Wednesday, March 26, 2008

Ayo Nimbain!

Lonceng sekolah sudah berbunyi. Pak Zul yang super galak hari ini lagi baik hati. Anak-anak berhamburan keluar. Ado nggak mau ketinggalan. Sejak dari tadi pagi pikirannya sudah melayang-layang ke sawah di dekat rumah. Di awal-awal musim hujan begini adalah waktunya anak2 mencari ikan. Sawah yang menunggu giliran dicangkul biasanya ditumbuhi rerumputan. Dan ketika air hujan yang segar di bulan2 oktober membasahinya, benih-benih ikan mulai muncul entah darimana. Pertanyaan itu selalu saja menjadi perdebatan panjang anak2. Ada yang bilang dari langit, ada yang sangat yakin mereka bersembunyi di liang2 di dalam tanah. Ada pula yang berpikir kalau ikan-ikan itu punya semacan danyang yang memelihara mereka di alam gaib, lalu melepaskannya ketika musim penghujan tiba.

Tapi itu tak terlalu penting lagi sekarang. Bagi Ado, begitu lonceng berbunyi, ia harus buru-buru pulang, berganti pakaian. Makan siang. Berpura2 menengok kambing domba yang sedang dicencang di padang rumput. Lalu diam2 mengambil kaleng bekas cat yang ia sembunyikan di balik semak-semak tablo yang rungkut... kemudian... nimbain ikan di sawah!

Ya, sejak kemarin ia sudah mengincar lubuk yang dikiranya banyak ikannya. Lubuk itu tepat di ujung saluran irigasi yang melewati kebun bapak. Du ujungnya air memancur dan mengukir tanah membentuk cekungan yang cukup dalam. Di tempat seperti itu biasanya ikan-ikan besar memiliki ruang gerak yang bebas. Dengan demikian ia mengharap dapat tangkapan yang lebih banyak.

Tentu saja, akal cemerlang seperti itu bukan ia saja yang punya. Meski sudah beberapa tahun di kampung sini. Tapi Ado belum lagi selihay sobat2nya, si entur, si udin, entong adih, si chamim, si mansyur dan banyak lagi. Sebagian dari mereka tidak bersekolah. karena itu, ia mesti buru2 nge-tek tempat timbaan. Siapa duluan, dia yang dapat. Tapi kalau tempatnya terlalu besar, kita bisa berbagi dengan catatan harus saling bantu menimba airnya sampai kering.

"Yo, kita nimbain ikan di kocoran pojok kebon nyuk?" Ado merayu adiknya untuk ikutan.
"Tapi jangan sampe ketahuan ibu. Ntar kita dimarahin deh..."

Adiknya memang teman paling kompak. Paling senang diajak nyari ikan.
"Ayo" iyo setuju tanpa basa-basi."Iye, kayaknye disitu ada kocolannye deh. Trus kemaren gue liat udangnye gede2... Udah biang, banyak telornye!" matanya berbinar-binar membayangkan kejayaan.

"Iye tuh benerrrr! Nah, kmaren gue udeh umpetin kaleng di dalem pohonan tablo," Ado senang dapat konco. "Perkara nimbanye mah kalo kagak dapet perabotan, kita pake tangan aje yak?"
"Setuju, akurrr!" pipi iyo yang gembul makin melembung saking girangnya.

***

Karena itu mereka berdua diam-diam sepakat untuk berlagak rajin, ngangon kambing. Jadi kalau bapak pulang naik vespa. Dia akan tenang, karena kedua anak itu giat bekerja. Bebas dari kewajiban belajar siang ini. Dan kenyataannya kita bakal dapat ikan banyaak... horeee...!

"Nih yok kalengnye" sambil menyodorkan kaleng bekas itu kepada adiknya. "isiin aer gih!"
Iyo mencuci kaleng itu dengan air mengalir beberapa kali. Lalu mengisinya dengan air segar dan dengan cekatan ia mencabut pucuk-pucuk rumput beberapa genggam. Dimasukkannya rumput itu ke dalam permukaan air di kaleng. Kami percaya dengan begitu, ikan2 tidak cepat mati.

Matahari sungguh terik. Namun bulan-bulan ini langit dihiasi awan yang bergerak kesana-kesini menutup cahaya. Bagi anak-anak angon seperti Ado dan Iyo, panas seperti ini sudah biasa. Kulit mereka kenyang matahari. Legam dan berkilat seperti baja yang tuntas dibakar. Di sawah, angin juga tak pernah mati. Selalu saja mengalir, mendinginkan permukaan bumi.

Iyo menunjuk ke kocoran itu. Dari atas galengan, ternyata luas juga tempat yang harus mereka keringkan.

"Do, gede juga tempatnye. Dari sini ke sini aje ye?" usul Iyo.
'Iye deh, tar keburu bapak bangun tidur" ado setuju. "Lagian liat noh, si udin sama entur udeh nongol. Buruan deh kita kerjain."

Mereka lompat ke sawah dan mulai membuat bendungan melingkari lubuk itu. Dengan tangan ditangkupkan menelungkup, mereka mengeduk lumpur sawah dengan gesit. Seperti menggunakan sekop saja layaknya. Dalam beberapa menit saja lubuk itu sudah terkurung benteng lumpur.

"Gue nimba dari sini, loe dari sono ye.." mereka berbagi tugas.

Byur, byurrr, byurrr... suara air yang mereka timba keluar dari kolam. Kali ini tangannya menangkup ke depan untuk mendorong air keluar kolam. Pyuuuh, capek juga. Tapi ternyata airnya tidak terlalu banyak. Tadi mereka sudah mengalihkan air dari hulu irigasi ke arah lain. Sehingga dalam beberapa menit airnya sudah mulai dangkal. Ikan2 yang terperangkap keliatan nenggak di permukaan air beberapa kali. Tenggakannya menimbulkan gelombang melingkar di permukaan. Dari tenggakannya mereka tau ada banyak ikan betik dan sepat. keduanya saling pandang, lalu nyengir senang. Lalu mulai nimbain lagi.

Tiba2 dari atas galengan muncul kepala si udin dan si entur. Muka mereka yang keling persis seperti lutung yang meringis melihat pisang. Mereka sobat baik, karena mengajarkan banyak sekali pengetahuan kepada kedua anak itu. Mulai dari jenis-jenis ikan, tumbuhan, burung dan teknik mancing. Tentu saja, mengingat semua pelajaran itu susah sekali. Namanya aneh2. bandotan, secang, burung peking, ncit madu, celepuk, kodok bancet... Namun Udin dan Entur sangat lugu. Mereka bangga lebih pintar dari anak kota, biarpun tidak sekolah.

"Lah, bagen, lu dah pada nimbain yak? Kagak ngajak2 guah..." Udin berseru."Gue boleh ikutan ngapah?"
"Ini kan bagian gue, Din..." kata si Ado."Loe nimbain gi dah di pojokan sono. Banyak ikannye juga tuh..." Ado nunjuk ke sudut sawah. Di situ juga datangnya aliran irigasi.
"Kagak dah, guah bantuin elo-elo ajah, kuan..." Udin menolak. "Pan kemaren gua liat ada kocolannya di sini. Gua pancing kagak makan-makan."
"Kita bantuin nimbanya dah" si Entur ikutan ngusul.

Ado garuk-garuk kepala. Dia lupa tangannya penuh lumpur sawah yang baunya bacin. Jelas saja rambutnya belepotan lumpur. Belom sadar juga, dia malah pegang hidur. Keruan saja mukanya jadi cemong kayak dakocan :D Semuanya ketawa terbahak. Ia mencuci tangan dan wajahnya di air sawah yang tak begitu pekat.

"Iya dah," kata Ado. Karena kebanyakan ngobrol air kembali merembes ke dalam berupa mata air kecil2. Iyo setuju saja, sebab senja sebentar lagi membayang. Mereka harus menggiring kambing pulang dan memasukkan ayam ke kandang.

"Wah entuknya banyak bangaat. Sini dah gua pampet dulu yak..." Entur menutup lubang mata air dengan pecahan tanah wadas yang agak keras. Sebentar kemudian terdengar lagi suara air ditimba, byurr, byurr, byurr...

Tak seberapa lama, air telah surut menyisakan koloid lumpur yang pekat. Saat itu, sulit sekali menemukan ikan yang terbenam di dalamnya. Kami mengaduk lumpur dengan kaki beberapa kali agar ikan kekurangan nafas. Setelah itu diam sejenak. Biasanya ikan2 akan bergerak sehingga menimbulkan pusaran lumpur yang unik. Itulah saatnya kita menangkap ikan.

"Asik betik nih, gedean... Mana kalengnye, Yo?" Iyo mengambil kaleng dan meletakkannya di gundukan lumpur terdekat. Satu betik, dua sepat, tiga cupag sawah... udang... Banyak sekali yang kami dapat. Udin dan Entur boleh menyimpan kaleng mereka sendiri.

Kecuali untuk.... kocolan!

"Itu tuh, kocolan tuh, buruan tegrep!!!" seru Ado. "Deket kaki loe Yo, itu, itu, itu...!"
Semua anak melupakan daerah kekuasaan masing2. Semua merunduk dan merogohkan tangannya ke tempat yang sama. Kocolan bentuknya panjang dan licin. Ia tidak punya patil, sehingga kita leluasa menangkapnya tanpa ragu-ragu. Kalau dapat, kami semua ingin memeliharanya di empang agar bisa tumbuh besar menjadi ikan gabus.

"Gue dapettttt... gue dapeeeettt!" Iyo berteriak kegirangan. Ia memegang ikan itu erat2.

Tapi dalam situasi begini, tidak ada yang yakin sebelum ikannya masuk kaleng. jadi semuanya terus saja berebutan. Si kocolan pun terlepas. Anak-anak melompat serentak mengejar si kocolan.

Gejeburrrrrrr! Semuanya jatuh tertelungkup di lumpur. Si kocolan meloncat tinggi menyebrangi ke air sawah yang luas di luar bendungan. Ado dan iyo bersungut-sungut marah.

"Gara-gara loe tuh, kocolannya jadi lepas...!" keduanya mengeluh. Tubuh mereka kotor berkubang lumpur. Berarti misi rahasia mereka bakal ketahuan bapak.

Meskipun demikian masih ada sedikit waktu untuk bisa selamat. Terpaksa mereka berempat melupakan sisa2 ikan yang belum tertangkap. Mereka membuka bendungan dan segera mandi di saluran irigasi. Sambil tetap bersungut2 mereka memeras baju hingga agak kering. Lalu segera pulang.

Udin dan Entur membantu keduanya melepas tali cencang kambing2 bapak. Mereka ingin menghibur kekecewaan kedua temannya itu. Ado memegang tali lalu menggiring kambing2 pulang. Iyo menenteng kaleng disisi kambing agar tidak ketahuan ibu.

Sambil berjalan si udin main tebakan.

"Gua kasih tebakan nih. Hayo anak mancing makannya apah?"
"Caciiing!" jawab Ado sengit.
"Salah!" Udin tergelak. "Anak mancing makannya kuan Nasi sama lontong sayurrr!"

"Nah, kalo anak gabus namanya apaan?" Udin terbahak2.
"Kocolan!' Ado menjawab spontan."Eh, sialaaaaaaaaan.....!!!!

Dilepasnya tali cencang kambing lalu lari menguber si Udin dan si Entur yang berlari pulang.

Kambing-kambing berlarian kabur. Semuanya tertawa terbahak2. Melupakan kekecewaan dan hukuman dari bapak nanti malam.



================
Bogor, 19 Maret 2008

*) Kocolan itu ikan gabus kecil. Kalo dah gede baru dibilang gabus.

*) Betik itu anaknya ikan betok. Kalo udah gede batok kepalanya keras. Dan siripnya durinya tajem2. Makanya kalo keras kepala dibilang jidatnye mirip ikan betok :)).. in bisaan gue aje sih hehe

*) Entuk alias Ntuk itu sebutan untuk mata aer. Coba deh liatin orang gali sumur atau gali empang, nanti bakalan ada mata air kecil2. Itu yang kita sebut Ntuk.

1 comment:

tri astuti said...

oh itu artiny entuk toh... Wahaha... Akhirny nama itu punya arti...