Friday, December 24, 2004

Berjuta wajah Ibu

Semua orang punya ibu. Aku, kamu, kita semua. Tapi tak semua orang mendapat karunia mengenal ibu. Bahkan untuk melihat wajah ibu saja suatu yang bak mimpi. Seperti sobatku Titi. Saat-saat menjelang hari raya Idul Fitri, malam takbiran adalah waktu kerinduan yang terdalam. Betapa indah bayangannya tentang ibunda, senyum dan belaian kasih sayang yang tak terjangkau kata.

"Kalau aku bisa nuker apa aja untuk ketemu Ibu gue mas, gue akan berikan semuanya" kudengar lirih suara Titi si gadis yang kecil mungil. Kamu tak bisa menukar waktu sayang. Tapi aku yakin, kenanganmu tentang ibu lebih indah. Dan setiap detik bayangan itu melintas dalam benakmu akan menjadi yang terbaik.

***

Pagi ini aku berjumpa dengan sobatku yang lain. Mereka anak-anak tanggung yang mencuci mobil, menyemir sepatu, memungut bola tenis untuk pejabat-pejabat berkocek tebal. Mereka, Fikri, Gogon dan kawan-kawan anak-anak miskin yang harus meninggalkan sekolah untuk bekerja menyambung hidup keluarganya. Anak-anak pintar ini harus sengsara karena begitu lahir procot sudah dijemput kemiskinan.

Fikri, contohnya 5 bersaudara. Ia anak kedua. Kakaknya yang sudah jauh lebih besar darinya kini berjualan koran di Baranangsiang. Namun itu jauh dari cukup untuk membayar kontrakan, makan dan membiayai sekolah adik-adiknya yang kecil. Tahun demi tahun berlalu dan tiba giliran Fikri untuk berkorban. Umurnya mungkin baru 7 atau 8 tahun ketika pertama kali aku berjumpa dengannya. Ia menawarkan untuk menyemir sepatu hitamku saat aku makan siang.

Bocah kecil itu merantau dari bogor ke kantorku di Sudirman menumpang kereta atau kadang menebeng bus pegawai departemen. Ia tak punya siapa-siapa disini. Untunglah untuk tidur ia bisa menumpang di gudang lapangan tenis bersama beberapa anak terlantar lainnya. Saat sore menjelang ia bekerja sebagai pemungut bola. Di malam hari ia pergi ke mesjid kantor membantu sebisa-bisanya.

Fikri bocah 8 tahun itu kehilangan bapaknya sejak kecil. Namun pundak mungilnya dengan ikhlas menanggung beban cita-cita menyekolahkan adik-adiknya hingga SMA. Aku kerap memandangi anak-anak itu dari kejauhan. Menggosok kulit sepatu dengan sikat yang kotor. Mengelap debu2 dan memolesnya hingga licin. Betapa jernihnya wajah-wajah lugu itu memantulkan cahaya lembut kasih ibu.

***

Betapa harunya aku mendengar kisah sahabatku Lala. Gadis manis ini begitu tegar menelan kengerian sebuah keluarga. Keceriaannya membuatku terpesona. Kupikir ia baik-baik saja, bahagia penuh energi. Hari itu ku sentuh pipinya, menenangkannya dari kegalauan. Saat gadis-gadis sebayanya bersenda gurau di mall, Lala terbayang Mama di Yogya.

Air mata mengalir pelan dari sudut mata mama. Tubuhnya terasa nyeri terkena pukulan papa. Air mata yang jatuh itu mengalir dari sebuah hati perempuan yang terluka. Terhimpit selama puluhan tahun, menahan perselingkuhan suami, siksaan dan membelahnya antara pilihan yg sulit. Kasihnya pada suami dan masa depan anak-anak yang lima kepala jumlahnya. Dalam penderitaan yang sangat bahkan tak terlintas pikiran tentang diri mama sendiri.

Well, Lala my dear. Aku gak akan bisa menggantikan mengisi kekosongan kasih dalam kehidupan mu. Namun aku akan selalu mendengarkan kisahmu dengan penuh kesabaran. Aku lupakan empati, sebab aku takkan mampu membayangkan kehidupan seperti itu. Aku hanya berharap bisa jadi pendengar terbaik yang pernah kamu miliki. Dan sambil mengantarnya pulang aku panjatkan harapan untuk Lala. Meski sayup-sayup, ku yakin Tuhan mendengarku dari tempatnya sekarang.

***

Netty kini telah menjadi ibu. Melalui bedah cesar, lahir bayi laki-laki yang tampan dari rahimnya. Aku tak pandai menilai, tapi kupikir putramu mirip Sinalsal, suamimu. Aku tak menggodamu, tapi artinya kata orang semasa hamil pasti kadar cintamu pada suami lebih tinggi dari sebaliknya. Apapun itu, aku bisa tersenyum melihatmu tersenyum. tak terbayang manusia cerewet semacam kamu bisa menjadi seorang ibu. Untung saja meski bawel, setahuku kau bukan tipe pemarah. Jadi putramu tak akan blingsatan mendengarkan omelan mamanya :-) Malahan bisa saja dia yang akan balik mengomel kepadamu seperti kamu yang setiap saat mengomel pada mama papamu sendiri meski kau tahu mereka sangat sayang padamu.

Aku baru percaya setelah melihatmu menggendong putramu yang mungil dengan cinta. Kulihat baik-baik bagaimana kamu belajar memegang kepalanya dengan hati2 dan meletakkannya dalam pelukanmu. Didekatmu mamamu memandangi anaknya dengan tersenyum diam. Ia membiarkan kamu yang masih takut-takut, yakin rasa keibuanmu menghapus semuanya. Saat itu rasanya tak ada kekuatan apapun yang mampu menghalangimu menjadi ibu yang sejati.

***

Pagi ini aku kembali ke rumah. Setelah semalaman bergadang mengerjakan pekerjaan kantor yang tenggatnya jatuh minggu ini. Ibu tak menegurku karena tak bilang-bilang padanya. Aku tersenyum dalam hati. Tanganku menyodorkan sebuah map berwarna kuning mengkilat. "Bu, gw dah dapet ijasahnya! Akhirnya semuanya beres!" Betapa kurang ajarnya anak ini, seorang betawi pun akan bilang aye atau namanya sendiri bila bicara dengan yang lebih tua.... Tapi ibu tak marah, ia tersenyum.

Melihat senyum itu, aku bersyukur. Mengenang tahun berselang dimana senyuman dan sapa suatu yang mahal buat aku sekeluarga. Saat itu abang menderita skizofrenia. 7 tahun lebih rumah kami dipenuhi kengerian yang mencekam. Tidak siang tidak malam depresi membangkitkan paranoia di kepala abang. Rumah menjadi neraka, pulang bagaikan bertaruh hidup dan mati. Selama itu malam bagaikan siang, mata yang mengantuk seperti kelaparan. Jantung kami berdetak bagaikan roda kereta.

Keluarga sebesar ini, tapi tak berbunyi sedikitpun. Kami tak bisa bercakap-cakap, menonton televisi, atau bercanda satu sama lain. Hati bagaikan meratap, menagih pertolongan Tuhan, tapi... Ia sama sekali tak turun menolong. Mungkin inilah salah satu kesepian terdalam di dunia ini. Entah siapa yang mau mendengarnya, tapi kami tak tau cara lain selain berdoa.

Lirih kudengar ibu melantunkan istighfar dan ayat2 suci Al Quran. Dengan tubuh gemetar ketakutan ia menangis mengiba kasih Allah. Air mata meleleh di pipinya yang kurus. Andai kan kau berada disana, kan kau rasakan batinnya bertempur memenangkan cinta. Akankah hati akan membenci putranya yang kini justru mengancam kehidupan? Ah, kasih Ibu Maha Luar Biasa. 7 tahun bukan apa2, seumur hidup kau tak akan mampu menghapus cinta seorang ibu.

Malam itu aku merenungkan kembali arti kehidupan. Yah, rupanya Tuhan menjawab doa kami.


Jakarta, 24 Desember 2004


Untuk Ibu di rumah, sobat2 yg mewarnai hidupku, dan semua ibu di dunia. Selamat Hari Ibu! Aku sayang kalian!