Hampir 40 tahun yang lalu seorang bayi lahir ke dunia ini. Ia lahir 2 bulan lebih cepat. Ibu bilang waktu lahir, kepala mas Ipok cuma sebesar kepalan tangan, bahkan mungkin lebih kecil lagi. Untuk bisa bertahan hidup ia harus tidur dalam inkubator dalam waktu lama. Setelah berat badannya bertambah, barulah ibu bisa membawanya pulang.
***
Bayi itu kebahagiaan, tapi juga keprihatinan yang dalam. Ia sangat sangat rapuh. Kena angin sedikit saja, tubuhnya membiru. Jaman sulit, ibu dan bapak orang miskin dengan begitu banyak bagasi yang harus dibawa. Saudara-saudara dari kampung yang mencari pekerjaan di Jakarta. Tidak ada yang dapat menyelamatkan bayi itu kecuali kasih sayang dan semangat hidup ibu.
Meski belum begitu pulih, beliau sudah mulai bekerja. Berjualan di warungnya yang sederhana. Yang lebih mirip bedeng daripada sebuah rumah anak beranak. Menggendong beras dari pasar cipinang, berjualan bawang, atau apa saja yang laku masa itu.
"Banyak yang ngatain ibu lho, cakep2 kok mau sama prajurit balok satu", ceritanya mengenang masa lalu. "Nggendongin beras berkuintal2 sampe mau pedhot rasanya pinggang ibu". Waktu itu bapak tentara balok satu itu banyak menjalankan tugas negara.
Bayi itu berhasil hidup. Namun hingga umurnya mencapai 4 tahun, ia tak bisa berjalan dan berbicara. Berat badannya pun tidak banyak bertambah.Ia lebih tampak seperti bayi cacat daripada anak yang normal.
"Nggak nyangka gedenya badung ya bu", kami tertawa.
"wah bukan cuma itu, wong hidup aja udah syukur" kata ibu. "Itu aja ibu bolak balik ke sinshe di Gajah Mada di tusuk jarum. Kalo nggak boro2 bisa jalan. Bangun aja nggak bisa." Katanya lagi.
"Tiap hari ibu bikinin bubur anak burung dara. Dulu belinya di Kampung Melayu", lanjutnya. "Baru deh beratnya nambah. Padahal jaman lagi susah-susahnya".
***
Yang aku ingat, mas Ipok memang masih sulit sekali bicara bahkan sampai mau tamat SD. Bicaranya tergagap-gagap. Badannya kurus kecil. Jalannya seperti orang cacat karena kakinya yang kurus agak pengkar melengkung mengarah ke huruf O. Saat kakakku mengantarnya ke sekolah, ia berjalan tertatih-tatih seakan tak mampu mengejar adiknya yang lebih sehat, Mas Sigit.
Sebelum berangkat ibu mendandaninya sama cakepnya dengan mas Sigit, adiknya yang ganteng. Dengan wangi minyak telon dan bedak talk yang tebal. Pakaian, sepatu, tas, plastik tempat kue dan botol minuman dibelikannya sama persis. Seakan mereka ksatria kembar yang gagah Nakula dan Sadewa.
"Bayu, nanti adiknya dituntun ya..." pesan ibu kepada kakakku. "Nyebrangnya ati-ati, liat kiri-kanan dulu..!" katanya lembut.
Aku yang belum bersekolah waktu itu mengingatnya sepotong2. Ibu memandang mereka dari jauh menghilang di tikungan jalan. Lalu ia mulai memasak di dapur sambil berjualan. Aku yang bertugas menjaga warung, duduk di bale-bale dekat ember2 lebar berisi beras. Bila ada pembeli, aku berteriak ke dalam rumah, "Buuu, ada yang beliii...!" Ibu akan bergegas ke luar dan melayani pembeli.
Di depan rumah adalah pasar inpres yang sangat ramai. Pelataran dan halaman di samping rumah penuh oleh pedagang, buah, ayam dan lain sebagainya. Mereka bertahun-tahun menumpang berjualan di halaman dengan gratis. Dulu persahabatan lebih bersahaja. Para pedagang yang mengayuh sepedanya dari tempat2 yang jauh di bekasi, bogor, pasar minggu dan citayam mengenal kami sebagai sebuah kelengkapan hidup. Karena itu ibu tak pernah kuatir membiarkan kami yang masih begitu kecil menjaga warung sendirian.
***
"Ibu paling kesel sama bu Ros tuh. Bu kepala sekolah aja udah mbolehin anak saya masuk sekolah, kok dia yang gencar banget menolak. Masa Ipok disuruh masukin SLB aja...", wajah ibu gemas mengingat kejadian itu.
Namun berkat kegigihan ibu, mas ipok masuk sekolah normal. Ibu memang benar2 takut anak itu harus masuk SLB. Sebab menurut pikirannya yang sederhana, nanti anak itu akan sulit mencari penghidupan dengan ijasah SLB. Harapannya agar mas ipok bisa ikut berkembang dengan perkembangan anak2 yang relatif normal.
Mungkin mas ipok memang lemah. Dalam beberapa psikotest, IQnya memang di bawah rata-rata. Ketika masuk kelas satu, ia sangat sulit belajar membaca. Bicarapun masih terbilang sulit. Untuk mengucapkan satu kata, kita harus menunggu beberapa detik.
Untuk membantunya bertahan di sekolah. Ibu mengajarnya sendiri di rumah. Belajar berhitung dengan potongan lidi, menghapalkan huruf dengan kartu2 yang dibuat sendiri dari karton bekas map, memegang tangan dan jari-jarinya yang kaku untuk menulis. Tanpa kenal lelah.
Beliau juga menerima keluhan dari guru2 tentang nilai2 mas ipok yang jeblok. Soal tulisannya yang seperti cakar ayam. Bagaimana susahnya di pelajaran olahraga. Tentang buang air besar di celana. Cemoohan orang tua murid lain tentang anak yang idiot.
Tapi buat ibu, itu semua hanya sejentik kekurangan. Ia begitu yakin bahwa dengan bimbingan yang tepat ia akan tumbuh seperti anak2 yang lain.
***
"Bu, tadi diledekin lagi sama tukang-tukang bengkel!" mas Bayu mengadu pada ibu setelah pulang sekolah. Dalam perjalanan ke sekolah, mereka memang harus melewati jajaran beberapa bengkel yang cukup banyak.
"Ipok diteriakin trus dikatain, katanya jalannya kayak John Wayne, kayak Jango! mana jalannya ditiru2in lagi..."
Itu loh jagoan koboi jaman dulu yang jalannya pengkar waktu mau duel adu tembak.
Mas Bayu sedikit bersungut. "Ipoknya malah ketawa lagi. Mana nggak mau dituntun, biar bisa cepet2 pergi..."
Waktu itu ia anak laki-laki paling besar. Nalarnya sudah jalan. Jadi bila ada yang menghina adik2nya dia yang paling galak. Apalagi mereka satu sekolahan. Ia yang harus menghadapi tantangan dunia sendirian. sehingga bagi anak lain ia seperti anak yang bengal.
"Tapi kecil2 tukang nembak tuh si ipok", mas bayu tertawa "kalo pas lagi 'kluar maen' biar nggak punya duit maen pesen bubur ayam aja... Atau mesen kue pancong aja nggak ngomong2..."
Kurasa anak itu hanya mengikuti rasa lapar saja. Ia pikir dunia ini seperti di rumah. Kue pun tinggal minta tanpa harus membayar. Betapa naifnya.
"Tapi ikut kebagian pancongnya kan?" adikku tertawa menggodanya.
"Iya sih, hehehe..." mas Bayu nyengir.
***
Dunia tidak hanya dipenuhi kemalangan. Tapi ia juga dihiasi oleh kebaikan dan ketulusan yang tak terbatas. Dan andaikata langit ini sebuah untaian mutu manikam kebaikan, ia akan dipenuhi zarah cahaya kosmis indah yang berpendar jatuh susul menyusul dengan halus mengalir dari seluruh semesta. Seperti jutaan berlian meteor berguguran yang berpindah untuk mengisi ruang2 kosong langit malam dengan cahaya.
Bayangkan bahwa kebaikan itu embun. Ia runtuh dari langit dan membasahi bumi pada pucuk2 daun muda. Di ujung jarum rerumputan. Dan pada bulu menjangan yang berminyak berkilauan. Tidak ada kehidupan tanpa kesejukan embun pagi hari. Di mana kulit biji-bijian yang keras melunak dan rekah alami tanpa keterpaksaan. Kebaikan adalah embun di beledu rerumputan yang meninggalkan jejak dari langkah kita. Sementara sinar matahari yang malu2 membias pada binar2nya yang sendu. Menjadi percikan cahaya mata bayi yang tertawa gembira oleh gelitik tangan bunda.
Alangkahnya adem hati yang menerima kebaikan. Hingga bumi membalasnya dengan membagi air ke langit. Meredam panas matahari yang menyengat. Memutar siklus kehidupan berabad-abad. Mungkin ibu dan bapak memang orang2 sederhana, sehingga jauh lebih banyak kebaikan yang dituai dari lingkungan sekelilingnya. Daripada pikiran-pikiran miring orang-orang yang sirik.
Demikianlah sehingga bertahun2 kemudian anak yang seharusnya tak lulus ujian hidup dapat menjadi dewasa. Melewati tahapan-tahapan kehidupan. Lulus SD, tak naik kelas di SMP Negeri, kemudian masuk SMA swasta lalu bekerja. Meski statusnya cuma pesuruh, tukang sapu, tapi ia bisa membuktikan dirinya mampu bertahan hidup selayaknya manusia.
Hingga kini perlakuan buruk yang diterima oleh orang2 yang kurang beruntung seperti mas ipok tidak berhenti. Tentu saja demikian juga cinta ibu dan bapak kepada kami semua. Itu yang membuat kami lebih berharga dari sebelumnya.
=======
Bogor, 17 Januari 2008
Monday, January 14, 2008
Sunday, December 30, 2007
Menua bersamamu
Ini bulan Desember. Hujan mulai turun semakin lebat. Hawa pancaroba yang menggigit masih tajam. Setelah musim panas yang panjang, sebenarnya udara dingin cukup menghibur. Kami bisa tidur dengan lebih nyaman. Tapi menjelang subuh, dingin berhembus bersama angin fajar merasuk hingga ke sumsum. Itu sangat menyiksa buat ibu dan bapak yang sudah sepuh. Rutinitas sholat subuh, ritual pagi hari seperti memasak air, menanak nasi dan lain-lain jadi lebih berat. Ibu dan bapak orang kuno, kewajiban seperti itu dijalankan dengan sangat tawadhu. Seperti ayam jago yang memang harus kukuruyuk pagi-pagi. Atau burung-burung prenjak yang meningkahi pagi dengan nyanyiannya yang ramai.
***
Idhul Adha memang tak dirayakan semeriah Idul Fitri. Ibu tentu paling sibuk. Sejak beberapa hari sebelumnya ibu berulang kali menanyakan kepadaku, masak ketupat atau nggak. Aku nggak keberatan tanpa ketupat. Semakin sederhana dan tidak membuatnya repot itu semakin bagus. Ibu tak bisa makan makanan semacam itu sejak lama sekali. Menu standar beliau hanya rebusan tahu, tempe, dan sayur bening. Buah2an seperti apel, pir atau jeruk sudah merupakan kemewahan buat beliau.
Tapi itu sama sekali tidak menghalangi beliau untuk membuat hari raya ini lebih baik. Ibu ingin memasak ketupat. Tampaknya ia sedang kangen dengan keponakanku yang paling kecil, Ririn. Sudah beberapa bulan setelah lebaran, mbakku sekeluarga tidak datang menginap ke rumah. Jakarta-Bogor tidak jauh, hanya kesibukan mencari nafkah yang membuat manusia seakan terpisah samudra. Sesekali mbak menelpon ke rumah. Lalu memberikan ujung telepon kepada Ririn yang baru belajar bicara.
"Mbah uti, ini Ririn mau ngomong..."
"Mana, Nit? Ririn... kapan ke rumah mbah?" Ririn lebih banyak diam, hanya sepotong2 kata yang belum begitu jelas. Itu sudah cukup menjadi bahan pembicaraan ibu selama beberapa jam ke depan. Untuk orang yg sudah melalui masa2 keemasannya, kebahagiaan kecil saja menjadi sangat berharga.
***
Laki-laki kalau sudah tua memang makin rewel. Makin keras kepala. Sering bercerita flashback masa lalu panjang lebar. Makin sulit dimengerti gagasan2nya. Bila punya keinginan, sulit menerima masukan. Kalaupun dia mau mendengar pendapat istri dan anak-anaknya, pada prakteknya idenya lah yang paling cespleng. Kamu tidak bisa berargumen dengannya. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah belajar menjadi lebih sabar. Penuh maklum.
Selain itu, dia jadi sensitif. Apa2 tersinggung, diambil hati dalam-dalam. Kebanggaannya sebagai pahlawan yang menanggung nafkah keluarga sudah berlalu. Hanya tersisa ego yang sering mengganggu perasaan. Jadi keras-lawan keras bukan pilihan yang baik. Apapun masukan yang kami berikan, bisa berputar kembali ke masalah itu lagi. Itulah Bapak. Pria yang kembali jadi kanak-kanak.
"Yah, sekarang saya memang nggak bisa nyari duit. Nggak berdaya apa2..." prajurit tua itu membuat kebekuan makin kaku.
Sekali waktu bapak pulang ke rumah dengan wajah pucat. Ia baru kembali dari kantor pos di Kemang Pratama. Ia merebahkan tubuhnya, bersandar di kursi panjang ruang keluarga. Ibu bertanya padanya. Ia hanya terdiam panjang. Hari itu, hari gajian pensiunan. Uang pensiunnya habis dicopet orang. Perlu waktu lama untuk menghiburnya lagi. Hidup kadang menggelora seperti samudera, dalam dan gelap. Menimbulkan kekuatiran yang mendalam. Sukar menerka apa kedukaan yg terkandung dalam hati seseorang. Seperti juga betapa rahasianya letak sumber kebahagiaan orang-orang terdekat kita.
***
Ada kalanya topik pembicaraan itu muncul.
"Pak, kamu milih mana, aku yang mati duluan atau kamu duluan? tanya ibuku.
"Pasti aku duluan ya? Kalo Ibu mati duluan, paling bapakmu kawin lagi... Liatin aja".
Kami tertawa.
"Laki-laki dimana-mana sama aja", lanjutnya lagi. "Paling cuma bapakku aja, Mbah Mun". Ia bercerita tentang mendiang kakekku.
"Itu baru laki-laki setia. Biarpun ditinggal mati mbah Losiah, dia nggak kawin lagi! Padahal anaknya sembilan, dia urus sendiri".
Bapak hanya terdiam, senyum dikulum :)
"Kalo kamu mau dikubur dimana, Pak?" ibu bertanya lagi.
"Saya sih terserah yang hidup aja", kata bapak pasrah.
"Tapi bapakmu sih bisa dikubur di Taman Makam Pahlawan, dia kan punya tanda jasa", kata ibu. "Kamu gak kepengen dikubur di kampung?"
"Saya sih dimana aja sama aja" bapak cuma tersenyum. Ia merangkul adik perempuanku yang duduk di sampingnya. Menariknya dalam pelukannya, lalu mencium ubun2nya sambil tetap tersenyum.
Kadang-kadang adikku meronta-ronta.
"Ih, bapak! Nggak mau, tadi kan abis megang-megang ulat!"
Bapak tertawa. Memang tadi ia baru saja selesai berkebun.
***
Idhul Adha tahun ini agak sedikit meriah dengan kehadiran Ririn. Gadis mungil itu sudah bisa berjalan dan mengucapkan beberapa kata. Semua orang ingin berada di dekatnya. Bapak senang sekali, karena Ririn tidak takut lagi dicium. Setiap ada kesempatan ia menciumnya dengan sayang. Sampai gadis itu bergidik oleh kumis dan janggut bapak yang terlambat dicukur.
Ibu juga demikian. Ia seperti lupa dengan ketuaannya. Ia menggendong Ririn dan mengajaknya bercanda. Aku membayangkan ketika beliau menimang Mbakku waktu kecil dulu. Bagaimana ia memeluknya, merapikan rambut gadis kecil itu, mengusap wajahnya dari bekas makanan, semuanya begitu alamiah.
Mungkin ini yang paling berharga dari sebuah hari raya. Ketika semoua orang berkumpul dengan keluarga masing-masing dan membiarkan kenangan-kenangan yang baik memenuhi perasaan kita semua. Perbedaan, kesalahpahaman, dan persoalan-persoalan yang tak terselesaikan mengabur seperti kabut. Tinggal butiran-butiran embun yang membiaskan cahaya yang indah menjelang fajar.
***
Angin bertiup keras tanpa henti. Berubah arah tak menentu. Menderu seakan meneriakkan keluh-kesah kesulitan duniawi. Orang-orang susah, tak punya rumah, bayi-bayi yang menyedot puting yang hampa, dagangan yang tak laku-laku, para pekerja yang kehilangan waktunya di kemacetan, buruh-buruh yang berbulan-bulan tak dibayar, dan rumah-rumah di bantaran kali yang tergusur. Semuanya menguap dalam tiupan angin yang dingin membeku. Awan hitam adalah wajah Tuhan yang muram melihat kejahatan yang datang dari kekhilafan yang dibuat-buat. Musim yang tertunda, perubahan iklim adalah kewarasan yang memudar.
"Ini angin musim bediding* kayaknya. Dingin banget! Ibu udah kemulan kok masih terasa dinginnya", ibu mengeluh sejak tadi sore.
"Iya nih, aku juga kedinginan kok, bu", adikku yang perempuan mengiyakan."Sini aku gantiin air panasnya". Adikku mengambil tabung plastik air minum yang digunakan ibu untuk menghangatkan tubuh. Tanpa itu, ia hampir tak dapat tidur.
***
Aku tipe orang yang tetap waspada ketika tidur. Jadi ketika bapak mengetuk pintu kamatku, aku sudah terjaga. Kupingku mendengar ada orang yang bangun, sehingga aku langsung terbangun. Bapak mengajakku mengantar ibu ke rumah sakit. Jam setengah 3 tadi ibu "nglilir" ternyata beliau kena diare. Tubuhnya lemas dan dia takut nggak kuat.
Aku segera berpakaian dan pergi ke garasi memanaskan mesin mobil. Sial, mesin mobilku enggan menyala. Memang sudah beberapa bulan ini mobilku lebih banyak diam di kandang. Paling seminggu sekali aku panaskan mesinnya. Namun dua minggu terakhir ini ia sama sekali tidak pernah kusentuh. Apalagi malam itu hujan terus turun.
Nggak ada jalan lain, terpaksa harus naik motor. Kakak iparku membonceng ibu, aku membonceng bapak. Hujan rintik-rintik terus bejatuhan. Aku sampai menggigil menembus dinginnya malam. Meskipun kesadaranku belum pulih dari tidur, kami tiba di rumah sakit dengan selamat. Di UGD, dokter memeriksa kondisi ibu. Setelah menebus obat di apotik, ibu boleh pulang.
Setibanya di rumah, ibu terbaring lemas. Kami membantunya dengan membasuh tangan dan kakinya dengan minyak kayu putih, memberi termos panasnya, dan menyelimutinya dengan selimut yg tebal. Ketika aku meninggalkannya agar bisa tidur, bapak duduk disisi tempat tidur memandangi ibu. Tangannya memegang kakinya yang dingin.
Aku sendiri berjuang melawan dingin dengan menonton televisi di kamar. Setelah beberapa waktu, aku bangkit menengok ibu di kamar. Ibu sudah tertidur. Disampingnya, bapak memeluknya dengan sebelah tangannya. Sudah agak lama mereka jarang tidur berdampingan. Karena mereka punya irama hidup yang berbeda. Bapak banyak terjaga, karena itu beliau mengisinya dengan mengaji atau sholat malam.
Rambut ibu yang putih agak awut-awutan di atas dahinya. Sementara Bapak, pria keras itu sudah mendekati botak. Tapi semakin tua, bapak lebih banyak diam menghadapi ibu.
"Ibu kamu itu nggak pernah kemana2, hidupnya cuma ngurusin kamu semua aja" katanya lirih. "Makanya bapak mendingan diam aja"
Aku mengerti. Kututup pintu kamar itu pelan2. Bapak kelihatan sangat takut kehilangan Ibu. Karenanya pelukan itu jadi indah.
Bogor, 31 Desember 2007.
***
Idhul Adha memang tak dirayakan semeriah Idul Fitri. Ibu tentu paling sibuk. Sejak beberapa hari sebelumnya ibu berulang kali menanyakan kepadaku, masak ketupat atau nggak. Aku nggak keberatan tanpa ketupat. Semakin sederhana dan tidak membuatnya repot itu semakin bagus. Ibu tak bisa makan makanan semacam itu sejak lama sekali. Menu standar beliau hanya rebusan tahu, tempe, dan sayur bening. Buah2an seperti apel, pir atau jeruk sudah merupakan kemewahan buat beliau.
Tapi itu sama sekali tidak menghalangi beliau untuk membuat hari raya ini lebih baik. Ibu ingin memasak ketupat. Tampaknya ia sedang kangen dengan keponakanku yang paling kecil, Ririn. Sudah beberapa bulan setelah lebaran, mbakku sekeluarga tidak datang menginap ke rumah. Jakarta-Bogor tidak jauh, hanya kesibukan mencari nafkah yang membuat manusia seakan terpisah samudra. Sesekali mbak menelpon ke rumah. Lalu memberikan ujung telepon kepada Ririn yang baru belajar bicara.
"Mbah uti, ini Ririn mau ngomong..."
"Mana, Nit? Ririn... kapan ke rumah mbah?" Ririn lebih banyak diam, hanya sepotong2 kata yang belum begitu jelas. Itu sudah cukup menjadi bahan pembicaraan ibu selama beberapa jam ke depan. Untuk orang yg sudah melalui masa2 keemasannya, kebahagiaan kecil saja menjadi sangat berharga.
***
Laki-laki kalau sudah tua memang makin rewel. Makin keras kepala. Sering bercerita flashback masa lalu panjang lebar. Makin sulit dimengerti gagasan2nya. Bila punya keinginan, sulit menerima masukan. Kalaupun dia mau mendengar pendapat istri dan anak-anaknya, pada prakteknya idenya lah yang paling cespleng. Kamu tidak bisa berargumen dengannya. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah belajar menjadi lebih sabar. Penuh maklum.
Selain itu, dia jadi sensitif. Apa2 tersinggung, diambil hati dalam-dalam. Kebanggaannya sebagai pahlawan yang menanggung nafkah keluarga sudah berlalu. Hanya tersisa ego yang sering mengganggu perasaan. Jadi keras-lawan keras bukan pilihan yang baik. Apapun masukan yang kami berikan, bisa berputar kembali ke masalah itu lagi. Itulah Bapak. Pria yang kembali jadi kanak-kanak.
"Yah, sekarang saya memang nggak bisa nyari duit. Nggak berdaya apa2..." prajurit tua itu membuat kebekuan makin kaku.
Sekali waktu bapak pulang ke rumah dengan wajah pucat. Ia baru kembali dari kantor pos di Kemang Pratama. Ia merebahkan tubuhnya, bersandar di kursi panjang ruang keluarga. Ibu bertanya padanya. Ia hanya terdiam panjang. Hari itu, hari gajian pensiunan. Uang pensiunnya habis dicopet orang. Perlu waktu lama untuk menghiburnya lagi. Hidup kadang menggelora seperti samudera, dalam dan gelap. Menimbulkan kekuatiran yang mendalam. Sukar menerka apa kedukaan yg terkandung dalam hati seseorang. Seperti juga betapa rahasianya letak sumber kebahagiaan orang-orang terdekat kita.
***
Ada kalanya topik pembicaraan itu muncul.
"Pak, kamu milih mana, aku yang mati duluan atau kamu duluan? tanya ibuku.
"Pasti aku duluan ya? Kalo Ibu mati duluan, paling bapakmu kawin lagi... Liatin aja".
Kami tertawa.
"Laki-laki dimana-mana sama aja", lanjutnya lagi. "Paling cuma bapakku aja, Mbah Mun". Ia bercerita tentang mendiang kakekku.
"Itu baru laki-laki setia. Biarpun ditinggal mati mbah Losiah, dia nggak kawin lagi! Padahal anaknya sembilan, dia urus sendiri".
Bapak hanya terdiam, senyum dikulum :)
"Kalo kamu mau dikubur dimana, Pak?" ibu bertanya lagi.
"Saya sih terserah yang hidup aja", kata bapak pasrah.
"Tapi bapakmu sih bisa dikubur di Taman Makam Pahlawan, dia kan punya tanda jasa", kata ibu. "Kamu gak kepengen dikubur di kampung?"
"Saya sih dimana aja sama aja" bapak cuma tersenyum. Ia merangkul adik perempuanku yang duduk di sampingnya. Menariknya dalam pelukannya, lalu mencium ubun2nya sambil tetap tersenyum.
Kadang-kadang adikku meronta-ronta.
"Ih, bapak! Nggak mau, tadi kan abis megang-megang ulat!"
Bapak tertawa. Memang tadi ia baru saja selesai berkebun.
***
Idhul Adha tahun ini agak sedikit meriah dengan kehadiran Ririn. Gadis mungil itu sudah bisa berjalan dan mengucapkan beberapa kata. Semua orang ingin berada di dekatnya. Bapak senang sekali, karena Ririn tidak takut lagi dicium. Setiap ada kesempatan ia menciumnya dengan sayang. Sampai gadis itu bergidik oleh kumis dan janggut bapak yang terlambat dicukur.
Ibu juga demikian. Ia seperti lupa dengan ketuaannya. Ia menggendong Ririn dan mengajaknya bercanda. Aku membayangkan ketika beliau menimang Mbakku waktu kecil dulu. Bagaimana ia memeluknya, merapikan rambut gadis kecil itu, mengusap wajahnya dari bekas makanan, semuanya begitu alamiah.
Mungkin ini yang paling berharga dari sebuah hari raya. Ketika semoua orang berkumpul dengan keluarga masing-masing dan membiarkan kenangan-kenangan yang baik memenuhi perasaan kita semua. Perbedaan, kesalahpahaman, dan persoalan-persoalan yang tak terselesaikan mengabur seperti kabut. Tinggal butiran-butiran embun yang membiaskan cahaya yang indah menjelang fajar.
***
Angin bertiup keras tanpa henti. Berubah arah tak menentu. Menderu seakan meneriakkan keluh-kesah kesulitan duniawi. Orang-orang susah, tak punya rumah, bayi-bayi yang menyedot puting yang hampa, dagangan yang tak laku-laku, para pekerja yang kehilangan waktunya di kemacetan, buruh-buruh yang berbulan-bulan tak dibayar, dan rumah-rumah di bantaran kali yang tergusur. Semuanya menguap dalam tiupan angin yang dingin membeku. Awan hitam adalah wajah Tuhan yang muram melihat kejahatan yang datang dari kekhilafan yang dibuat-buat. Musim yang tertunda, perubahan iklim adalah kewarasan yang memudar.
"Ini angin musim bediding* kayaknya. Dingin banget! Ibu udah kemulan kok masih terasa dinginnya", ibu mengeluh sejak tadi sore.
"Iya nih, aku juga kedinginan kok, bu", adikku yang perempuan mengiyakan."Sini aku gantiin air panasnya". Adikku mengambil tabung plastik air minum yang digunakan ibu untuk menghangatkan tubuh. Tanpa itu, ia hampir tak dapat tidur.
***
Aku tipe orang yang tetap waspada ketika tidur. Jadi ketika bapak mengetuk pintu kamatku, aku sudah terjaga. Kupingku mendengar ada orang yang bangun, sehingga aku langsung terbangun. Bapak mengajakku mengantar ibu ke rumah sakit. Jam setengah 3 tadi ibu "nglilir" ternyata beliau kena diare. Tubuhnya lemas dan dia takut nggak kuat.
Aku segera berpakaian dan pergi ke garasi memanaskan mesin mobil. Sial, mesin mobilku enggan menyala. Memang sudah beberapa bulan ini mobilku lebih banyak diam di kandang. Paling seminggu sekali aku panaskan mesinnya. Namun dua minggu terakhir ini ia sama sekali tidak pernah kusentuh. Apalagi malam itu hujan terus turun.
Nggak ada jalan lain, terpaksa harus naik motor. Kakak iparku membonceng ibu, aku membonceng bapak. Hujan rintik-rintik terus bejatuhan. Aku sampai menggigil menembus dinginnya malam. Meskipun kesadaranku belum pulih dari tidur, kami tiba di rumah sakit dengan selamat. Di UGD, dokter memeriksa kondisi ibu. Setelah menebus obat di apotik, ibu boleh pulang.
Setibanya di rumah, ibu terbaring lemas. Kami membantunya dengan membasuh tangan dan kakinya dengan minyak kayu putih, memberi termos panasnya, dan menyelimutinya dengan selimut yg tebal. Ketika aku meninggalkannya agar bisa tidur, bapak duduk disisi tempat tidur memandangi ibu. Tangannya memegang kakinya yang dingin.
Aku sendiri berjuang melawan dingin dengan menonton televisi di kamar. Setelah beberapa waktu, aku bangkit menengok ibu di kamar. Ibu sudah tertidur. Disampingnya, bapak memeluknya dengan sebelah tangannya. Sudah agak lama mereka jarang tidur berdampingan. Karena mereka punya irama hidup yang berbeda. Bapak banyak terjaga, karena itu beliau mengisinya dengan mengaji atau sholat malam.
Rambut ibu yang putih agak awut-awutan di atas dahinya. Sementara Bapak, pria keras itu sudah mendekati botak. Tapi semakin tua, bapak lebih banyak diam menghadapi ibu.
"Ibu kamu itu nggak pernah kemana2, hidupnya cuma ngurusin kamu semua aja" katanya lirih. "Makanya bapak mendingan diam aja"
Aku mengerti. Kututup pintu kamar itu pelan2. Bapak kelihatan sangat takut kehilangan Ibu. Karenanya pelukan itu jadi indah.
Bogor, 31 Desember 2007.
Tuesday, December 18, 2007
Now Please!
Wow, sebuah Ford Mustang 69 merah terdiam di ujung lapangan parkir kantor! Aku datang terlambat pagi ini, tapi persetan dengan segala tata krama itu. Aku harus melihat mobil itu dulu. Bukan BMW atau Mercy terbaru, tapi Mustang. Aku berjalan berkeliling memandangi mobil itu dari jarak 2 meteran. Memang tidak semulus yang kubayangkan, tapi tetap istimewa. Seakan aku bisa merasakan lekukan tubuhnya yang elok. Aku mendekat, melongok melalui kaca jendelanya yang hitam untuk melihat interiornya. Ini karya seni, bukan sekedar tunggangan biasa.
"Mobil siapa nih pak?" tanyaku pada pak satpam yang sedang bertugas.
"Mobilnya pak Santo, mas", jawab beliau.
Hmm rupanya Santo, manusia unik itu... Rupanya tidak cuma unik, tapi punya taste juga dia. Aku tinggalkan lapangan parkir. Sekarang waktunya bekerja.
***
Santo adalah the travel guy, wakil staf perusahaan travel yang berkantor di sini. Aku tidak kenal dekat dengannya. Tapi dia baik. Dia orang yang dengan mudah membaur dengan suasana. Dia inklusif, berbicara dengan semua orang, boss atau kroco dengan sama intensnya.
"Masih pake mesin aslinya, To?" tanyaku tentang Mustangnya.
"Udah gua ganti, gus, pake mesin kijang", katanya. "Orang pake bmw udah biasa. Tapi kalo gua ke jalan pake si merah, orang pasti nengok, iya opo ra, Son?" ia tertawa menyeringai. "Tapi jarang gua bawa jalan, Gus, sayang". Lanjutnya lagi.
Pria itu sudah berkeluarga. Ada seorang gadis kecil yang meramaikan kehidupannya sekarang ini. Gadis kecil itu yang selalu membuatnya ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Ia bukan lagi lelaki bergajulan yang lalu. Ia sangat berharga.
***
Keliatannya dia sangat suka warna biru. Setiap hari pakai kemeja lengan panjang warna biru, digulung sedikit mendekati siku. Rambutnya panjang sebahu. Dengan celana jeans straightnya yang khas, ia melenggang gontai melewati lorong. Di depan meja kerjaku ia selalu berhenti sejenak. Biasanya itu sudah waktunya sholat.
"Ayo malih, sholat dulu!" ajaknya. "Now, please!" ia nyengir kuda.
"Hehehe, tar dulu son, gue lagi nanggung nih..." aku selalu saja menunda ajakannya. "Duluan deh, tar gue susul".
"Bener ye...?" ia menegaskan. "Be there... or left behind!" tawa kami meledak :D
Ritual itu selalu saja diulangnya setiap saat. Setidaknya, sampai sekarang ia masih belum bosan. Setiap berhenti, ia mulai dengan variasi ajakan terbaru.
"Tinggalkan duniawi sejenak bro..."
"Lupakan berhala2 itu..."
"Haya ala sholla, tinggalkan transaksi yang sedang berlangsung..."
Semuanya diakhiri dengan tawa.
***
Sebentar lagi jam 7 malam. Hujan tidak keliatan mau reda. So, kami memutuskan pulang saja. Kebetulan kami bisa nebeng mobil Indra. Santo juga ikut. Beberapa minggu belakangan ini ia sangat sibuk, sehingga harus pulang agak malam. Maklum, ia harus melayani banyak orang. Menjelang konferensi perubahan iklim di Bali, banyak scientist yang berdatangan, belum lagi BOT meeting pertengahan Desember ini. Banyak sekali jadwal penerbangan yang harus diatur.
"Puyeng nih gue, mesti ngitung mileage segala" katanya mengeluh. "Gara-gara greening cifor-icraf nih, gue yang kebagian pe-er".
Mau bagaimana lagi, karena mau jadi kantor yang environmentally friendly, jadwal penerbangan juga mesti diatur sedemikian rupa agar emisi karbonnya serendah mungkin. Caranya yah dengan memperhitungkan jarak yang paling efisien. Itu berarti ekstra pekerjaan buat staf biro travel.
"Ngomong2 gimana bini loe? Udah sembuh, To?" salah satu dari kami bertanya tentang istrinya yang kena flek.
"Udah, tapi mesti istirahat, kagak boleh capek dulu" jawabnya. "Oh iya, weekend kemaren temen lama gue mampir ke rumah. Gua disuruh turunin itu poster jahiliyah, rolling stone. Gimana coba, son?" Dia tertawa lebar, kami ikut terpingkal2.
Sejak sakitnya Mbak Suma oleh kanker, kami membiasakan saling membacakan al fatihah setelah sholat berjamaah buat rekan2 yang sedang dapat musibah. Itu juga berkat si gondrong. Ketika ia harus menunggu istrinya yang sakit, kami gantian berdoa untuknya.
***
Suatu sore, kami menjenguk istri teman kantor yang sedang sakit. Katanya, air ketuban istrinya rembes, jadi harus dirawat. Kemungkinan dokter akan mengoperasi cesar. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.
Kami berempat menunggu sejenak di ruang tunggu. Si calon bapak sedang menunggu di dalam ruang perawatan. Aku satu-satunya bujangan. Jadi hanya bengong saja mendengar cerita tentang kelahiran putra putri mereka.
"To, gimane rasanya punya anak?" aku mengajukan pertanyaan bodoh.
"Wah, gimane ye... susah digambarin dah", ia bercerita panjang lebar tentang proses kelahiran buah hatinya dan betapa berat perjuangan wanita. "Waktu pertama kali gw gendong anak gue... Gak bisa gw ungkapin dengan kata2 deh. Ternyata ye, gue bisa juga punya anak!"
"Nah, itu loe nggak bakal ngerti dah, son. Biar gua jelasin juga percuma...", ia tertawa.
"Hahaha, sialan loe...", seruku. "Tapi iya sih. Gue gak bisa ngebayangin." Aku tersenyum.
Ia masih saja tertawa. tapi matanya berbinar, seakan-akan menembus ruang, jarak dan waktu, langsung menuju kepada momen lampau yang berputar ulang dalam kenangannya.
"Itu lah son, makanya... ibaratnya nih kita minta ambilin koran sama anak gue. Padahal gua bisa sih ngambil sendiri, cuma kita mau ngetes aja", ia mulai bercerita. "Anggie, coba ambilin koran buat papa sayang. Trus jawabnya apa? Enggak ah papa, Anggie kan lagi sibuk papa... lagi main..."
Ia begitu bersungguh-sungguh.
"Gitu juga kita ama Tuhan, son. Kita dipanggil sholat, suka entar2. Padahal Dia nggak butuh kita sembah. Ibaratnya itu tadi, dia cuma ngetest kita. Tapi dia tetep sayang ama kita. Betapa sayangnya gua sama anak gua..." ia menarik nafas dan menyandarkan kepalanya pada sofa yang sesak oleh kami berempat.
Aku tersenyum lagi. Mas Yahya, si calon bapak, mengajak kita masuk ke ruang perawatan untuk menjenguk istrinya.
"Memang pertanyaan bodoh!" umpatku dalam hati. Bukankah itu akan tetap menjadi rahasia bagiku hingga saatnya tiba nanti?
Tapi bagaimana pria seperti Santo dapat menunjukkan empati kepada Mas Yahya dan istrinya, benar2 indah. Seperti Tuhan sedang mencium sayang Angie dengan bibirnya sendiri.
Bogor, Desember 19, 2007
***
"Mobil siapa nih pak?" tanyaku pada pak satpam yang sedang bertugas.
"Mobilnya pak Santo, mas", jawab beliau.
Hmm rupanya Santo, manusia unik itu... Rupanya tidak cuma unik, tapi punya taste juga dia. Aku tinggalkan lapangan parkir. Sekarang waktunya bekerja.
***
Santo adalah the travel guy, wakil staf perusahaan travel yang berkantor di sini. Aku tidak kenal dekat dengannya. Tapi dia baik. Dia orang yang dengan mudah membaur dengan suasana. Dia inklusif, berbicara dengan semua orang, boss atau kroco dengan sama intensnya.
"Masih pake mesin aslinya, To?" tanyaku tentang Mustangnya.
"Udah gua ganti, gus, pake mesin kijang", katanya. "Orang pake bmw udah biasa. Tapi kalo gua ke jalan pake si merah, orang pasti nengok, iya opo ra, Son?" ia tertawa menyeringai. "Tapi jarang gua bawa jalan, Gus, sayang". Lanjutnya lagi.
Pria itu sudah berkeluarga. Ada seorang gadis kecil yang meramaikan kehidupannya sekarang ini. Gadis kecil itu yang selalu membuatnya ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Ia bukan lagi lelaki bergajulan yang lalu. Ia sangat berharga.
***
Keliatannya dia sangat suka warna biru. Setiap hari pakai kemeja lengan panjang warna biru, digulung sedikit mendekati siku. Rambutnya panjang sebahu. Dengan celana jeans straightnya yang khas, ia melenggang gontai melewati lorong. Di depan meja kerjaku ia selalu berhenti sejenak. Biasanya itu sudah waktunya sholat.
"Ayo malih, sholat dulu!" ajaknya. "Now, please!" ia nyengir kuda.
"Hehehe, tar dulu son, gue lagi nanggung nih..." aku selalu saja menunda ajakannya. "Duluan deh, tar gue susul".
"Bener ye...?" ia menegaskan. "Be there... or left behind!" tawa kami meledak :D
Ritual itu selalu saja diulangnya setiap saat. Setidaknya, sampai sekarang ia masih belum bosan. Setiap berhenti, ia mulai dengan variasi ajakan terbaru.
"Tinggalkan duniawi sejenak bro..."
"Lupakan berhala2 itu..."
"Haya ala sholla, tinggalkan transaksi yang sedang berlangsung..."
Semuanya diakhiri dengan tawa.
***
Sebentar lagi jam 7 malam. Hujan tidak keliatan mau reda. So, kami memutuskan pulang saja. Kebetulan kami bisa nebeng mobil Indra. Santo juga ikut. Beberapa minggu belakangan ini ia sangat sibuk, sehingga harus pulang agak malam. Maklum, ia harus melayani banyak orang. Menjelang konferensi perubahan iklim di Bali, banyak scientist yang berdatangan, belum lagi BOT meeting pertengahan Desember ini. Banyak sekali jadwal penerbangan yang harus diatur.
"Puyeng nih gue, mesti ngitung mileage segala" katanya mengeluh. "Gara-gara greening cifor-icraf nih, gue yang kebagian pe-er".
Mau bagaimana lagi, karena mau jadi kantor yang environmentally friendly, jadwal penerbangan juga mesti diatur sedemikian rupa agar emisi karbonnya serendah mungkin. Caranya yah dengan memperhitungkan jarak yang paling efisien. Itu berarti ekstra pekerjaan buat staf biro travel.
"Ngomong2 gimana bini loe? Udah sembuh, To?" salah satu dari kami bertanya tentang istrinya yang kena flek.
"Udah, tapi mesti istirahat, kagak boleh capek dulu" jawabnya. "Oh iya, weekend kemaren temen lama gue mampir ke rumah. Gua disuruh turunin itu poster jahiliyah, rolling stone. Gimana coba, son?" Dia tertawa lebar, kami ikut terpingkal2.
Sejak sakitnya Mbak Suma oleh kanker, kami membiasakan saling membacakan al fatihah setelah sholat berjamaah buat rekan2 yang sedang dapat musibah. Itu juga berkat si gondrong. Ketika ia harus menunggu istrinya yang sakit, kami gantian berdoa untuknya.
***
Suatu sore, kami menjenguk istri teman kantor yang sedang sakit. Katanya, air ketuban istrinya rembes, jadi harus dirawat. Kemungkinan dokter akan mengoperasi cesar. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.
Kami berempat menunggu sejenak di ruang tunggu. Si calon bapak sedang menunggu di dalam ruang perawatan. Aku satu-satunya bujangan. Jadi hanya bengong saja mendengar cerita tentang kelahiran putra putri mereka.
"To, gimane rasanya punya anak?" aku mengajukan pertanyaan bodoh.
"Wah, gimane ye... susah digambarin dah", ia bercerita panjang lebar tentang proses kelahiran buah hatinya dan betapa berat perjuangan wanita. "Waktu pertama kali gw gendong anak gue... Gak bisa gw ungkapin dengan kata2 deh. Ternyata ye, gue bisa juga punya anak!"
"Nah, itu loe nggak bakal ngerti dah, son. Biar gua jelasin juga percuma...", ia tertawa.
"Hahaha, sialan loe...", seruku. "Tapi iya sih. Gue gak bisa ngebayangin." Aku tersenyum.
Ia masih saja tertawa. tapi matanya berbinar, seakan-akan menembus ruang, jarak dan waktu, langsung menuju kepada momen lampau yang berputar ulang dalam kenangannya.
"Itu lah son, makanya... ibaratnya nih kita minta ambilin koran sama anak gue. Padahal gua bisa sih ngambil sendiri, cuma kita mau ngetes aja", ia mulai bercerita. "Anggie, coba ambilin koran buat papa sayang. Trus jawabnya apa? Enggak ah papa, Anggie kan lagi sibuk papa... lagi main..."
Ia begitu bersungguh-sungguh.
"Gitu juga kita ama Tuhan, son. Kita dipanggil sholat, suka entar2. Padahal Dia nggak butuh kita sembah. Ibaratnya itu tadi, dia cuma ngetest kita. Tapi dia tetep sayang ama kita. Betapa sayangnya gua sama anak gua..." ia menarik nafas dan menyandarkan kepalanya pada sofa yang sesak oleh kami berempat.
Aku tersenyum lagi. Mas Yahya, si calon bapak, mengajak kita masuk ke ruang perawatan untuk menjenguk istrinya.
"Memang pertanyaan bodoh!" umpatku dalam hati. Bukankah itu akan tetap menjadi rahasia bagiku hingga saatnya tiba nanti?
Tapi bagaimana pria seperti Santo dapat menunjukkan empati kepada Mas Yahya dan istrinya, benar2 indah. Seperti Tuhan sedang mencium sayang Angie dengan bibirnya sendiri.
Bogor, Desember 19, 2007
***
Sunday, December 09, 2007
Apa itu Offshore Account?
Bagi sebagian orang ini merupakan istilah yang asing. Tapi bagi mereka yang bergerak di bidang finansial, ini bukan istilah aneh. Tak perlu banyak basa-basi, Offshore Account artinya adalah rekening di bank atau lembaga finansial di luar negeri, di luar tempat bisnis kita berada.
Apa gunanya offshore account? Yang pertama adalah untuk fleksibilitas akses terhadap uang anda. Kedua untuk menerima transaksi yang sangat2 besar. Untuk menerima transaksi internasional. Untuk kerahasiaan dan mengakali pajak. Dalam konotasi positif, menyimpan uang di negara yg pajaknya rendah akan merupakan investasi yang menguntungkan karena menghemat pengeluaran. Ada pemeo, jangan meletakkan telur dalam satu keranjang. Offshore banking memberikan perlindungan kepada asset anda terhadap masalah liabilitas, memberikan batasan dari jangkauan kreditur.
Kemudian, ada juga orang yang membuka rekening di Swiss saat liburan, meski mereka bukan orang yang benar2 kaya. Biasanya mereka membuka melakukannya untuk prestise belaka. Bisa juga untuk mendukung transaksi online situs toko online atau situs porno. Atau anda ingin menyembunyikan uang dari partner bisnis atau istri anda? :-p
Resiko legal
Saya belum mengecek secara persis aspek legal membuka account seperti ini di Indonesia. Maksudnya peraturan perundang2an no berapa yang mengatur mengenai hal ini. Namun ada banyak cara aman untuk melakukannya. Lebih baik lagi untuk berkonsultasi dengan pengacara anda. Bahkan biarpun mungkin anda terjangkau oleh hukum, tapi keamanan uang anda jelas akan tetap terjamin.
Peraturan perundang2an tersebut tujuannya agar tidak terjadi pelarian modal investasi ke luar negeri, untuk tujuan pencucian uang (money laundering), atau penggelapan pajak.
Super Tajir
Biarpun membuka rekening seperti ini tidak harus untuk orang yang super kaya, tapi jelas ada limit jumlah uang setoran perdana anda. Ini jumlahnya bervariasi. Coba lihat di HSBC, http://offshore.hsbc.com/1/2/home. Jumlah minimum balance adalah £5000, US$ 10000, or €10000.
Membuka rekening di luar negeri tidak berarti kita harus pergi ke negara tersebut. Di era internet, kita bisa melakukannya secara online. Atau bila bank asing tersebut ada perwakilannya di negara kita, datang saja kesana dan kemukakan kebutuhan anda. Mereka pasti dengan senang hati membantu anda. Jelas saja, karena anda kan mau menyetor uang kepada mereka.
Ada juga beberapa situs yang menyediakan fasilitas menghitung tax alias pajak. Sehingga kita bisa milih, di negara mana kita mau naro duit itu. Misalnya di panel sebelah kanan website hsbc ini: http://offshore.hsbc.com/1/2/international/current-accounts/offshore-bank-account.
Bila anda memiliki uang milyaran dollar, pasti tidak sulit menemukan orang atau lembaga yang menyediakan jasa pembuatan account semacam ini. Tapi bagi mereka yang ingin membuka personal account dengan jumlah minimum anda mesti mempelajari sendiri layanan perbankan semacam ini.
Coba baca lebih lanjut dari sejumlah referensi populer dibawah, tentang personal account dan corporate account.
Lokasi
Ada beberapa lokasi yang menjadi tujuan penyimpanan uang, misalnya di Swiss, Cayman, Singapura, Luxemburg dan Karibia. Negara2 ini menawarkan kerahasiaan data yang sangat rahasia dan regulasi yang melindungi dari jangkauan hukum negara lain. Selain pelayanan yang sudah sangat canggih dan profesional, tentunya. Singapura contohnya, adalah negara yang menawarkan pajak terendah di Asia. Demikian juga peraturan negara itu membuat koruptor di Indonesia dengan leluasa menyimpan uangnya di sana.
Bank2 di Singapura menginvestasikan uangnya di China. Negara yang sangat mereka kuasai pasarnya. Sehingga anda memperoleh bunga yang tinggi dengan berinvestasi di kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di dunia tanpa meninggalkan tempat duduk anda. Negara2 seperti ini yang disebut tax haven.
Bila membicarakan return of investment, tentu saja kita tidak cukup hanya mengetahui prosedur dan teknik membuka rekening. Tapi juga harus mengetahui produk2 dan jasa finansial dari perbankan atau lembaga finansial lainnya. Anda mesti pinter menghitung bunga, pajak, dan biaya2 dari semua transaksi.
Gerbang ke kemakmuran
Bila kamu memiliki network yang bagus, pengetahuan dan pengalaman tentang offshore account merupakan gerbang ke kemakmuran. Para investment banker atau lawyer pasti mengangguk setuju. Karena kamu tidak perlu menjadi pemilik uang itu, tapi anda cukup menjadi perantara untuk memindahkan dana2 dari pemilik modal dari satu tempat ke tempat lain. Soal uangnya dari bisnis legal atau ilegal itu urusan lain. Yang jelas dari setiap transaksi anda dapat komisi yang naudzubillah. (baru pernah ngeliat, belom nerima komisi... hehehe)
Karena bagi para pemilik modal, bisnis riil hanya merupakan mainan. Kekayaan buat mereka hanya angka2 yang disalurkan kesana kemari. Seperti elektron yang berpindah karena perbedaan tegangan, atau angin yang mengalir karena perbedaan suhu dan tekanan. Kemanapun uang dipindahkan, kembalinya selalu menjadi lebih banyak.
Jadi, mulai dari sekarang, mari belajar tentang pengetahuan finansial, pajak serta aspek legal yang berkaitan dengan itu. Lengkap dengan segala macem tipu menipunya. Siapa tau suatu saat anda ketemu network yang bagus? Jangan lupa ngajak makan2 saya ya ;-)
-----------------
Siap2 jadi masuk daftar orang kaya nya majalah Forbes nih hehehe...
Sekedar meringkas kok. Mohon masukan.
Referensi populer:
http://www.offshoresimple.com/why_offshore_more.htm
http://www.citibank.com.hk/APPS/portal/loadPage.do?tabId=personalbanking&path=/promo/det/pb_ipb_acq_promo.htm
http://offshore.hsbc.com/1/2/international/current-accounts/offshore-bank-account
http://www.offshorelegal.org/
http://moneycentral.msn.com/content/Taxes/Avoidanaudit/P45167.asp
http://www.bankintroductions.com/caribbean.html
http://www.shelteroffshore.com/index.php/offshore/more/offshore_banking_in_singapore/
http://www.swissprivatebank.com/
http://www.offshoresimple.com/offshore_bank_accounts.htm
http://www.offshoresimple.com/tax_havens_history.htm
Apa gunanya offshore account? Yang pertama adalah untuk fleksibilitas akses terhadap uang anda. Kedua untuk menerima transaksi yang sangat2 besar. Untuk menerima transaksi internasional. Untuk kerahasiaan dan mengakali pajak. Dalam konotasi positif, menyimpan uang di negara yg pajaknya rendah akan merupakan investasi yang menguntungkan karena menghemat pengeluaran. Ada pemeo, jangan meletakkan telur dalam satu keranjang. Offshore banking memberikan perlindungan kepada asset anda terhadap masalah liabilitas, memberikan batasan dari jangkauan kreditur.
Kemudian, ada juga orang yang membuka rekening di Swiss saat liburan, meski mereka bukan orang yang benar2 kaya. Biasanya mereka membuka melakukannya untuk prestise belaka. Bisa juga untuk mendukung transaksi online situs toko online atau situs porno. Atau anda ingin menyembunyikan uang dari partner bisnis atau istri anda? :-p
Resiko legal
Saya belum mengecek secara persis aspek legal membuka account seperti ini di Indonesia. Maksudnya peraturan perundang2an no berapa yang mengatur mengenai hal ini. Namun ada banyak cara aman untuk melakukannya. Lebih baik lagi untuk berkonsultasi dengan pengacara anda. Bahkan biarpun mungkin anda terjangkau oleh hukum, tapi keamanan uang anda jelas akan tetap terjamin.
Peraturan perundang2an tersebut tujuannya agar tidak terjadi pelarian modal investasi ke luar negeri, untuk tujuan pencucian uang (money laundering), atau penggelapan pajak.
Super Tajir
Biarpun membuka rekening seperti ini tidak harus untuk orang yang super kaya, tapi jelas ada limit jumlah uang setoran perdana anda. Ini jumlahnya bervariasi. Coba lihat di HSBC, http://offshore.hsbc.com/1/2/home. Jumlah minimum balance adalah £5000, US$ 10000, or €10000.
Membuka rekening di luar negeri tidak berarti kita harus pergi ke negara tersebut. Di era internet, kita bisa melakukannya secara online. Atau bila bank asing tersebut ada perwakilannya di negara kita, datang saja kesana dan kemukakan kebutuhan anda. Mereka pasti dengan senang hati membantu anda. Jelas saja, karena anda kan mau menyetor uang kepada mereka.
Ada juga beberapa situs yang menyediakan fasilitas menghitung tax alias pajak. Sehingga kita bisa milih, di negara mana kita mau naro duit itu. Misalnya di panel sebelah kanan website hsbc ini: http://offshore.hsbc.com/1/2/international/current-accounts/offshore-bank-account.
Bila anda memiliki uang milyaran dollar, pasti tidak sulit menemukan orang atau lembaga yang menyediakan jasa pembuatan account semacam ini. Tapi bagi mereka yang ingin membuka personal account dengan jumlah minimum anda mesti mempelajari sendiri layanan perbankan semacam ini.
Coba baca lebih lanjut dari sejumlah referensi populer dibawah, tentang personal account dan corporate account.
Lokasi
Ada beberapa lokasi yang menjadi tujuan penyimpanan uang, misalnya di Swiss, Cayman, Singapura, Luxemburg dan Karibia. Negara2 ini menawarkan kerahasiaan data yang sangat rahasia dan regulasi yang melindungi dari jangkauan hukum negara lain. Selain pelayanan yang sudah sangat canggih dan profesional, tentunya. Singapura contohnya, adalah negara yang menawarkan pajak terendah di Asia. Demikian juga peraturan negara itu membuat koruptor di Indonesia dengan leluasa menyimpan uangnya di sana.
Bank2 di Singapura menginvestasikan uangnya di China. Negara yang sangat mereka kuasai pasarnya. Sehingga anda memperoleh bunga yang tinggi dengan berinvestasi di kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di dunia tanpa meninggalkan tempat duduk anda. Negara2 seperti ini yang disebut tax haven.
Bila membicarakan return of investment, tentu saja kita tidak cukup hanya mengetahui prosedur dan teknik membuka rekening. Tapi juga harus mengetahui produk2 dan jasa finansial dari perbankan atau lembaga finansial lainnya. Anda mesti pinter menghitung bunga, pajak, dan biaya2 dari semua transaksi.
Gerbang ke kemakmuran
Bila kamu memiliki network yang bagus, pengetahuan dan pengalaman tentang offshore account merupakan gerbang ke kemakmuran. Para investment banker atau lawyer pasti mengangguk setuju. Karena kamu tidak perlu menjadi pemilik uang itu, tapi anda cukup menjadi perantara untuk memindahkan dana2 dari pemilik modal dari satu tempat ke tempat lain. Soal uangnya dari bisnis legal atau ilegal itu urusan lain. Yang jelas dari setiap transaksi anda dapat komisi yang naudzubillah. (baru pernah ngeliat, belom nerima komisi... hehehe)
Karena bagi para pemilik modal, bisnis riil hanya merupakan mainan. Kekayaan buat mereka hanya angka2 yang disalurkan kesana kemari. Seperti elektron yang berpindah karena perbedaan tegangan, atau angin yang mengalir karena perbedaan suhu dan tekanan. Kemanapun uang dipindahkan, kembalinya selalu menjadi lebih banyak.
Jadi, mulai dari sekarang, mari belajar tentang pengetahuan finansial, pajak serta aspek legal yang berkaitan dengan itu. Lengkap dengan segala macem tipu menipunya. Siapa tau suatu saat anda ketemu network yang bagus? Jangan lupa ngajak makan2 saya ya ;-)
-----------------
Siap2 jadi masuk daftar orang kaya nya majalah Forbes nih hehehe...
Sekedar meringkas kok. Mohon masukan.
Referensi populer:
http://www.offshoresimple.com/why_offshore_more.htm
http://www.citibank.com.hk/APPS/portal/loadPage.do?tabId=personalbanking&path=/promo/det/pb_ipb_acq_promo.htm
http://offshore.hsbc.com/1/2/international/current-accounts/offshore-bank-account
http://www.offshorelegal.org/
http://moneycentral.msn.com/content/Taxes/Avoidanaudit/P45167.asp
http://www.bankintroductions.com/caribbean.html
http://www.shelteroffshore.com/index.php/offshore/more/offshore_banking_in_singapore/
http://www.swissprivatebank.com/
http://www.offshoresimple.com/offshore_bank_accounts.htm
http://www.offshoresimple.com/tax_havens_history.htm
Tuesday, November 27, 2007
Sang Resi
Ya, akulah Hanoman, Raja Kera putih mukjizat. Dengan mengangkat sebelah kaki ke bibir kawah yang lebih tinggi aku menjenguk kedalaman dapur magma yang tegak menghujam kedalaman bumi. Putra sang dewa angin, dengan kekuatan tujuh gunung dijadikan satu - menaklukan puncak gunung ini dalam semalam.
Sobat-sobat, rekan seperjalanan yang semalaman meniti pokok pohon tumbang yang licin seperti rakyat kera yang membangun tambak untuk sri Rama. Kami adalah lakon, Rama tambak. Menumbangkan raksasa angkara murka, membangun galengan ribuan kilometer jauhnya untuk menyeberang ke Alengka Diraja menyelamatkan Dewi Sinta.
Ya aku lah aji mundri, yang menabok Rahwana dengan kekuatan maha dahsyat. Gunung jugrug, segoro asat. Gunung hancur lebur, samudera surut hingga ke dasar! Rahwana yang sebesar mahameru kepontal-pontal oleh tonjokkan telapak tangan kera kecil mungil itu. Dengan sekali jejak hanoman melesat meninggalkan raksasa seram itu bergulingan menahan jerih nggrenyem sampai ke sumsum.
Namun belum lagi Dosomuko mampu menggambarkan rasa sakitnya, hanoman sudah kembali. Pada ketinggian stratosfer, kera itu membanting gunung Kendalisada sekuat tenaga ke atas tubuh si muka sepuluh, Dosomuko tenggelam ke kedalaman perut bumi. Seketika, raungan raksasa itu memenuhi tanah Jawa. Gunung Kendalisada muntap, meletupkan hawa angkara, kemarahan raja raksasa itu mengamuk pada genangan lavanya yang berpijar mendidih. Tanah bergetar, gempa. Rumah-rumah rubuh, mayat bergelimpangan, manusia enyeng, bayi2 lahir cacat. Burung-burung beterbangan menjauhi pulau yang sedang bergolak. Menebarkan isyarat kepada seluruh jagad tentang pertempuran hawa nafsu dengan hati nurani yang bersih.
Setelah beberapa windu menggeram dalam amarah, Rahwana terpaksa mengakui kekalahannya. Meski begitu Rahwana tak bisa mati, karena saking saktinya aji PancaSona. Hasil mencuri dengar wejangan kera sakti, Subali. Sesungguhnya selama masih ada kelima unsur, ia tak akan mati. Tubuh hancur lebur, namun selama menyentuh bumi, ia akan bangkit lagi. Sesungguhnya itulah hawa nafsu. Karena itulah Hanoman menjadi resi dan bersemayam di puncak Kendalisada. Suatu keanehan cara berfikir Hyang Widhi, membiarkan seekor binatang untuk menjaga ketenangan dunia manusia.
***
Itulah aku, berdiri di puncak gunung Tambora yang dahsyat seakan2 telah menaklukkan dunia. Apakah sebenarnya yang kutaklukkan? Gunung, atau justru kemanusiaanku yang makin ringkih berhadapan muka dengan ego? Aku memandang hamparan kawah raksasa yang terbentang. Aku diam. Kupeluk lututku perlahan. Dalam bayang2 awan aku terkenang kepadanya. Ialah gadis yang selalu menarikku antara arus kecantikan badaniah dan kehalusan rasa kalbu. Dalam khayalan yang terbang dalam benakku, ciumannya menyentuh pipiku perlahan. Katanya:
"Apa yang kamu pikirin? I am perfectly allright, dear..", ia memelukku dari belakang.
Aku cuma tersenyum. Angin dingin yang mengembara dari samudera hindia membuatku semakin merapatkan lututku. Aku jelas menginginkan gadis itu. Sudah waktunya untuk mengatakan apa yang kuinginkan padanya. Ada masa-masa kejayaan dalam hidup seseorang, dan ada orang yang membuat kebahagian yang sederhana seakan sebuah kegemilangan Alexander Agung. Ade membuat hal itu mungkin.
Budi menepuk pundakku. Matahari terik Sumbawa membuyarkan awan mendung yang melindungi kami. Kami harus segera pergi. Aku menyalakan kamera hp ku untuk merekam keindahan puncak Gunung Tambora terakhir kalinya. Sebuah pecahan memori yang akan kukenang kapan-kapan. Sekarang aku harus bergegas turun melewati rumpun2 jelatang yang menyengat dan ribuan pacet di lantai hutan.
***
"Hey, I miss makan soto", sebuah pesan rindu dalam pesan pendeknya di YM.
Bogor tidak lagi sebasah beberapa tahun lalu. Namun minggu ini adalah minggu-minggu awal musim penghujan yang terlambat datang. Aku mulai hafal watak cuaca kota kecil ini. Pilihannya tak ada, setelah matahari membakar kita seperti dendam kesumat yang tak terlampiaskan, menjelang sore hari hujan akan datang menyiksa, keras seperti badai kutub utara. Melemparkan butiran-butiran es batu sebesar jempol ke atas atap. Mengoyak akar beringin tua peninggalan belanda menimpa makhluk apes di kakinya. Ketika semuanya mereda, ia menyisakan hawa dingin yang sangat sempurna untuk menyantap Soto Lamongan yang sedap.
"Lagi badai loh, tapi aku sih ayo aja", aku menjawabnya dengan sebuah smiley yang tersenyum lebar.
"Masa sih?" katanya ragu. "Mmm let me think ya! Aku kerjain tugas ini dulu. Kalo bisa aku telp deh".
"Tenang aja, aku juga masih banyak kerjaan kok", mungkin baru jam 7an aku akan selesai mengerjakan tugas kantor yang menumpuk ini. Menjawab email Elke di Afrika, Tony di New Zealand, Sajad di Madagascar, Imam di perjalanan ke Malinau. Mejaku sudah seperti control panel teater perang dunia. Tapi aku survive ;-)
***
Kenyataannya, ia tiba dengan selamat di Bogor malam itu. Ketekunannya berhasil menyelesaikan beban pekerjaannya yang begitu banyak. Aku juga berhasil mengendalikan armada perangku yang bertempur di masing-masing belahan benua. Secara ajaib, mereka merespon emailku yang berisi jurnal-jurnal ilmiah yang mereka butuhkan untuk penelitian mereka. Thanks a lot katanya. Mereka rimbawan(Forester), orang-orang yang bekerja untuk kecintaan kepada sang bumi. Makhluk murah hati yang memberikan kita tempat hidup yang penuh tantangan, namun juga indah untuk dinikmati.
Ade menyetir mobilnya hampir seratus kilometer untuk makan semangkok soto denganku. Sesuatu yang luar biasa buat pria sederhana sepertiku. Kami kelihatan kontras bahkan bagi orang asing yang baru pertama kali melihat. Aku berpakaian begitu bebas, sepatu kets, cargo pants yang lusuh, sebuah topi baseball tua dan backpack. Sementara gadis itu sangat sexy dalam busana kerjanya yang formal.
"Kenapa akhir2 ini aku tertarik kepada pria2 seperti kamu ya, dear?" katanya setengah berbisik. Tersenyum melirik menggodaku.
Aku tergelak, "Emang ada yang salah denganku?" Ia terlebih lagi :D
"I don't know.." ia tersenyum lagi sambil menggerinyitkan hidungnya dan mengangkat pundaknya. Di hirupnya segelas juice dengan sedotan.
Kami berdua tertawa. Aku merengkuh pinggangnya dan menariknya mendekat bersisian. Kami sudah tidak berbicara lagi. Tapi saling memahami. Sayang itu cuma sebuah momen yang pendek, karena kami harus membayar makanan dan pulang.
Sepanjang jalan tol ia bercerita banyak hal. Soal keluarga, pekerjaan barunya di Jakarta. Tentang meditasinya yang hening. Semuanya. Kecuali tentang patah hatinya yang lalu. Itu membuatku bahagia.
***
Rakyat kera yang jumlahnya jutaan waktu itu bersorak sorai menyambut kemenangan. Hanoman yang masih terbang melayang2 di atas permukaan tanah menyeringai galak khas kera. Kera, tak mengenal peperangan. Ia hanya lakon yang melengkapi sempurnanya perputaran bumi pada porosnya. Seperti Brahma, Syiwa, Wisnu, yang menghancurkan, menciptakan, memelihara, menyelaraskan semesta.
Hanoman biarpun raja kera, tak sebanding bila kita menyandingkannya kepada seorang manusia cakep bagus seperti Rama. Tapi ialah kebijaksanaan, yang menyusu pada puting perawan murni sang Dewi Sinta. Kemurnian yang menjelma sebagai ajian maha dahsyat, Aji Mundri. Maka lahirlah kebijaksanaan bahkan dalam mahluk hina seekor kera. Mata polos binatang yang penuh prasangka baik.
Hampir tengah malam saat kami tiba kembali di perkampungan. Semua kelelahan meliputi kami semua. Namun rasa lelah yang berlebih membuat kami tak begitu mudah tertidur. Dan pengalaman yang kami lalui memenuhi perasaan. Ia menjadi kisah yang tak habis diceritakan hingga anak cucu. Setelah selesai membersihkan diri dan makan, aku merebahkan diri di atas tikar di rumah penduduk desa.
Aku ingin mata kera yang jernih itu. Yang mampu melihat ke dalam hati cinta suci sang Dewi. Butuh waktu lama sebelum khayalan itu memudar oleh tidur yang lelap. Aku meringkuk dalam kantong tidur yang hangat. Sangat lelap, sehingga ciuman Ade di pagi itu menjadi mimpi dan kenyataan yang tinggal dalam sugesti bawah sadarku.
============================
Maaf kalo kurang berkenan. idenya lagi mandeknih. Nanti deh aku baca2 lagi, trus diedit lagi. Mau kemana cerita ini berlanjut, nggak tau juga. Hasil orang ngelamun ya begini ini :))
Oh iya, ternyata gunung Kendalisada itu ada di sini
Kendalisada ca. 64 m
Indonesia » Central Java » Kabupaten Karanganyar
populated place
S 7° 30' 0'' E 109° 17' 21''
-7.5 / 109.28917
http://www.geonames.org/6375162/kendalisada.html
GeoNameId : 6375162
Sobat-sobat, rekan seperjalanan yang semalaman meniti pokok pohon tumbang yang licin seperti rakyat kera yang membangun tambak untuk sri Rama. Kami adalah lakon, Rama tambak. Menumbangkan raksasa angkara murka, membangun galengan ribuan kilometer jauhnya untuk menyeberang ke Alengka Diraja menyelamatkan Dewi Sinta.
Ya aku lah aji mundri, yang menabok Rahwana dengan kekuatan maha dahsyat. Gunung jugrug, segoro asat. Gunung hancur lebur, samudera surut hingga ke dasar! Rahwana yang sebesar mahameru kepontal-pontal oleh tonjokkan telapak tangan kera kecil mungil itu. Dengan sekali jejak hanoman melesat meninggalkan raksasa seram itu bergulingan menahan jerih nggrenyem sampai ke sumsum.
Namun belum lagi Dosomuko mampu menggambarkan rasa sakitnya, hanoman sudah kembali. Pada ketinggian stratosfer, kera itu membanting gunung Kendalisada sekuat tenaga ke atas tubuh si muka sepuluh, Dosomuko tenggelam ke kedalaman perut bumi. Seketika, raungan raksasa itu memenuhi tanah Jawa. Gunung Kendalisada muntap, meletupkan hawa angkara, kemarahan raja raksasa itu mengamuk pada genangan lavanya yang berpijar mendidih. Tanah bergetar, gempa. Rumah-rumah rubuh, mayat bergelimpangan, manusia enyeng, bayi2 lahir cacat. Burung-burung beterbangan menjauhi pulau yang sedang bergolak. Menebarkan isyarat kepada seluruh jagad tentang pertempuran hawa nafsu dengan hati nurani yang bersih.
Setelah beberapa windu menggeram dalam amarah, Rahwana terpaksa mengakui kekalahannya. Meski begitu Rahwana tak bisa mati, karena saking saktinya aji PancaSona. Hasil mencuri dengar wejangan kera sakti, Subali. Sesungguhnya selama masih ada kelima unsur, ia tak akan mati. Tubuh hancur lebur, namun selama menyentuh bumi, ia akan bangkit lagi. Sesungguhnya itulah hawa nafsu. Karena itulah Hanoman menjadi resi dan bersemayam di puncak Kendalisada. Suatu keanehan cara berfikir Hyang Widhi, membiarkan seekor binatang untuk menjaga ketenangan dunia manusia.
***
Itulah aku, berdiri di puncak gunung Tambora yang dahsyat seakan2 telah menaklukkan dunia. Apakah sebenarnya yang kutaklukkan? Gunung, atau justru kemanusiaanku yang makin ringkih berhadapan muka dengan ego? Aku memandang hamparan kawah raksasa yang terbentang. Aku diam. Kupeluk lututku perlahan. Dalam bayang2 awan aku terkenang kepadanya. Ialah gadis yang selalu menarikku antara arus kecantikan badaniah dan kehalusan rasa kalbu. Dalam khayalan yang terbang dalam benakku, ciumannya menyentuh pipiku perlahan. Katanya:
"Apa yang kamu pikirin? I am perfectly allright, dear..", ia memelukku dari belakang.
Aku cuma tersenyum. Angin dingin yang mengembara dari samudera hindia membuatku semakin merapatkan lututku. Aku jelas menginginkan gadis itu. Sudah waktunya untuk mengatakan apa yang kuinginkan padanya. Ada masa-masa kejayaan dalam hidup seseorang, dan ada orang yang membuat kebahagian yang sederhana seakan sebuah kegemilangan Alexander Agung. Ade membuat hal itu mungkin.
Budi menepuk pundakku. Matahari terik Sumbawa membuyarkan awan mendung yang melindungi kami. Kami harus segera pergi. Aku menyalakan kamera hp ku untuk merekam keindahan puncak Gunung Tambora terakhir kalinya. Sebuah pecahan memori yang akan kukenang kapan-kapan. Sekarang aku harus bergegas turun melewati rumpun2 jelatang yang menyengat dan ribuan pacet di lantai hutan.
***
"Hey, I miss makan soto", sebuah pesan rindu dalam pesan pendeknya di YM.
Bogor tidak lagi sebasah beberapa tahun lalu. Namun minggu ini adalah minggu-minggu awal musim penghujan yang terlambat datang. Aku mulai hafal watak cuaca kota kecil ini. Pilihannya tak ada, setelah matahari membakar kita seperti dendam kesumat yang tak terlampiaskan, menjelang sore hari hujan akan datang menyiksa, keras seperti badai kutub utara. Melemparkan butiran-butiran es batu sebesar jempol ke atas atap. Mengoyak akar beringin tua peninggalan belanda menimpa makhluk apes di kakinya. Ketika semuanya mereda, ia menyisakan hawa dingin yang sangat sempurna untuk menyantap Soto Lamongan yang sedap.
"Lagi badai loh, tapi aku sih ayo aja", aku menjawabnya dengan sebuah smiley yang tersenyum lebar.
"Masa sih?" katanya ragu. "Mmm let me think ya! Aku kerjain tugas ini dulu. Kalo bisa aku telp deh".
"Tenang aja, aku juga masih banyak kerjaan kok", mungkin baru jam 7an aku akan selesai mengerjakan tugas kantor yang menumpuk ini. Menjawab email Elke di Afrika, Tony di New Zealand, Sajad di Madagascar, Imam di perjalanan ke Malinau. Mejaku sudah seperti control panel teater perang dunia. Tapi aku survive ;-)
***
Kenyataannya, ia tiba dengan selamat di Bogor malam itu. Ketekunannya berhasil menyelesaikan beban pekerjaannya yang begitu banyak. Aku juga berhasil mengendalikan armada perangku yang bertempur di masing-masing belahan benua. Secara ajaib, mereka merespon emailku yang berisi jurnal-jurnal ilmiah yang mereka butuhkan untuk penelitian mereka. Thanks a lot katanya. Mereka rimbawan(Forester), orang-orang yang bekerja untuk kecintaan kepada sang bumi. Makhluk murah hati yang memberikan kita tempat hidup yang penuh tantangan, namun juga indah untuk dinikmati.
Ade menyetir mobilnya hampir seratus kilometer untuk makan semangkok soto denganku. Sesuatu yang luar biasa buat pria sederhana sepertiku. Kami kelihatan kontras bahkan bagi orang asing yang baru pertama kali melihat. Aku berpakaian begitu bebas, sepatu kets, cargo pants yang lusuh, sebuah topi baseball tua dan backpack. Sementara gadis itu sangat sexy dalam busana kerjanya yang formal.
"Kenapa akhir2 ini aku tertarik kepada pria2 seperti kamu ya, dear?" katanya setengah berbisik. Tersenyum melirik menggodaku.
Aku tergelak, "Emang ada yang salah denganku?" Ia terlebih lagi :D
"I don't know.." ia tersenyum lagi sambil menggerinyitkan hidungnya dan mengangkat pundaknya. Di hirupnya segelas juice dengan sedotan.
Kami berdua tertawa. Aku merengkuh pinggangnya dan menariknya mendekat bersisian. Kami sudah tidak berbicara lagi. Tapi saling memahami. Sayang itu cuma sebuah momen yang pendek, karena kami harus membayar makanan dan pulang.
Sepanjang jalan tol ia bercerita banyak hal. Soal keluarga, pekerjaan barunya di Jakarta. Tentang meditasinya yang hening. Semuanya. Kecuali tentang patah hatinya yang lalu. Itu membuatku bahagia.
***
Rakyat kera yang jumlahnya jutaan waktu itu bersorak sorai menyambut kemenangan. Hanoman yang masih terbang melayang2 di atas permukaan tanah menyeringai galak khas kera. Kera, tak mengenal peperangan. Ia hanya lakon yang melengkapi sempurnanya perputaran bumi pada porosnya. Seperti Brahma, Syiwa, Wisnu, yang menghancurkan, menciptakan, memelihara, menyelaraskan semesta.
Hanoman biarpun raja kera, tak sebanding bila kita menyandingkannya kepada seorang manusia cakep bagus seperti Rama. Tapi ialah kebijaksanaan, yang menyusu pada puting perawan murni sang Dewi Sinta. Kemurnian yang menjelma sebagai ajian maha dahsyat, Aji Mundri. Maka lahirlah kebijaksanaan bahkan dalam mahluk hina seekor kera. Mata polos binatang yang penuh prasangka baik.
Hampir tengah malam saat kami tiba kembali di perkampungan. Semua kelelahan meliputi kami semua. Namun rasa lelah yang berlebih membuat kami tak begitu mudah tertidur. Dan pengalaman yang kami lalui memenuhi perasaan. Ia menjadi kisah yang tak habis diceritakan hingga anak cucu. Setelah selesai membersihkan diri dan makan, aku merebahkan diri di atas tikar di rumah penduduk desa.
Aku ingin mata kera yang jernih itu. Yang mampu melihat ke dalam hati cinta suci sang Dewi. Butuh waktu lama sebelum khayalan itu memudar oleh tidur yang lelap. Aku meringkuk dalam kantong tidur yang hangat. Sangat lelap, sehingga ciuman Ade di pagi itu menjadi mimpi dan kenyataan yang tinggal dalam sugesti bawah sadarku.
============================
Maaf kalo kurang berkenan. idenya lagi mandeknih. Nanti deh aku baca2 lagi, trus diedit lagi. Mau kemana cerita ini berlanjut, nggak tau juga. Hasil orang ngelamun ya begini ini :))
Oh iya, ternyata gunung Kendalisada itu ada di sini
Kendalisada ca. 64 m
Indonesia » Central Java » Kabupaten Karanganyar
populated place
S 7° 30' 0'' E 109° 17' 21''
-7.5 / 109.28917
http://www.geonames.org/6375162/kendalisada.html
GeoNameId : 6375162
Subscribe to:
Posts (Atom)