Tuesday, November 27, 2007

Tambora Summit

Sang Resi

Ya, akulah Hanoman, Raja Kera putih mukjizat. Dengan mengangkat sebelah kaki ke bibir kawah yang lebih tinggi aku menjenguk kedalaman dapur magma yang tegak menghujam kedalaman bumi. Putra sang dewa angin, dengan kekuatan tujuh gunung dijadikan satu - menaklukan puncak gunung ini dalam semalam.

Sobat-sobat, rekan seperjalanan yang semalaman meniti pokok pohon tumbang yang licin seperti rakyat kera yang membangun tambak untuk sri Rama. Kami adalah lakon, Rama tambak. Menumbangkan raksasa angkara murka, membangun galengan ribuan kilometer jauhnya untuk menyeberang ke Alengka Diraja menyelamatkan Dewi Sinta.

Ya aku lah aji mundri, yang menabok Rahwana dengan kekuatan maha dahsyat. Gunung jugrug, segoro asat. Gunung hancur lebur, samudera surut hingga ke dasar! Rahwana yang sebesar mahameru kepontal-pontal oleh tonjokkan telapak tangan kera kecil mungil itu. Dengan sekali jejak hanoman melesat meninggalkan raksasa seram itu bergulingan menahan jerih nggrenyem sampai ke sumsum.

Namun belum lagi Dosomuko mampu menggambarkan rasa sakitnya, hanoman sudah kembali. Pada ketinggian stratosfer, kera itu membanting gunung Kendalisada sekuat tenaga ke atas tubuh si muka sepuluh, Dosomuko tenggelam ke kedalaman perut bumi. Seketika, raungan raksasa itu memenuhi tanah Jawa. Gunung Kendalisada muntap, meletupkan hawa angkara, kemarahan raja raksasa itu mengamuk pada genangan lavanya yang berpijar mendidih. Tanah bergetar, gempa. Rumah-rumah rubuh, mayat bergelimpangan, manusia enyeng, bayi2 lahir cacat. Burung-burung beterbangan menjauhi pulau yang sedang bergolak. Menebarkan isyarat kepada seluruh jagad tentang pertempuran hawa nafsu dengan hati nurani yang bersih.

Setelah beberapa windu menggeram dalam amarah, Rahwana terpaksa mengakui kekalahannya. Meski begitu Rahwana tak bisa mati, karena saking saktinya aji PancaSona. Hasil mencuri dengar wejangan kera sakti, Subali. Sesungguhnya selama masih ada kelima unsur, ia tak akan mati. Tubuh hancur lebur, namun selama menyentuh bumi, ia akan bangkit lagi. Sesungguhnya itulah hawa nafsu. Karena itulah Hanoman menjadi resi dan bersemayam di puncak Kendalisada. Suatu keanehan cara berfikir Hyang Widhi, membiarkan seekor binatang untuk menjaga ketenangan dunia manusia.

***

Itulah aku, berdiri di puncak gunung Tambora yang dahsyat seakan2 telah menaklukkan dunia. Apakah sebenarnya yang kutaklukkan? Gunung, atau justru kemanusiaanku yang makin ringkih berhadapan muka dengan ego? Aku memandang hamparan kawah raksasa yang terbentang. Aku diam. Kupeluk lututku perlahan. Dalam bayang2 awan aku terkenang kepadanya. Ialah gadis yang selalu menarikku antara arus kecantikan badaniah dan kehalusan rasa kalbu. Dalam khayalan yang terbang dalam benakku, ciumannya menyentuh pipiku perlahan. Katanya:

"Apa yang kamu pikirin? I am perfectly allright, dear..", ia memelukku dari belakang.

Aku cuma tersenyum. Angin dingin yang mengembara dari samudera hindia membuatku semakin merapatkan lututku. Aku jelas menginginkan gadis itu. Sudah waktunya untuk mengatakan apa yang kuinginkan padanya. Ada masa-masa kejayaan dalam hidup seseorang, dan ada orang yang membuat kebahagian yang sederhana seakan sebuah kegemilangan Alexander Agung. Ade membuat hal itu mungkin.

Budi menepuk pundakku. Matahari terik Sumbawa membuyarkan awan mendung yang melindungi kami. Kami harus segera pergi. Aku menyalakan kamera hp ku untuk merekam keindahan puncak Gunung Tambora terakhir kalinya. Sebuah pecahan memori yang akan kukenang kapan-kapan. Sekarang aku harus bergegas turun melewati rumpun2 jelatang yang menyengat dan ribuan pacet di lantai hutan.

***

"Hey, I miss makan soto", sebuah pesan rindu dalam pesan pendeknya di YM.

Bogor tidak lagi sebasah beberapa tahun lalu. Namun minggu ini adalah minggu-minggu awal musim penghujan yang terlambat datang. Aku mulai hafal watak cuaca kota kecil ini. Pilihannya tak ada, setelah matahari membakar kita seperti dendam kesumat yang tak terlampiaskan, menjelang sore hari hujan akan datang menyiksa, keras seperti badai kutub utara. Melemparkan butiran-butiran es batu sebesar jempol ke atas atap. Mengoyak akar beringin tua peninggalan belanda menimpa makhluk apes di kakinya. Ketika semuanya mereda, ia menyisakan hawa dingin yang sangat sempurna untuk menyantap Soto Lamongan yang sedap.

"Lagi badai loh, tapi aku sih ayo aja", aku menjawabnya dengan sebuah smiley yang tersenyum lebar.

"Masa sih?" katanya ragu. "Mmm let me think ya! Aku kerjain tugas ini dulu. Kalo bisa aku telp deh".

"Tenang aja, aku juga masih banyak kerjaan kok", mungkin baru jam 7an aku akan selesai mengerjakan tugas kantor yang menumpuk ini. Menjawab email Elke di Afrika, Tony di New Zealand, Sajad di Madagascar, Imam di perjalanan ke Malinau. Mejaku sudah seperti control panel teater perang dunia. Tapi aku survive ;-)

***

Kenyataannya, ia tiba dengan selamat di Bogor malam itu. Ketekunannya berhasil menyelesaikan beban pekerjaannya yang begitu banyak. Aku juga berhasil mengendalikan armada perangku yang bertempur di masing-masing belahan benua. Secara ajaib, mereka merespon emailku yang berisi jurnal-jurnal ilmiah yang mereka butuhkan untuk penelitian mereka. Thanks a lot katanya. Mereka rimbawan(Forester), orang-orang yang bekerja untuk kecintaan kepada sang bumi. Makhluk murah hati yang memberikan kita tempat hidup yang penuh tantangan, namun juga indah untuk dinikmati.

Ade menyetir mobilnya hampir seratus kilometer untuk makan semangkok soto denganku. Sesuatu yang luar biasa buat pria sederhana sepertiku. Kami kelihatan kontras bahkan bagi orang asing yang baru pertama kali melihat. Aku berpakaian begitu bebas, sepatu kets, cargo pants yang lusuh, sebuah topi baseball tua dan backpack. Sementara gadis itu sangat sexy dalam busana kerjanya yang formal.

"Kenapa akhir2 ini aku tertarik kepada pria2 seperti kamu ya, dear?" katanya setengah berbisik. Tersenyum melirik menggodaku.

Aku tergelak, "Emang ada yang salah denganku?" Ia terlebih lagi :D

"I don't know.." ia tersenyum lagi sambil menggerinyitkan hidungnya dan mengangkat pundaknya. Di hirupnya segelas juice dengan sedotan.

Kami berdua tertawa. Aku merengkuh pinggangnya dan menariknya mendekat bersisian. Kami sudah tidak berbicara lagi. Tapi saling memahami. Sayang itu cuma sebuah momen yang pendek, karena kami harus membayar makanan dan pulang.

Sepanjang jalan tol ia bercerita banyak hal. Soal keluarga, pekerjaan barunya di Jakarta. Tentang meditasinya yang hening. Semuanya. Kecuali tentang patah hatinya yang lalu. Itu membuatku bahagia.

***

Rakyat kera yang jumlahnya jutaan waktu itu bersorak sorai menyambut kemenangan. Hanoman yang masih terbang melayang2 di atas permukaan tanah menyeringai galak khas kera. Kera, tak mengenal peperangan. Ia hanya lakon yang melengkapi sempurnanya perputaran bumi pada porosnya. Seperti Brahma, Syiwa, Wisnu, yang menghancurkan, menciptakan, memelihara, menyelaraskan semesta.

Hanoman biarpun raja kera, tak sebanding bila kita menyandingkannya kepada seorang manusia cakep bagus seperti Rama. Tapi ialah kebijaksanaan, yang menyusu pada puting perawan murni sang Dewi Sinta. Kemurnian yang menjelma sebagai ajian maha dahsyat, Aji Mundri. Maka lahirlah kebijaksanaan bahkan dalam mahluk hina seekor kera. Mata polos binatang yang penuh prasangka baik.

Hampir tengah malam saat kami tiba kembali di perkampungan. Semua kelelahan meliputi kami semua. Namun rasa lelah yang berlebih membuat kami tak begitu mudah tertidur. Dan pengalaman yang kami lalui memenuhi perasaan. Ia menjadi kisah yang tak habis diceritakan hingga anak cucu. Setelah selesai membersihkan diri dan makan, aku merebahkan diri di atas tikar di rumah penduduk desa.

Aku ingin mata kera yang jernih itu. Yang mampu melihat ke dalam hati cinta suci sang Dewi. Butuh waktu lama sebelum khayalan itu memudar oleh tidur yang lelap. Aku meringkuk dalam kantong tidur yang hangat. Sangat lelap, sehingga ciuman Ade di pagi itu menjadi mimpi dan kenyataan yang tinggal dalam sugesti bawah sadarku.









============================

Maaf kalo kurang berkenan. idenya lagi mandeknih. Nanti deh aku baca2 lagi, trus diedit lagi. Mau kemana cerita ini berlanjut, nggak tau juga. Hasil orang ngelamun ya begini ini :))



Oh iya, ternyata gunung Kendalisada itu ada di sini

Kendalisada ca. 64 m
Indonesia » Central Java » Kabupaten Karanganyar
populated place
S 7° 30' 0'' E 109° 17' 21''
-7.5 / 109.28917

http://www.geonames.org/6375162/kendalisada.html
GeoNameId : 6375162

Wednesday, November 14, 2007

Tentang DOI

Digital Object Identifier atau lebih lengkapnya Digital Object Identifier System adalah sebuah sistem baku untuk mengidentifikasi suatu kandungan(content) pada jaringan digital. Sulit memahami artinya? Tentu saja. Nah sekarang mari kita buat lebih mudah.

Coba anda kunjungi website Bob Smith, seorang ahli konservasi di:

http://www.mosaic-conservation.org/people/rjs_publ.html

Di websitenya itu, lihatlah artikel berjudul "Elephant Hunting and Conservation". Kemudian, mari kita kunjungi website majalah Science dimana artikel tersebut dimuat:

http://www.sciencemag.org/cgi/content/short/293/5538/2203b .

Lihatlah data : DOI: 10.1126/science.293.5538.2203b . Itulah salah satu contoh penggunaan Digital object Identifier.

DOI memang paling banyak digunakan dalam mengelola artikel ilmiah. Namun menurut International DOI Foundation, lembaga pengelola DOI, sistem ini dapat diigunakan untuk mengelola text, audio, images, software, dan lain sebagainya.

Kenapa DOI dibutuhkan?

Setelah kita melihat websitenya Bob Smith, coba klik link menuju artikel "Elephant hunting" tadi. Dari situ, kita bisa melihat bahwa file pdf artikel itu di host di server universitas kent di inggris. Sementara bila kita klik link di majalah science, pdfnya disimpan di server yang berbeda. Di internet, lokasi sebuah obyek digital berubah-ubah dengan cepat tanpa dapat kita lacak lagi. Tidak cuma lokasi servernya, tapi juga nama file, format filenya dan lain-lain. Hal itu akan menyulitkan dalam melakukan transaksi atau lalu lintas pertukaran data.

Pada sisi lain, sebuah obyek digital juga mengandung implikasi hak kekayaan intelektual. Buat penerbit, yang paling mereka inginkan adalah bagaimana sebuah karya bisa dipasarkan seluas2nya namun tetap merujuk secara unik kepada obyek yang tunggal. Jadi silahkan melakukan pendekatan melalui search engine manapun, melalui hyperlink yang berlapis2, lewat social bookmark, melalui review di media, atau lewat rujukan email kawan anda. Tapi ujung-ujungnya akan merujuk kepada sebuah identitas obyek yang sama. Itulah yang dilakukan oleh DOI. DOI bersifat permanen, tidak berubah selamanya meskipun url aslinya sudah berubah.

Salah satu pengguna DOI yang paling besar dewasa ini adalah Crossref (http://www.crossref.org/) yaitu sebuah asosiasi keanggotaan independen yang dibentuk oleh para penerbit. CrossRef memungkinkan penerbit bekerjasama mengimplementasikan sistem registrasi DOI secara kolektif. Selain itu, sejumlah lembaga registrasi ISBN kini juga telah bertindak sebagai lembaga registrasi sistem DOI.

Syntax DOI dan DOI Resolution

DOI terdiri dari deretan simbol alfanumerik. Kombinasi huruf dan angka itu memiliki arti khusus. Sebagai contoh:

DOI: 10.1126/science.293.5538.2203b

Bagian awal, 10.1126/science merupakan identitas publishernya, Science Magazine.

Bagian keduanya 293.5538.2203b merupakan kode unik artikel tersebut.

meskipun kelihatan sederhana, implementasi DOI cenderung semakin canggih. Salah satunya adalah fitur yang disebut DOI Resolution.

Coba pada browser di komputer, anda ketikkan kode DOI pada address box dengan menambahkan proxy yang ditentukan IDF yaitu menjadi "http://dx.doi.org/10.1126/science.293.5538.2203b". Ketika anda menekan enter, ia akan langsung menghubungkan anda ke tempat dimana dokumen tersebut berada.

Kemudian kita coba pada doi:10.1000/182 yaitu berupa DOI Handbook. Namun ketika kita ketik http://dx.doi.org/10.1000/182 di address box browser, akan tampil beberapa data pendukung selain juga link ke DOI Handbook itu. Di sini kita bisa mengenal yang disebut DOI "Resolution" yaitu bagaimana sebuah dapat digunakan oleh penerbit untuk menunjukkan berbagai macam data yang mengacu kepada dokumen utamanya.

Untuk Pengguna

Bagi pustakawan seperti saya, banyak permintaan informasi yang mengharuskan saya berkenalan dengan DOI. Bila organisasi anda melanggan jurnal ilmiah melalui pihak ketiga seperti scopus, sciencedirect, ingenta dan kawan2, pasti tidak usah terlalu memikirkan apa arti DOI, karena begitu klik langsung bisa didownload artikelnya. Tapi bagi yang tidak melanggan, DOI bisa menjadi salah satu cara menemukan dokumen yang kita mau.

Ketika anda masuk www.doi.org ada search box untuk mencari dengan kode DOI. Atau coba gunakan tools berikut http://www.doi.org/tools.html. Kita pilih saja salah satu. Sebagian diantaranya menggunakan fasilitas toolbar di browser anda. Ada yang terintegrasi dengan google toolbar. Mencari langsung di google juga bisa. Tinggal ketik dan enter, sudah langsung ketemu links nya.

Bagi penerbit atau library yang ingin menerbitkan dokumen di internet, masalahnya adalah bagaimana mendaftarkan DOI untuk dokumennya? Nah, untuk itu silahkan berkunjung ke:

http://www.doi.org/registration_agencies.html

Ada juga agen komersial yang menyediakan jasa registrasi yaitu:

http://www.contentdirections.com


Semoga berguna.


****


Disarikan dari sumber2 berikut:

http://www.doi.org/

http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_object_identifier

http://www.copyright.com.au/doi.htm

http://www.doi.copyright.com.au/

http://www.press.umich.edu/jep/03-02/doi.html

http://xml.coverpages.org/doi.html

http://www.asidic.org/meetings/newsletters/F03Newsletter.pdf

http://www.ariadne.ac.uk/issue8/unique-identifiers/

http://hdl.handle.net/

http://www.handle.net/

Sunday, October 21, 2007

Jelogro si kurang panarimo

Ada suatu masa dimana kami cukup miskin. Sehingga untuk memberi makan 7 orang anak yang masih kecil2 terasa sulit. Belum lagi bila ada keluarga bapak atau ibu dari kampung yang menumpang di rumah kami setahun atau dua untuk minta dicarikan pekerjaan. Bila ibu tidak berdagang kelontong, tak mungkin gaji tentara bisa mencukupi. Tapi ketabahan orang-orang dulu memang berbeda. Saat itu bapak atau ibu jarang mengeluh, bahkan bila mereka yang sudah dicarikan pekerjaan sudah lama melupakan kami.

Waktu kami kasih kecil, dunia jauh lebih sederhana daripada jaman sekarang. Televisi sudah ada, tapi masih menjadi barang langka. Radio tua yang kami punya juga jarang dinyalakan. Karena masih ada hal lain yang lebih mendesak daripada membeli baterai eveready bergambar kucing hitam itu. Bosan juga bolak-balik menjemur baterai di panas matahari hanya untuk memperpanjang usianya beberapa jam saja. Hiburan kami setiap hari adalah membantu ibu membuat kantong beras dari kertas bekas setiap malam. Sampai kami mahir dengan kertas dan kanji. Lain waktu kami menimbang gula pasir dan membungkusnya dengan kantong plastik kecil2, atau membungkus minyak goreng eceran dalam plastik secanting-secanting.

Sore hari, ibu memandikan kami satu-satu, membedaki dengan bubuk talk seakan kami akan pentas opera cina. Beliau menyisir rambut kami satu-satu, lalu memasangkan sendal plastik agar kami bisa berjalan2 ke depan kelurahan Bidara Cina melihat bus-bus besar Mayasari atau Pelita Mas Jaya yang bermoncong panjang melintas di jalan raya. Lalu kami berteriak kepada para kondektur untuk meminta karcis bis yang tak terpakai.

"Paaak Kondektuuur minta karciiis doooong!" teriak kami beramai2. selalu ada saja yang bermurah hati melemparkan satu atau dua gepok karcis bus ke pinggir jalan. Kami segera melompat berebutan seperti pengemis yang berebut sedekah. memang, bagi kami anak-anak kecil, segepok karcis seperti segepok uang. Buat kami warna2 dan tulisannya yang belum lagi dapat kami baca begitu aneh dan itu menjadikannya menarik. Karena itu kami menjadikannya alat barter yang bernilai tinggi. Ada satu dua kali aku beruntung mendapatkan karcis. Tapi karcis itu tidak begitu berguna ditangan businessman bodoh sepertiku.

***

Ketika malam tiba, kami semua harus belajar. Kami semua "nggeloso" di lantai tegel hitam yang licin karena dipel dengan sisa ampas kelapa. Seingatku, bapak atau ibu tidak terlalu keras dalam menyuruh kami belajar. Hanya saja kami tidak boleh terlalu banyak bermain.

Diantara itu ada malam-malam dimana listrik padam. Malam itu jadi sangat berharga. Bukan saja karena kami bebas dari kewajiban belajar, tapi karena di malam seperti itu bapak atau ibu bercerita untuk kami. Di dalam cahaya lilin atau lampu sentir yang redup kami berkumpul di ruang tengah. Kakakku memeluk sudut meja dengan kedua tangannya untuk tempat dagunya bersandar. Yang lain duduk bersandar di bahu ibu, duduk bersila, atau bersimpuh di kaki kursi panjang tempat ibu duduk.

Ibu mengelus rambut adik bungsu yang duduk di atas telapak kaki ibu sambil memeluk kedua betis beliau. Lalu ibu mulai bercerita. ia mengangkat kedua kakinya naik turun, menguncang-uncang adik seperti sebuah ayunan yang lembut. Cerita mengalir melalui sejarah hidupnya waktu kecil bersama nenek, membuka lembar-lembar kisah yang lebih pahit dari masa kecilnya. Dan berakhir dengan dongeng-dongeng kuno yang diingat oleh wanita lugu itu. Salah satunya adalah kisah Jelogro si kurang panarimo.

***

Alkisah di suatu waktu, di suatu tempat, hidup seorang miskin. Ia hidup dari mengumpulkan kayu bakar di hutan untuk dijual di pasar. Hasil penjualan kayu bakar itu hanya cukup untuk makan hari itu. Bila ia sakit atau saat musim hujan tiba, ia tidak dapat mencari kayu. Ia juga tak mampu membeli pakaian yang baik. Bajunya compang-camping. Tinggalnya di gubug reot tepi hutan jauh dari desa. Bilamana ia berjalan menuju ke pasar, orang-orang menjauhinya seraya menghina. Hal itu membuat batinnya tertekan dan selalu mengeluh atas kemalangannya yang berlarut-larut.

Suatu hari berlalu seorang saudagar kaya di pasar tempat ia berjualan. Melihat betapa semua orang menghormati si saudagar kaya, hati si penjual kayu bakar menjadi iri. Benaknya berkata:

"Andaikan aku jadi orang kaya, pasti aku tidak akan dihina seperti ini," katanya. Kemudian ia berdoa kepada Tuhan agar dijadikan orang kaya.

Melihat kesengsaraannya Tuhan berkehendak. Dalam sekejap mata, Ia merubah alur kehidupan dan seperti baru siuman, si penjual kayu bakar mendapati dirinya menjadi orang kaya. Tapi ternyata menjadi kaya, tidak memberi kebaikan pada dirinya. Ia malah sibuk membalas sakit hatinya kepada orang yg dulu meremehkannya. Ia menjadi tinggi hati. Hingga pada suatu saat ada rombongan Raja lewat di jalan kotaraja. semua orang menyingkir dan menundukkan kepala tak terkecuali si penjual kayu bakar. Timbullah keinginan dalam hatinya untuk menjadi Raja. Sekali lagi Tuhan mengabulkan permintaannya menjadi raja.

Tapi menjadi raja tidak membuatnya puas. Ia ingin lebih kuat dan lebih berkuasa lagi. Ia bertanya kepada semua penasihatnya. Apa yang lebih hebat dari seorang raja. Sehingga dalam beberapa kejap saja Tuhan menjadikannya awan yang mendatangkan hujan yang dapat menyapu bumi dalam sekejap. Namun tanpa disangka, angin bertiup membuyarkan awan. Itu membuatnya kecewa dan ingin menjadi angin. Jadilah ia angin. Dengan kekuatannya ia memporakporandakan muka bumi. Ia meniup awan hingga terpencar berarak-arak.

Dengan pongahnya ia berkata menyombongkan diri, "Hahaha, siapa lagi yang lebih berkuasa dariku?"

Awan hanya tersenyum. Angin adalah udara kosong tanpa daya, bila bukan karena mentari. Ia yang menyembunyikan cahaya untuk memberi keteduhan dunia di malam hari demi memberi kehangatan kehidupan di sisi yang lainnya. Matahari yang menarik planet2 dalam tangannya yang tak kasat mata, mengelilingi orbit yang maha jauh. Sang Angin jadi tersadar betapa kekuatannya bukan apa2 dibanding Matahari. Maka mulailah ia memohon kepada Tuhan untuk dijadikan Matahari.

Bukankah tak ada yang lebih murah hati dari Tuhan? Dalam sekejap Tuhan menjadikan si penjual kayu bakar yang hina telah menjadi Matahari. Namun hawa nafsu adalah sumur tanpa dasar, kantong bolong. Betapapun banyaknya diisi, ia tak akan pernah penuh dan selalu minta diisi. Ia berkoar-koar dengan bangganya ke seluruh jagad raya, sebagai sang Matahari, inti daya gerak seluruh semesta. Menghukum planet2 yang membangkang dan menelan asteroid dan komet-komet yang mengejeknya dengan lincah.

Ketika ia sedang sibuk mengacaukan tata surya dengan keangkuhannya, terdengar suara sayup2 dari sebuah bintang yang mungil di kegelapan ruang tanpa batas.

"Wahai matahari, kau bahkan tidak setara dibanding dengan tahi lalatnya Tuhan," bisiknya.

Matahari makin panas oleh angkaranya sendiri. Maka, matahari mbanggel, memberontak dari hukum alam. Ia membatin, ingin menjadi Tuhan!

***

"Tentu aja itu nggak bisa," kata ibu mengakhiri cerita."Tuhan marah, lalu mengembalikannya menjadi penjual kayu bakar seperti sedia kala".

Kami masih melongo menatap wajahnya dalam cahaya redup. Kemudian ibu bangkit dan mengajak kami makan malam. Ia menyendok nasi dari dandhang ke dalam beberapa piring kaleng warna-warni. Beras porase pembagian dari Kodam itu masih hangat mengepulkan bau karung goni yang apek. Bila sedang beruntung, ibu mengajak kita membakar tempe bungkusan atau ikan asin yang dibumbui air garam. Bila tidak, kami bisa membakar terasi atau cukup menaburi nasi dengan garam dan dikepret sedikit air teh hangat biar tidak seret di leher.

Sambil makan bersama, salah satu dari kami bertanya ingin tahu. "Trus gimana terusannya ceritanya bu?"

"Habis, kan sudah jadi penjual kayu bakar lagi. Tapi sekarang dia sadar akan kesalahannya" ibu menutup ceritanya dengan singkat.

Kami tidak begitu paham tentang cerita yang berputar-putar itu hingga waktu yang lama. Tapi rasanya masih lebih sengsara hidupnya si penjual kayu bakar.





**********

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 Hijriyah.

Mohon maaf Lahir dan Batin



Maaf juga kalo ceritanya nggak akurat ya... ;-)

Tuesday, September 25, 2007

Pak Tukang

Pak Imam menginjak pedal rem Honda CB100nya pelan-pelan. Kemudian ia turun dari sadel dan berjalan membuka pintu pagar rumah kami. Sejenak kemudian ia kembali ke sepeda motornya, mengangkat standar lalu mendorong setangnya memasuki teras rumahku. CB100 berwarna merah itu selalu menarik perhatian orang. Ia merawatnya dengan sangat baik, sehingga bagian2 logam yang dipernickel jadi sangat kinclong. Pernah suatu saat aku bertanya iseng padanya.

"Gak ganti motor baru aja pak?" tanyaku sambil berdiri menyandar tembok belakang rumah.

"Nggak ah mas, itu aja udah cukup," pak Imam meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala. Lalu bergerak meluruskan punggungnya yang letih. Perutnya jadi tampak membusung ke depan. Setelah itu dia sandarkan kedua kakinya ke dinding kolam ikan di depannya untuk sedikit bersantai. "Si kuntul masih bisa lari 70-80 lho. Waktu itu saya dipalangin, trus saya kejar. Pas dari deket nggak taunya cewek. Mukanya ketutupan helm. Yah, nggak jadi deh saya marahin."

Ia memberi nama si kuntul untuk CB100 kesayangannya.

"Setiap di lampu merah saya ditanyain melulu sama anak2 muda. Banyak yang nawar juga. Tapi nggak ah," lanjutnya jual mahal. "pernah saya dipalangin juga sama anak muda, pake motor baru. Saya kejar aja, trus saya marahin. Situ udah bisa naek motor apa belom sih? Kalo belom bisa, belajar dulu. Jangan bawa motor ke jalanan. Kalo mau ngadu, hayo. Tapi jangan adu cepet, saya pasti kalah. Kalo berani adu kepala. Situ ngadep sini, saya ngadep situ," dia bercerita seperti sedang menantang. "Biar saya tabrakin sekalian. Motor saya kan paling berapa juta, kalo dia kan paling nggak 20 juta. Biar ancur sekalian."

"Ampun pak, maaf, nggak sengaja," katanya begitu jawaban anak muda itu.

"Makanya kalo bawa motor jangan sembarangan dong. Hargai orang lain. Saya nih, situ belum ada udah bawa motor. Tapi nyetirnya nggak kayak situ," pak Imam mengakhiri ceritanya dengan kebijaksanaan.

Tapi harus diakui si kuntul memang motor yang istimewa. Ia teman setia pak Imam yang sudah mengantarnya pergi bekerja beribu-ribu kilometer. Dengan menaiki motor tua itu pak Imam bisa menghemat tenaga, waktu dan pengeluaran. Selisih yang sangat berharga untuk keluarga tukang batu seperti dia.

***

Bapak kenal pak Imam dari kakakku. Waktu itu pak Imam bekerja di rumah mertua Mas Sigit. Karena saat ini agak sulit mencari tukang yang baik, akhirnya bapak meminta bantuan pak Imam. Waktu itu kami ingin memperbaiki kamar mandi. Ternyata pak Imam memang pekerja yang baik. Waktu kerjanya disiplin, hasilnya rapi, dan penuh tanggung jawab. Ia juga bisa dimintai bantuan lain-lain.

Sejak pertama kami kenal, ia sudah berpasangan dengan Pak Man. Pria jangkung kurus dengan gigi mulai ompong. Aku tak tau bagaimana ceritanya kerjasama itu dimulai. Yang jelas hingga kini mereka selalu bekerja berdua.

Pak Man lain lagi. Ia pribadi yang agak ruwet. Mungkin karena keluarganya juga sedikit ruwet. Hidup pasti berat untuk mereka. Setiap hari adalah perjuangan untuk survive. Istri dan anaknya sakit. Bahkan tahun lalu anaknya meninggal. Sebenarnya di dalam, ia pria baik. Tekanan kehidupanlah yang membuat kalang kabut.

Yang agak mengganggu, kadang ia mengusulkan ide2nya yang nyeleneh. Payahnya lagi, bapak selalu menganggap ide2 itu sesuatu yang gemilang. Dasar bapak selera ndeso. Jadilah rumah kami nggak keruan bentuknya :D

***

Kali ini pak Imam dan pak Man membantu bapak membuat warung di depan rumah. Karena warung di kanan depan sudah diubah jadi garasi, maka Pak Imam terpaksa menebang pohon rambutan kesayangan yang ada di kanan depan. Warung itu untuk Mas Bayu. Akibat pengobatan untuk skizofrenia yang dideritanya, beberapa kemampuannya jadi menurun. Gerak motorisnya jadi lambat. Kemampuan berpikirnya juga berkurang. Artinya ia disarankan oleh dokter untuk menekuni pekerjaan yang sederhana. Karena itu, meskipun sudah sembuh, kami punya tugas untuk membantunya kembali produktif sesegera mungkin. Berpacu dengan usianya yang makin banyak.

Sudah lebih dari sebulan mereka berdua bekerja keras. Membuat pondasi, merangkai besi beton sebagai kerangka bangunan, membuat kusen jendela dan pintu, memasang keramik, menerapkan atap asbes dan eternit. Hari sabtu kemarin aku membantu pak Man menyambung aliran listrik ke rumah utama. Sedikit-sedikit kelihatan juga bentuknya yang agak ganjil. Lagi-lagi karena ide bapak yang ndeso itu.

Dalam bulan puasa ini, pekerjaan makin berat. Untuk datang ke rumah kami saja, mereka berdua harus berjuang menghadapi macet yg luar biasa. Belum lagi beberapa minggu ini si kuntul ikut ngadat. Udara panas jakarta membuat beban kedua orang tua itu makin berat. Berbuka puasa pun harus di perjalanan. Menambah biaya yang harus dikeluarkan saja.

"Aduh mas, saya jadi terasa lebih capek kalo ngelihat bangunan jadinya kayak begini. Tapi biarin aja deh mas, diemin aja kemauannya bapak begitu, abis susah dibilangin," katanya mengeluh. Agaknya ia tidak setuju dengan gagasan bapak tentang bangunan warung itu.

Aku hanya tersenyum kecut. Aku mengenal keras kepalanya bapak. Kalo diajak berdebat, bisa-bisa suasana rumah ribut melulu. Jadi kami semua sepakat membiarkan saja apa keinginannya. "Iya pak, nggak papa lah. Yang penting nanti kalo udah jadi semoga warungnya laris..." kataku menghibur.

Pak Imam membuka kaosnya yang basah oleh keringat, lalu merebahkan punggungnya ke lantai keramik yang baru kemarin ia pasang.

***

Tanpa terasa waktu melangkah begitu jauhnya. Tanah lapang di depan rumahku yang luasnya berhektar2 telah habis. Dalam beberapa puluh tahun, tanah yang dulunya sawah yang luas, padang rumput tempat ternak kami merumput telah berubah menjadi rumah-rumah besar dan kecil yang semrawut. Sedikit tanah yang tersisa karena pemiliknya tinggal di luar daerah menjadi tempat pembuangan sampah warga sekitar. Tidak ada yang tergerak memikirkan perasaan pemilik tanah itu bila melihat sebidang tanah miliknya berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Semua orang hanya ingin masalahnya sendiri selesai seketika.

Di depan rumahku para tukang batu yang berjongkok menikmati rokoknya itu sedang membangun sebuah rumah megah di petak kosong yang terakhir. Pemiliknya seorang jendral Angkatan Udara yang katanya sedang mempersiapkan masa pensiunnya. Sesekali kulihat pak Jenderal itu menengok pembangunannya dengan harley hitam besar yang menggeram keras.

"Tadi siang ibu ditanyain sama Tono, tukangnya pak Jenderal yang kecil2 itu anaknya, Gus," kata ibu. "Katanya kenapa ibu nggak bilang ke saya aja mau bikin warung? Kalo saya yang ngerjakan pasti udah selesai dari kemarin2. Nggak kayak tukangnya ibu, masang batu setepak aja dua hari."

Tukang-tukang itu bekerja pada seorang kontraktor berpengalaman yang tentu saja memilih anak-anak muda yang kuat sehingga bisa menyelesaikan proyek tepat waktu. Seminggu sebelum puasa, rumah itu harus selesai. Mereka semua akan kembali ke Jawa Timur untuk beristirahat. Setelah lebaran mereka akan kembali ke Jakarta untuk mengerjakan rumah yang lain. Karena ingin membawa uang lebih banyak saat lebaran, beberapa diantara mereka mulai mencari kerja lepas untuk mengisi kekosongan seminggu menjelang hari raya itu. Tapi tentu saja kami tidak menceritakan hal itu kepada Pak Imam dan Pak Man.

***

Sore itu Pak Imam menuntun si kuntul dengan bangga ke luar rumah. Hari ini bapak menyerahkan gaji mingguan kepada mereka berdua. Kami mengantar mereka ke depan gerbang sambil beramah tamah. Biar bagaimanapun kami telah mengenalnya begitu lama. Diantara kami dan mereka berdua sudah terbangun rasa hormat yang bersahaja.

Pak Imam menendang pedal starter CB100 merah hati itu. Mesin menyala dengan tergesa.

"Abis saya bersihin karburator dan businya jadi greng lagi kan mas?" Pak Imam tertawa lebar.

Ia mengenakan helm klasiknya yang lucu sambil memberi waktu pak Man untuk membonceng di belakangnya. Setelah siap, mereka mengangguk serempa.

"Monggo Bu, Pak, pareng rumiyiiin. Pulang dulu mas!" katanya setengah berteriak. Pak Man memamerkan turut memamerkan giginya yang ompong.

Kami mengangguk. Aku setengah tertawa melihatnya memacu si kuntul yang makin tua. Sungguh suatu kehidupan yang penuh semangat.

***



Bogor, 26 September 2007

Friday, August 31, 2007

Ciptakan relungmu sendiri

Dalam sebuah diskusi tentang strategi, Ibu Moira Moeliono, peneliti senior kami mengungkapkan tentang "niche" yang beliau terjemahkan secara unik dengan kata "relung". Waktu itu kami membicarakan posisi organisasi kami menghadapi masa depan. Bagaimana di usia melewati satu dekade, organisasi ini mendapat begitu banyak kesempatan namun pada saat yang bersamaan harus menghadapi tantangan yang luar biasa. Betapa semuanya itu membuat kita terperangah sehingga kita harus menarik nafas dalam-dalam, merenung sebelum berfikir untuk menentukan langkah ke depan.

Aku tidak akan membicarakan tentang kantor, karir dan lain-lain. Karena itu bisa sangat membosankan. Aku hanya tertarik dengan "relung" itu. Aku pikir, bukankah akhir2 ini kita juga memiliki masalah yang sama? Begitu banyak perubahan yang kita hadapi di dunia dewasa ini, yang sepertinya "too much that we can handle"?

Aku menghindar dari sebuah pembahasan yang membosankan, tapi malah beralih ke pembicaraan yang lebih klise lagi. Karena itu kalian boleh berpaling ke lembar lain yang lebih menarik daripada membaca pikiranku yang berikut ini.

Perubahan

Kita tak akan bisa lepas dari perubahan. Perubahan itu waktu. Kita dalam kungkungan waktu. Ada yang mengatakan bahwa kemampuan otak dan akal budi manusia itu tak terbatas. Namun kenyataannya, ia begitu kecil. Ia lekang. Karenanya manusia memotong-motong rangkaian panjang keabadian dalam periode2. Dalam detik, menit, hari bulan, tahun, windu, dekade, ulang tahun perak, emas, abad, milenia agar dapat memahami fenomena itu sedikit-sedikit.

Ibu ingat kata pertama yang diucapkan anaknya. Dan ketika anak itu dewasa, ia menitikkan air mata harunya melepas putrinya disunting kekasihnya. Sepasang kekasih mengenang pertemuan mereka untuk menyegarkan cinta mereka yang fluktuatif. Seorang karyawan menunggu hari gajian dengan harap-harap cemas berapa sisa yang dapat ia simpan untuk melanjutkan hidup hingga gajian berikutnya.

Manusia secara naluriah hanya mengingat apa yang menyenangkan mereka saja. Karena itu manusia terbatas. Mereka tidak dapat memahami bahwa rentang waktu adalah rangkaian panjang keabadian. Lihatlah keabadian itu. Di antara kesenangan ada kedukaan. Terpeleset, khilaf dan kesalahan. Atau paduan semuanya. Di antara malam dan siang ada fajar yang dingin dan pagi yang sejuk cerah. Di antara siang yang membakar dan malam yang gelap, ada lembayung senja yang syahdu. Dalam kefanaan cara pandang kita sebagai manusia, cobalah memahami cara pandang Tuhan yang menyeluruh.

Hidup bergerak dari satu titik ke ujung titik yang lain. Dalam pergerakan itu kita merangkak dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Dan pada saat yang bersamaan peristiwa-peristiwa juga berlangsung pada setiap unsur di semesta. Kadang tidak bersinggungan, namun seringkali orang-orang di sekitar kita menyentuh hidup kita begitu mendalam. Mereka menjadi berkah yang memberi keindahan atau sebaliknya meninggalkan luka. Gerakan waktu adalah perubahan itu.

Perubahan harusnya menyadarkan bahwa hidup ini tidak statis, tapi bergerak secara dinamis. Mengikuti gerak itu adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada yang dapat menghindar. Misalnya, kini dunia memiliki internet. Bagi alam, ia hanya sejumput kecil gaya yang menggerakkan semesta. Bagi manusia itu perubahan besar. Ia mengubah cara pandang kita terhadap semua. Ia seperti meredefinisi cara kita bertahan hidup. Seakan untuk hidup, tidak cukup hanya kerja keras dan semangat. Tapi juga kecerdasan dan kesempatan untuk mempelajari dan kemampuan mencerna banyak hal sekaligus.

Dunia digital membuka kesempatan bagi banyak orang. Membuka banyak bidang yang dahulu sangat ekslusif menjadi lebih egaliter. Fotografi jadi lebih mudah buat para pemula. Pemerintahan jadi lebih transparan. Navigasi darat, cukup dengan google earth dari layar pc kita. Dan banyak lagi.

Proses itu menggembirakan, tapi di sisi lain ia juga membuat kita linglung. Karena kecepatan perubahan itu datang, maka sedikit saja kita terlambat, sudah jauh ketinggalan. Begitu banyak informasi, dan tak ada lagi tempat bagi kita untuk berperan. Setiap orang telah memiliki spesialisasinya sendiri. Kita juga dapat melihat keunggulan kreasi manusia yang mengagumkan di belahan bumi yang lain. Sehingga membuat diri kita seakan tak ada apa-apanya, membuat ide cemerlang kita usang. Mendatangkan kekhawatiran sendiri dalam hati kita. Akankah kita dapat bertahan dalam gelombang perubahan? Meski harus tertatih2 mendayung segala daya? Dimanakah kita seharusnya berada?

Sebagai sebuah pribadi, manusia menemukan sarana baru dalam berkomunikasi. Orang-orang yang lebih introvert lebih mudah mengungkapkan perasaannya melalui email, blog, skype dan lain-lain. Orang-orang yang lebih ekstrovert lebih terbuka lagi terhadap ekplorasi perasaannya. Perkembangan social networking site seperti friendster, myspace dkk juga mengungkapkan cara baru bertatap muka. Ia tidak hanya memberi kesempatan kita berjumpa orang-orang yang memiliki kesamaan minat dengan kita, tapi juga memperkenalkan kita pada teman-teman baru dengan spektrum latar belakang yang jauh lebih luas. Melewati batasan lingkaran pergaulan di dunia nyata.

Tapi apakah semua itu membuat sebuah hubungan antar manusia menjadi lebih mudah? Rasanya tidak serta-merta demikian. Bahkan, bila kita tidak dapat mengelolanya dengan baik, dunia kita akan jadi hiruk pikuk.

Relungmu

Apakah itu sebuah ungkapan ketakutan? Mungkin ya. Memang pada hakikatnya manusia selalu ketakutan terhadap ketidak pastian. Sesuatu yang tidak bisa disentuh, dirasa, diduga oleh indranya secara langsung akan diasumsikan sebagai ancaman terhadap eksistensinya. Manusia seringkali terikat begitu akrab dengan wadag kasarnya yang lemah. Sehingga kadang ia lupa menuruti hakikatnya yang lebih mulia di alam rohani.

Bukankah secara rohaniah kita ini adalah percikan keabadian Sang Penguasa Hidup? jadi kenapa kita mesti takut terhadap perubahan? Kita datang dari keabadian, dan suatu saat akan kembali ke alam tanpa batas. Mengapa mesti kuatir?

Hidup adalah keseharian. Selama masih berpijak di tanah, kita akan berbicara atas kekasaran rupa kita ini. Lumrah sekali kalau sebagian besar manusia tunduk pada hukum ini. Dan selama hidupnya akan ditemani oleh kekuatiran2 itu.

Perubahan yang terjadi secara serempak pada setiap unsur semesta adalah kemajemukan hidup. Kemajemukan itu menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Karena ia berada di luar dirinya. Ia tak dapat kita kontrol. Karena itu ia adalah suatu ancaman bagi diri. Kita takut suatu saat jati diri kita akan tenggelam dalam kemajemukan citra individu lain di dunia ini.

Jadi, bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan? Apakah sedemikian rumitnya? Aku tidak dapat menjawabnya. Bagiku semuanya kembali kepada berkah Tuhan yang namanya kemajemukan alias keragaman itu sendiri? Aku memilih percaya kepada kejeniusan Tuhan dengan menciptakan keragaman sesuai kehendakNya tanpa kita minta. Ia seperti ibu yang punya anak banyak. Ia seakan punya anak yang favorit, yang lebih dicintai dibanding anak yang lain. Sehingga membuat kita iri dengan saudara kita. Padahal kasihNya tidak sesempit pandangan kita. KasihNya seperti sumber air yang sejuk abadi. Seperti udara yang tidak kita ketahui asal usulnya tapi membuat semua makhluk hidup bernafas lega. Semuanya kebagian.

Orang-orang tua jaman dulu sering mencoba membantu kita memahami hidup dengan ungkapan2 kuno yang terkesan kolot. Hidup hanya numpang ngombe, mampir minum. Jalani hidup seperti air mengalir dan lain sebagainya. Kita kadang merasa bahwa tantangan hidup kita dewasa ini jauh lebih canggih sehingga ungkapan2 itu seakan tak relevan lagi. Namun proses hidup bukan hal yang baru bagi alam. Ia merupakan pengulangan-pengulangan yang mengikuti pola2 tertentu. Hanya membutuhkan sebuah kelapangan dan kecermatan sudut pandang kita terhadap dunia agar dapat melihat pola-pola itu.

Melalui pemahaman itu kita akan melihat dimana posisi kita dalam permainan. Dari situlah awal kita menjelajah. Jelajahi segala potensimu. Dan barengi dengan keyakinan akan adanya keragaman tadi. Kehadiran kita di dunia ini adalah atas sebuah alasan yang ada di benak Tuhan. Alasan itu adalah keunikan setiap ciptaan. Dalam sebuah ekosistem, semua unsur alam memiliki fungsi tertentu. Seremeh2nya suatu unsur, ada perannya dalam harmoni orkestra kehidupan. Keyakinan itu akan memberi keteguhan dalam hati kita dalam menekuni bidang kita atau memberi kita energi untuk memulai penjelajahan baru melewati rentang kemampuan kita.

Jadilah unik dalam gayamu sendiri. Bila kamu menekuni sesuatu, tekunilah dengan mendalam. Banyak orang yang memiliki perhatian yang begitu luas. Tetaplah demikian, mungkin keluasan pengetahuan adalah keunikanmu. Tapi bila itu membuatmu tidak fokus, pilihlah mana yang benar2 kau suka. Ibarat kamu memilih kekasih, pekerjaanmu, hobimu, perhatianmu atas sesuatu bidang adalah teman yang akan mendampingimu menempuh hidup. Jadi jangan membuatnya membosankan.

Oh ya, ada yang bilang bahwa waktu adalah obat yang terbaik. Oleh sebab itu, manfaatkan waktu2 tertentu untuk merefleksi kehidupan kita. Jadikan tahapan2 hidup sebagai sebuah cermin untuk mendefinisikan hidup kita kembali. Dan mengisinya dengan hal-hal yang lebih menyenangkan lagi. Aku sekali waktu mengakui kebodohan, kekonyolan dan kepicikanku sendiri untuk tidak mengulanginya di lain kesempatan. Tapi justru saat itu aku merasa menjadi manusia biasa dan tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk diterima oleh suatu komunitas. Beauty is in the eyes of beholder. Biarkan penonton dengan asumsinya sendiri. Aku akan tetap memiliki kebebasan untuk mengatakan siapa diri kita sebenarnya.

Aku selalu merasa bahwa pada umumnya orang menyukai orang yang memiliki integritas pribadi. Bagiku itu adalah pedoman sebelum pada akhirnya aku akan menemukan relungku sendiri dalam kehidupan ini. Ini belum lagi membuahkan hasil, tapi baru sebuah ikhtiar belaka, jadi doakan semoga berhasil! ;-)


*******

gak terlalu konek dgn judulnya kan? namanya juga garing2an di siang hari... hehehe
bogor, 4 september 2007.