dunia, Lik Yem masih sangat kecil, mungkin baru berumur satu atau dua tahun. Tapi saat itu ia seakan mengerti ditinggal mati ibunya. Memang ketika melahirkan Lik To, ibunya sakit keras. Tubuhnya terbaring sangat lemah. Suaminya sangat sedih, namun dengan setia menemaninya hingga akhir hayatnya. Ibuku dan Lik Yem yang masih kecil ikut bekerja dan membantu bapaknya mengurus bayi. Kata ibuku, si bayi terpaksa diberi air tajin atau air kelapa muda untuk mengganti susu. Maklum jaman itu jaman susah, tahun 1940an. Kala kakekku menyuapi bayinya, Lik Yem memeluk kaki pria itu. Tak ada yang lebih mengharukan dari mata kecil Lik Yem yang hanya bisa memandang adiknya dengan keluguan yang bersih.
Itu sebabnya, bagi ibu gadis itu sudah seperti belahan jiwanya. Seperti anaknya sendiri. Meski rumah kami cuma sebuah bedeng reot. Ibu memastikan Lik Yem dalam kebaikan. Hingga suatu saat.
"Ibu nggak tau, bahwa Om Joko sudah bilang ke Lik Yem. Yang jelas pagi itu Lik Yem nggak mau berangkat ke Jawa. Dia nggak nangis, nggak apa. Cuma bilang nggak usah berangkat, Mbak. Wong nggak jadi kok" ibuku meraup wajahnya. Bulu matanya basah teringat anak gadisnya itu. "Rupanya malam itu Om Joko membatalkan pernikahan. Ia membatalkan syahadat yang diucapkannya seminggu sebelumnya."
Aku terpana. Jaman itu perkawinan dirayakan sudah sejak seminggu sebelumnya. Kakek menyembelih seekor sapi untuk memeriahkan pernikahan itu. Lik Yem tetap tak menangis.
Bertahun-tahun setelah peristiwa itu. Lik Yem masih sering bertemu Om Joko. Lik Yem adalah seorang Pegawai Negeri Sipil ABRI, sedang Om Joko berpangkat sersan hingga akhir pengabdiannya. Kami tidak pernah tahu bagaimana perasaan wanita sederhana itu. Ia hanya bilang, "Mbak tadi aku bertemu Joko di Kodam. Sudah tua juga ya dia..."
***
Peluit kereta memekik ke udara. Aku tiba di madiun. Kukenakan ransel bututku di punggung, mengenakan helm. Kemudian aku tenteng frame dan roda2 turun ke peron. Dengan hati2 kurakit roda2. Kusetel rem dengan baik. Lalu kutuntun sepeda keluar stasiun untuk mencari makanan. Nanti aku titip sepeda sebentar di warung untuk sedikit bersih2 di toilet sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah selesai. Aku bersiap2 melanjutkan perjalanan. Ku periksa rem, ban dan helm. Kata adiiiku, dari sini jalan akan terus menanjak dan mesti bersaing dengan bus-bus antar kota. kakiku mulai menggenjot pedal perlahan. Dengan kecepatan segini, mungkin aku akan sampai agak lama. Kira-kira 3 jam atau lebih. Angin bertiup perlahan menentang lajunya roda sepeda. Aku tersenyum melihat orang-orang yang agak heran dengan pengendara sepeda yang asing. Anak-anak kecil yang sedang berangkat ke sekolah bersorak gembira ketika aku lewati rombongan sepedanya. Kulambaikan tanganku sebelah untuk menyambutnya, lalu berlalu cepat mendahului. Suasana pagi yang indah.
Buzz! Sebuah tanjakan di depan dan HPku bergetar. Ada sebuah SMS masuk dari Ade. Ia menanyakan apakah aku sudah sampai tujuan. Selain mengobati rinduku pada Lik Yem, aku juga ingin menjauh sejenak dari gadis itu. Ia tau aku menyayanginya. Tapi aku tak berniat berada diantara dia dan kenangan indahnya dengan pria itu. Aku tak akan menjawabnya sekarang. Hari makin panas, masih beribu jejak lagi sebelum aku sampai di tujuan.
***
Lik Yem tak begitu paham agama. Ia hanya hafal surat2 pendek seperti Al Fatihah dan Al Ikhlas. Ketika ia pensiun dan divonis mengalami gagal di kedua belah ginjalnya, ia baru saja belajar sholat lagi. Ibuku mendorongnya untuk ibadah sebisa-bisanya. Badannya yang dulu gemuk kini tinggal tulang berbalut kulit. Tapi seperti biasa, ia tak pernah mengeluh apalagi meminta bantuan. Bahkan ia masih menyempatkan diri mermbuat kue-kue kering untuk kami saat lebaran. Seminggu sebelum lebaran ia selalu saja mengejutkan kami dengan mengantar kue2 itu sendiri ke rumah. Kami selalu melarangnya berbuat begitu karena sakitnya yang tak mungkin lagi membaik.
Namun hatinya adalah Al Fatihah, ibu dari Qur'an. Ibu dari rasa syukur yang tanpa dasar, tanpa langit, tanpa batas ruang dan waktu. Ibu dari segala rasa kasih sayang. Ia tak perlu memahami 6666 ayat, 114 surat. Ia hanya mengasihi dan menyayangi kami semua tanpa alasan yang berarti.
"Lik Yem, maafin Ago. Ago kangen banget sama Lik Yem," kataku terbata. Kutaburkan bunga di pusara Lik Yem sambil berdoa.
Di suatu pagi, para tetangga menemukan beliau terbujur di lantai kamarnya yang sunyi. Malam sebelumnya kemungkinan beliau terkena stroke lagi setelah siangnya menjalani cuci darah untuk yang sekian kali dalam 3 tahun terakhir. Beliau terjatuh setelah menunaikan sholat. Tak ada yang tau karena beliau tinggal sendirian. Ia selalu menolak kami ajak tinggal di rumah kami. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya yang suci. Semut mulai mengerumuni ketika tubuhnya ditemukan.
Hingga akhir hidupnya Lik Yem tak pernah menikah. Ia bukan orang kaya. Tapi semua miliknya sepenuhnya disumbangkan buat orang lain. Aku tak pernah sempat lagi melihat wajahnya. Yang kuterima hanya beberapa lembar potret tua yang kini tergantung di dinding rumah kami.
Ah, rahasia cinta...
"Aku dah ketemu Lik Yem, De. Aku balik besok pagi."
***
The
Heart is right to cry
Even when the smallest drop of light,
Of love,
Is taken away.
Perhaps you may kick, moan, scream
In a dignified
Silence,
But you are so right
To do so in any fashion
Until God returns
To
You.
Hafidz
"The Gift" - versions of Hafiz by Daniel Ladinsky
Lik Yem memanggilku untuk segera sarapan. Beliau bangun pagi-pagi benar untuk membantu ibu membersihkan rumah, dan menyiapkan sarapan buat kami. Sarapan pagi benar2 istimewa. Sebab biasanya tidak ada sarapan. Bapak pria keras. Katanya anak-laki-laki harus kuat. Harus tahan lapar. Bangun pagi-pagi, segera berangkat ke sekolah. Makan harus cepat, karena kalau ada perang kita pasti akan ketinggalan. Keburu musuh datang. Mungkin itu alasan saja, sebab ia tau betapa berat kerja ibu. Mengurus anak-anak, menggendong berkuintal2 beras untuk warung kami yang sederhana. Meski kami masih kecil, kami mengerti. Kami adalah serdadu cilik yang siap siaga.
Tapi bila ada Lik Yem di rumah, pagi akan jadi istimewa. Kami akan sarapan yang enak dan saat beliau mengantar kami ke sekolah, tak lupa ia memberikan sedikit uang kecil untuk jajan. Nanti setelah pulang sekolah kami akan saling bertanya membandingkan berapa uang yang kami dapat masing2.
"Ayo, Gus. Makannya yang cepet, habis itu pake kaos kaki sama sepatu, kita siap2 berangkat", kata Lik Yem memberi komando.
"Iya Lik Yem", aku mengiyakan dengan mulut penuh. Sambil mengunyah, kubenahi dasi buntungku yang berwarna merah dengan tangan kiri. Lik Yem datang dan menyisir rambutku dari belakang.
Air mataku hampir jatuh mengenangkan saat-saat indah itu. Ku alihkan pandangan ke arah sawah-sawah membentang di luar jendela. Lalu aku sibukkan diri mengatur letak sepeda yang kubawa ke dalam gerbong kereta. Aku akan turun di Madiun, lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda ke sebuah desa kecil di Ponorogo. Aku akan menengok Bu Lik ku yang sendirian.
***
Sekali lagi Ade mengejutkanku dengan klaksonnya yang lantang. Gadis itu tampaknya begitu menyukai kecepatan. Sudah beberapa kali ini ia mendahuluiku di tol. Biasanya aku cuma tergelak melihat pantat mobilnya melesat meninggalkan hempasan angin ke mobil tuaku. Hahaha... gadis edan!
Bukannya aku tak suka ngebut, tapi setir si merah sudah bergetar keras bahkan sebelum speedometer menyentuh angka 100. Aku mencoba nikmati perjalanan di tol dengan bernyanyi2 sendirian agar hasrat untuk menjejak pedal gas kuat-kuat agak mengendur sedikit. Tapi kurasa bagi banyak orang, kecepatan itu menenangkan. Dalam perjalananku ke desa2, saat aku duduk diatas kepala truk yang menanjak seperti gila ke atas gunung, aku menikmatinya. Saat aku berlari beberapa langkah meraih puncak gunung, aku meninggalkan teman yang kelelahan dibawahku. Saat aku mengayuh pedal sepedaku, aku penuh kendali atas mesin sederhana itu. Angin yang menepis wajahku seakan membuatku terbang cepat melintasi bukit2 dan padang yang luas. Berjuta-juta kerikil yang terpatri kuat dalam aspal hitam dibawahku serentak menjadi garis-garis panjang yang berlalu cepat di bawahku.
Jadi, tak ada alasan untuk mungkir. Dalam hal ini aku memahami gadis itu. Aku adalah burung. Suatu saat nanti sayapku akan luruh satu demi satu. Tapi sebelum itu terjadi, aku akan terbang sepuasnya. Membiarkan debu hati dan pikiran berhamburan dihirup oleh langit yang luas. Aku akan hinggap sesekali, dan menemukan kekhawatiran2 hidup lagi. Tapi sementara itu aku akan berkali-kali lagi terbang melalui siang, bintang-bintang malam dan makhluk-makhluk lemah dibawah sana.
"Tadi denger nggak aku klakson?" Ade bertanya. PM nya menyeruak diantara pesan2 teman2 kantor dalam meebo ku.
"Denger kok, sampe kaget deh! :D" jawabku terbahak. Dia ikut terbahak.
"Untung tadi pagi di sms, kalo nggak bablas deh", ia meringis malu."Kangen ya?" emoticonnya sok cool menggodaku.
Aku cuma meringis, sudah pasti itu sebuah ya. "Memangnya weekend ngapain aja sampe kebluk gitu?" tanyaku.
"Aku telponan sampe malem dengan priaku", katanya ringan.
"Pantess..", aku berjanji untuk tidak posesif. Makanya aku cuma tersenyum pendek. Para pengunjung berdatangan ke library ku. Hari ini aku berbagi tugas dengan Fitri. tetap saja email-email para scientist yang menunggu jawaban dengan tidak sabaran bikin hati makin kepingin terbang.
***
Lik Yem adalah adik ibu yang paling beliau sayangi. Sejak kecil hidupnya sangat menderita. Beliau lahir jaman jepang. Kehidupan serba susah. Katanya, dulu ketika nenekku meninggal dunia, Lik Yem masih sangat kecil, mungkin baru berumur satu atau dua tahun. Tapi saat itu ia seakan mengerti ditinggal mati ibunya. Memang ketika melahirkan Lik To, ibunya sakit keras. Tubuhnya terbaring sangat lemah. Suaminya sangat sedih, namun dengan setia menemaninya hingga akhir hayatnya. Ibuku dan Lik Yem yang masih kecil ikut bekerja dan membantu bapaknya mengurus bayi. Kata ibuku, si bayi terpaksa diberi air tajin atau air kelapa muda untuk mengganti susu. Maklum jaman itu jaman susah, tahun 1940an. Kala kakekku menyuapi bayinya, Lik Yem memeluk kaki pria itu. Tak ada yang lebih mengharukan dari mata kecil Lik Yem yang hanya bisa memandang adiknya dengan keluguan yang bersih.
Itu sebabnya, bagi ibu gadis itu sudah seperti belahan jiwanya. Seperti anaknya sendiri. Meski rumah kami cuma sebuah bedeng reot. Ibu memastikan Lik Yem dalam kebaikan. Hingga suatu saat.
"Ibu nggak tau, bahwa Om Joko sudah bilang ke Lik Yem. Yang jelas pagi itu Lik Yem nggak mau berangkat ke Jawa. Dia nggak nangis, nggak apa. Cuma bilang nggak usah berangkat, Mbak. Wong nggak jadi kok" ibuku meraup wajahnya. Bulu matanya basah teringat anak gadisnya itu. "Rupanya malam itu Om Joko membatalkan pernikahan. Ia membatalkan syahadat yang diucapkannya seminggu sebelumnya."
Aku terpana. Jaman itu perkawinan dirayakan sudah sejak seminggu sebelumnya. Kakek menyembelih seekor sapi untuk memeriahkan pernikahan itu. Lik Yem tetap tak menangis.
Bertahun-tahun setelah peristiwa itu. Lik Yem masih sering bertemu Om Joko. Lik Yem adalah seorang Pegawai Negeri Sipil ABRI, sedang Om Joko berpangkat sersan hingga akhir pengabdiannya. Kami tidak pernah tahu bagaimana perasaan wanita sederhana itu. Ia hanya bilang, "Mbak tadi aku bertemu Joko di Kodam. Sudah tua juga ya dia..."
***
Peluit kereta memekik ke udara. Aku tiba di madiun. Kukenakan ransel bututku di punggung, mengenakan helm. Kemudian aku tenteng frame dan roda2 turun ke peron. Dengan hati2 kurakit roda2. Kusetel rem dengan baik. Lalu kutuntun sepeda keluar stasiun untuk mencari makanan. Nanti aku titip sepeda sebentar di warung untuk sedikit bersih2 di toilet sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah selesai. Aku bersiap2 melanjutkan perjalanan. Ku periksa rem, ban dan helm. Kata adiiiku, dari sini jalan akan terus menanjak dan mesti bersaing dengan bus-bus antar kota. kakiku mulai menggenjot pedal perlahan. Dengan kecepatan segini, mungkin aku akan sampai agak lama. Kira-kira 3 jam atau lebih. Angin bertiup perlahan menentang lajunya roda sepeda. Aku tersenyum melihat orang-orang yang agak heran dengan pengendara sepeda yang asing. Anak-anak kecil yang sedang berangkat ke sekolah bersorak gembira ketika aku lewati rombongan sepedanya. Kulambaikan tanganku sebelah untuk menyambutnya, lalu berlalu cepat mendahului. Suasana pagi yang indah.
Buzz! Sebuah tanjakan di depan dan HPku bergetar. Ada sebuah SMS masuk dari Ade. Ia menanyakan apakah aku sudah sampai tujuan. Selain mengobati rinduku pada Lik Yem, aku juga ingin menjauh sejenak dari gadis itu. Ia tau aku menyayanginya. Tapi aku tak berniat berada diantara dia dan kenangan indahnya dengan pria itu. Aku tak akan menjawabnya sekarang. Hari makin panas, masih beribu jejak lagi sebelum aku sampai di tujuan.
***
Lik Yem tak begitu paham agama. Ia hanya hafal surat2 pendek seperti Al Fatihah dan Al Ikhlas. Ketika ia pensiun dan divonis mengalami gagal di kedua belah ginjalnya, ia baru saja belajar sholat lagi. Ibuku mendorongnya untuk ibadah sebisa-bisanya. Badannya yang dulu gemuk kini tinggal tulang berbalut kulit. Tapi seperti biasa, ia tak pernah mengeluh apalagi meminta bantuan. Bahkan ia masih menyempatkan diri mermbuat kue-kue kering untuk kami saat lebaran. Seminggu sebelum lebaran ia selalu saja mengejutkan kami dengan mengantar kue2 itu sendiri ke rumah. Kami selalu melarangnya berbuat begitu karena sakitnya yang tak mungkin lagi membaik.
Namun hatinya adalah Al Fatihah, ibu dari Qur'an. Ibu dari rasa syukur yang tanpa dasar, tanpa langit, tanpa batas ruang dan waktu. Ibu dari segala rasa kasih sayang. Ia tak perlu memahami 6666 ayat, 114 surat. Ia hanya mengasihi dan menyayangi kami semua tanpa alasan yang berarti.
"Lik Yem, maafin Ago. Ago kangen banget sama Lik Yem," kataku terbata. Kutaburkan bunga di pusara Lik Yem sambil berdoa.
Di suatu pagi, para tetangga menemukan beliau terbujur di lantai kamarnya yang sunyi. Malam sebelumnya kemungkinan beliau terkena stroke lagi setelah siangnya menjalani cuci darah untuk yang sekian kali dalam 3 tahun terakhir. Beliau terjatuh setelah menunaikan sholat. Tak ada yang tau karena beliau tinggal sendirian. Ia selalu menolak kami ajak tinggal di rumah kami. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya yang suci. Semut mulai mengerumuni ketika tubuhnya ditemukan.
Hingga akhir hidupnya Lik Yem tak pernah menikah. Ia bukan orang kaya. Tapi semua miliknya sepenuhnya disumbangkan buat orang lain. Aku tak pernah sempat lagi melihat wajahnya. Yang kuterima hanya beberapa lembar potret tua yang kini tergantung di dinding rumah kami.
Ah, rahasia cinta...
"Aku dah ketemu Lik Yem, De. Aku balik besok pagi."
***
Subscribe to:
Posts (Atom)