Thursday, October 26, 2006

LE PEUPLE (Rakyat)

EUGENE POTTIER

Hanya bermantel dingin membeku
dikala turun hujan gerimis,
yang menimpa seluruh Paris,
kaki-kaki berlumur lumpur,
menghadapi senapan mesin
hanya bersenjata beberapa senapan tua,
pekak telinga karena teriak kelaparan
yang menggantikan perasaan halus,
dan dalam kehausan membakar jasad
tetap tampil dalam perjuangan besar ini.
Dalam pertempuran Februari atau Revolusi Juli,
di kala para anggota ditembaki dalam pertempuran
untuk apa dada telanjang jadi korban tembakan pasukan tempur,
dan disiksa dipinggir-pinggir jalan,
hingga yang tersisa hanya pakaian compang-camping.
Inginkah mereka akan atap istana yang gemerlapan
untuk menyembunyikan tulang-belulang yang beku kedinginan,
inginkah mereka berguling di ranjang-ranjang mewah ?
Tidak ! Bukan untuk itu mereka luka.
Yang mereka butuhkan adalah hak-hak mereka dan roti !
Roti untuk anak-anak mereka yang menderita
tersiksa kemiskinan dan kelaparan !
Hak-hak mereka lah yang harus ditakar pada timbangan,
dimana diukur nasib mereka.
Seharusnya, pada akhirnya di bumi Perancis
setiap orang adalah warganegara !

Tapi hak-hak yang diidamkan ini dibayar dengan nyawa,
harus mereka rebut dengan perjuangan.
Di Istana para Penguasa,
dengan jari tangan-tangan mereka yang kurus kering
telah digoreskan mereka kata-kata:

HIDUP MERDEKA ATAU MATI.

Thursday, October 05, 2006

Seikat bunga untukmu

Sepasang kekasih itu menuruni angkot hijau. Sang wanita menyeka keringat di dahinya, lalu menghapus keringat kekasihnya. Hari itu demikian panas, walaupun hari masih pagi. Mereka bergegas menyeberang dan berjalan memasuki sebuah rumah.

"Kulonuwun..." ucapnya menyapa. Ia membuka sepatunya di depan teras dan mengetuk pintu depan.

"Oh ya, monggoo mas. Silahkan masuk..." mas Wawan mempersilahkan keduanya masuk. "Silahkan duduk Mas, maaf mesti menunggu sebentar karena Mbak Imel baru menuju kesini. Mungkin sebentar lagi sampai".

Frans dan kekasihnya tersenyum. Mereka duduk di tikar kami yang lusuh. Sanggar ini begitu sederhana. Tak ada apa2 untuk mengisi ruang tamu kami. Tak ada meja, kursi, lemari atau hiasan di dindingnya. Mungkin hanya beberapa lukisan pastel sederhana dari Mbak Harni guru lukis dan tari kami untuk memberi kesan ada kegiatan meskipun kenyataannya belum banyak yang belajar disini.

"Selamat pagi... Wah sudah datang ya..." Mbak Imel ganti menyapa mereka berdua dengan ramah. Dengan meletakkan tas peralatan riasnya ia ikut duduk di lantai. "Sudah lama ya?" tanyanya.

"Belum Mbak", gantian si wanita menjawab."Kita baru saja sampe kok".

Frans dan kekasihnya adalah tamu kita hari ini. Mereka datang jauh2 dari Cileungsi ke sanggar kami di Depok untuk dirias. Pagi ini mereka akan menikah setelah 8 tahun menjalin cinta. Mereka akan menikah di gereja Paulus yang letaknya selang beberapa rumah saja dari sanggar kami.

Sehari-hari anak muda itu bekerja di sebuah penggergajian kayu tradisional di Cileungsi. Entah dimana dan bagaimana ceritanya, Frans yang pemuda Ambon kemudian jatuh cinta pada kekasihnya(aku lupa siapa namanya) yang berdarah Batak. Hubungan mereka tak disetujui oleh keluarga si wanita. Tapi apakah yang dapat memisahkan ketulusan cinta?

"Sudah delapan tahun ini saya bekerja dan tinggal dengan orang Jawa di penggergajian mas." katanya tegas. "Saya belajar dari orang-orang jawa yang sanggup menderita dan sabar. Terpisah jauh dari keluarga di kampung hanya untuk mendapat rejeki halal yang gajinya tak seberapa. Kalau saya bergaul dengan saudara-saudarasaya mungkin saya sudah jadi preman di tanah abang."

Kami hanya termangu mendengarnya. Tak berapa lama beberapa kerabat Frans berdatangan. Sementara hanya seorang saudara sepupu kekasihnya nya yang diam2 hadir dalam acara nanti. Rupanya selain tak disetujui karena perbedaan adat. Frans juga begitu miskinnya hingga tak mampu membeli marga ataupun pesta. Itu sebabnya ia memilih Gereja Paulus agar mendapat keringanan biaya. Karena saudara sepupunya ada yang menjadi pendeta di Gereja itu. Pembicaraan berhenti karena mereka berdua harus berdandan.

***

"Halo semuanya. Siap-siap, ini pengantin perempuannya udah selesai dirias...." Mbak Imel menuntun mempelai wanita keluar dari kamar. Dalam busana kebaya dan kain sederhana gadis itu berjalan pelan keluar. Wajahnya tertunduk malu2 menatap ke depan.

Frans tertegun melihat kecantikan kekasihnya. Tiba2 ia berdiri dan berjalan cepat keluar. Kami terkejut dan berteriak bertanya.

"Mau kemana Mas?".

"Beli bunga!" jawabnya.

"Biar kami saja yang beli Frans", saudaranya berteriak. Tapi ia terus saja keluar setengah berlari. Duapuluh menit kemudian ia kembali dengan membawa seikat bunga di tangan. Ia harus berlari ke tiga tempat untuk mendapatkannya .

"Bunga ini untukmu", katanya pendek. Kekasihnya menerima karangan bunga sederhana itu dengan air mata yang hampir jatuh.

Pagi itu Frans dan Kekasihnya menikah. Pernikahannya berlangsung hikmat dengan dihadiri beberapa orang saja. Frans telah mewujudkan keteguhan hatinya. Tak mau dibantu apalagi disumbang. Sebelum berangkat ke gereja tadi ia memberikan sisa uang 120ribu rupiah sebagai upah capek mbak Imel.

"Habis ini mau diboyong kemana istrinya mas?" kami bertanya.

"Saya bawa ke barak di Cileungsi mas", jawabnya tanpa ragu. Sambil mengucapkan terima kasih, kedua mempelai menyetop angkot lalu pulang.



depok, 17 Agustus 2006