Wednesday, March 26, 2008

Kesambet Mbah Jambrong

Ado duduk memeluk lututnya di dangau tepi sawah. Matahari sudah tergelincir. Namun cahaya matahari jam dua siang adalah yang paling terik. Bahkan anak angon itu, yang rambutnya menjadi kemerahan karena terbakar matahari tidak mampu menahan terik yang menyengat. Ia bergerak2 mengubah posisinya duduk, menikmati kemurahan hati sang angin yang menyebarkan uap air yang sejuk sepoi-sepoi. Di kejauhan, hamparan padi bergerak mengalun bagaikan ombak samudera yang sedang teduh. Dipucuk2nya, bulir2 padi yang bunting mulai berisi. Warnanya yang hijau mulai berubah terang sedikit menguning.

Bagi petani untaian itu adalah emas hijau yang tak ternilai harganya. Di situlah harapan tumbuh dan masa depan bertumpu. Sebentar lagi pak tani akan memasang tali-tali melintang silang menyilang untuk mengusir burung pipit. Mereka mengikat pita-pita warna-warni berselang seling tiap beberapa depa. Dan diantaranya, mereka gantungkan kaleng-kaleng berisi batu kerikil. Tali2 itu memusat pada sebuah orang-orangan dari jerami yang berdiri tegak di tengah sawah. Ia mengenakan baju komprang hitam, lengkap berselempang sarung dan sebuah topi caping yang sudah butut. Ado tertawa, itu kan baju pak Salim yang kemarin dulu ia pakai waktu nandur. Mungkin beliau sengaja mengenakannya pada si orang-orangan sawah biar gerombolan burung pipit yang ingin memakan padi tertipu.

"Awaaas, pasukan munduuurrr... ada pak haji Salim sedang menyiangi rumput!" mungkin begitu kata para pipit.

Padahal pak Haji sedang duduk di dangau dengan santai sambil sesekali menarik tali yang terikat pada orang2an sawah. Setiap disentak, lengan orang-orangan bergerak menggoyang tali2 dan kaleng kosong yang bergelantungan di sepanjang tali. Sehingga terdengar bunyi ramai kelontangan. Pita-pita warna warni yang terbuat dari robekan kantong kresek bekas pun melambai-lambai menakuti burung.

Namun, mereka tak pernah putus asa. Burung pipit yang datang dalam kelompok yang jumlahnya ratusan terbang datang dan pergi berkali-kali. Mereka menunggu pak haji bosan dan mengantuk. Pak haji akan rebahan di bale2 dangau melepas peci hitamnya dan tidur.

"Biarin dah, biar anak burung peking kebagian makan juga dah..." ia beralasan. Nanti sore ketika istrinya datang menengok pasti deh ia kena marah. Kami anak angon nyengir saja dari jauh. Pak haji Salim belagak pilon saja, masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

"Apa lu kata aja dah, Nyi!" memang, siapa yang tahan godaan angin semilir di tengah hari bolong begini? Begitu merebahkan badan dan mata melihat langit biru dan awan berarak-arak, mata pasti akan redup. Mengantuk.

***

"Nah ini dia, orangnyah. Go, bago, dari setadian loe nongkrong disini yak? Gua cari-cariin kemana2 kagak ketemu!" si Samin tiba-tiba muncul dibalik punggungnya. Samin anak bang Entong. Badannya kurus kering, dan agak penakut. Rumahnya agak jauh dibalik bukit. Tapi kalau main ia turun ke dekat rumah Ado yang dekat sawah. Kata temen-teman, ibunya pernah gila, karena itu pikirannya dia juga jadi ikutan setengah. Ado tidak percaya, karena ia pernah bertemu ibunya, orangnya cantik dan baik. Namun karena Samin selalu saja salah menyebut namanya, ia jadi agak percaya.

"Lah emangnya kenapa Min?" tanyanya.
"Dari pada-an elu bengong di sini, mending kita ke kali nyok. Pan si Cemen lagi guyang kebo di bulak noh, seberang kali belakang monumen. Nah kita ikutan ajah," samin membujuk kawannya dengan bersemangat."Lah, kuan, katanya di tempat si cemen guyang kebo, deket empang engkongnya si Cemen, di pinggir kali, banyak lobang lingsang, anjing aer. Nah kita nontonin lingsang buru ikan!"

"Lah ngeri dah gue main di kali. Tar ada buayanya" Ado bergidik. Ia sering lewat situ kalo dapat tugas belanja ke pasar dari ibu. Biasanya Ado dan kakak2nya berjalan beriringan mencari jalan pintas melalui balik bukit yang sepi lalu menyeberangi jembatan gantung dari bambu menyeberangi sungai untuk sampai ke pasar. Di atas bukit itu berdiri monumen pahlawan yang megah. Konon, ada tujuh jenderal yang mati terbunuh di dalam sebuah sumur tua.

"Kagak dah, jamin samber geledek, aman!" mulut samin monyong persis corong minyak tanah. "Si Cemen pan nyebrangnya juga naek kebo. Sama gua juga baderan guah, kuan." Samin mulai sombong. "Kagak dah, kagak ada buaya. Nti dah guah berenang duluan!"

Ado berpikir2 sejenak. Ia harus ngangon kambing. Kalau tidak diawasi bisa2 kambing dombanya dicuri orang. Tapi ia belum pernah liat anjing air...

"Emmmm, ayo dah. Tapi loe bantuin gue nyencang kambing yak? Sama ntu tuh, kakinya si pelana kelibet tambang," ia minta bantuan. Si pelana adalah domba jantan yang besar. Tepat di punggungnya ada sebuah corak berwarna coklat bulat yang bentuknya mirip pelana kuda. Ia kambing jantan yang gagah dengan tanduk melengkung ke bawah, lalu berputar ke depan tajam menantang.

Samin tertawa gembira. Ia mengikuti Ado dari belakang dan membantunya mengikat tali cencang kambing pada sebuah tonggak yang sengaja ia tancapkan di tengah padang rumput. Dalam perjalanan, Ado mengajak kakaknya si Ijot untuk ikut serta melihat anjing air.

***

Mereka bertiga melalui jalan keramat. Terus saja, kemudian diantara rumah temanku Tong Adih dan Ashok, kami belok kiri mengikuti pagar monumen kemudian turun tembus ke balik bukit.

Jalan mengecil menjadi jalan setapak. Di kiri kanan semak belukar yang rimbun. Di sebelah kiri tangan, lereng bukit menjulang tinggi 5 hingga 20 meter. Di puncaknya terlihat tugu-tugu pagar monumen yang terbuat dari batu granit hitam. Di sebelah kanan tangan pohon-pohon besar yang tua tumbuh kuat berpegangan pada tebing sungai yang jatuh hampir tegak lurus ke bawah beberapa meter dalamnya.

Di bawah, sungai berbelok-belok mengikuti bentuk muka bumi. Airnya deras berwarna coklat bekas banjir dari hulu. Di seberang sungai terhampar rawa2 yang penuh ditumbuhi perdu berduri setinggi orang dewasa. Sementara di bawahnya tumbuhan "duri bren" menjulur liar menutup semua jalan masuk ke tengah rawa. Anak-anak kampung menyebutnya duri bren karena durinya sangat banyak itu menimbulkan rentetan bunyi yang khas seperti senapan mesin bren. Breeeet! Dan seketika durinya yang beberapa puluh menempel berjajar membuat luka yang panjang.

"Nah, noh dianya, noh si Cemen lagi guyang kebo!" Samin berseru girang.

Setelah berjalan sekitar setengah jam, akhirnya mereka sampai juga. Di kejauhan terlihat si Cemen dan kawan-kawannya sedang memandikan kerbau pak Bontong, babenya yang berjumlah tujuh ekor. Si cemen sedang menggosok punggung si Bagong, kerbau jantan yang yang paling besar dengan segenggam rumput. Tanduknya membentang panjang dan tajam. Pantas saja ia menjadi kepala keluarga kerbau. Si Bagong berenang2 mengimbangi arus sungai yang cukup deras.

Sesekali ia melenguh keenakan oleh gosokan Cemen.

"Uuuuuak... uuuuak" ia melenguh senang. Sementara anak-anak berenang kesana-kemari sambil bercanda.

Kami tersenyum girang dari jauh. Ado dan Ijot berjongkok melepas lelah di bawah sebuah pohon rengas yang sudah tua. Batangnya lebih dari pelukan dua orang dewasa. Ijot berteriak2 memanggil,"Oooi, oooi! Men, gue ikutaaan!"

Mereka melihat ke atas tebing sambil tertawa. Tapi dalam sekejap raut muka si samin berubah ketakutan.

"Joot awas, jangan di situ... jangan di situ...!" Samin berteriak ketakutan.

"Bago, jangan di situ, jangan di situ...!" ia menarik-narik tangan Ado.
"Ada ape, Min? Gue capek tau!"
"Jangan di situ!" Samin tak sabaran. Ia menarik kedua bersodara itu berlari menjauh. Tak lama kemudian mereka sudah ikut bergabung dengan Cemen dan kawan-kawan.

"Ade apaan sih loe pade?" Ado kebingungan.
"Ssssst, udeh, mendingan elu berdua bantuin kita guyang kebo dah!" kata Cemen pada sobatnya itu. Anak-anak lain mengangguk setuju.

Bermain air siang-siang begini memang nikmat. Menggosok punggung kerbau hingga bersih dan saling menyiramkan air ke teman-teman. Menjelang jam 3 sore kami menarik kerbau untuk mentas. Masing-masing anak menunggang kerbaunya sendiri-sendiri. Cuma si Cemen yang berada di bawah karena harus menarik tali keluh di hidung si Bagong. Kalau pemimpinnya sudah naik ke darat, kerbau-kerbau yang lain juga akan mengikutinya. Mereka membiarkan kerbau-kerbau itu merumput sejenak di tepi sungai sebelum membawanya pulang ke kandang.

Sembari mengeringkan badan, Ado, Ijot, Samin dan kawan-kawan menyusuri tepi sungai mencari sarang lingsang. Lingsang itu seperti musang, namun bulu-bulunya licin sehingga tidak tembus air bila mereka sedang mencari ikan. Kata si Cemen, dahulu kala, di tepi rawa dan sungai sini memang banyak lingsang. Namun ketika penduduk mulai membuat empang-empang untuk memelihara gurami, mereka banyak diburu orang. Karena dianggap hama yang memangsa ternak ikan penduduk.

"Sssssssst, liat noh, disonoh. Deket akar rengas belah kulon..." Si Cemen merunduk ke balik semak. Di seberang sungai terlihat seekor lingsang yang cukup besar membawa ikan tawes di moncongnya.

Si Cemen membidikan ketapelnya. Siuuuut... buuuukkkk. Peluru ketapelnya yang terbuat dari gumpalan tanah liat meleset dari sasaran. Si lingsang melompat dengan gesit menghindar masuk ke semak belukar.

"Ngapah lu selepet itu lingsang, Men?" tanya Samin dengan wajah tololnya. "Emangnya lu doyan daging lingsang?"

"Lah kagak tong..., ntu mah haram kali dagingnyah.."
"Lah kuan kagak usah loe selepet pisan itu anjing aer, kesian.." katanya."Lagian kalo kena, elu mao berenang kesebrang? Kuan, dalem aer disini... Lom lagi tar ada setan lembu...hiiii...."

"Mendingan kita balik dah, jadi merinding nih gue!"

Mereka berlarian kembali ke tempat kerbau digembalakan. Mereka naik ke punggung kerbau satu persatu, lalu beriringan mencari sisi sungai yang dangkal untuk menyeberang.

***

Setengah jam kemudian mereka sampai di kandang kerbau pak Bontong. Ado, Ijot dan Samin mengucapkan selamat tinggal pada teman-temannya.

Dalam perjalanan pulang tak habis-habisnya mereka bercerita tentang pengalaman hari ini. Ado bertanya tentang pohon rengas tadi.

"Min, ngapa sih loe pade takut amat tadi? Pas gue nongkrong di bawah po'on rengas?"
"Husss, kuan gua kagak boleh ngomong..."
"Emang ngapa?"
"Lah kagak, itu bulan kapan pan adek guah si Musa sakit panas abis maen di bawah itu rengas... Ampe pagi ngigo kagak brenti-brenti..." samin bersecrita dengan takut-takut."Pulangin gua...pulangin...gua..... Pegitu katanya. Suaranya kayak engkong-engkong..."
"Napa elu kagak bilang dari setadian?" Ado jadi panik.
"Kesambet maksud lu, Min?" Ijot ikutan panik."Pantes badan gue jadi rada sumeng ye... Anget nih leher gue..." Ijot memegang-megang leher dan jidatnya.
"Nah, loh... ribed dah...!" si Samin melotot ngeri."Buruan gi dah elu pada lari pulang!

Kesambet jin si Jambrong gua kagak tanggung!" ia setengah berteriak.
"Mak dikipe! Yang bener luh Min?" Ijot ternganga-nganga bloon."Kita buruan balik dah!"
"Awas beneran kesambet, gue gerayangin loe Min!"

Di belakangnya, Samin tertawa geli sendirian.

"Ngibrit luh pade diuber mbah jambrong, anak kota abis gua kibulin!"

Semuanya berlari pulang. Setelah lelah seharian bermain di kali, mungkin mereka jadi masuk angin. Celana pendeknya pun kering di badan. Tapi mungkin sudah kodratnya anak-anak kampung jarang sakit. Badannya sehat-sehat ditempa oleh kekuatan alam. Sehingga sudah pasti ketiga sahabat itu akan bertemu lagi esok hari.



==========

Bogor, 26 Maret 2008

*) Guyang kebo = mandiin kerbau

*) Kesambet = ketumpangan setan, ketempelan gitu deh

*) Bader = Bandel, dalem bahasa betawi

*) Tali keluh = itu loh, kerbau biar gampang diatur, tulang rawan idungnya dibolongin trus dipasangin tali tambang. Kalo ditarik kan sakit tuh. Jadi dia nurut sama yang ngangon. Kalo dia diiket lehernya doang kayak iketan anjing, bakal repot ente. Yang ada ente yang keseret sama si kerbau.

*) Pohon rengas = pohon banyaknya di pinggir2 kali. Pohonnya gede banget, tinggi. Trus bergetah. Konon biasanya sih emang banyak setannya. Tumbuhnya aja di pinggir kali... bayangin aja...

*) Mentas = itu naek, keluar dari aer.

*) Dari setadian = maksudnya dari tadi, maklum anak kampung ngomongnya pada kagak pas.

*) Kuan = apa ya... semacam partikel bahasa. Nggak begitu penting, cuma sebagai penekanan pada kalimat. Seperti kata "lah" pada "begini lah".


*) Oh iya, ini betawi ora alias betawi pinggiran. Makanya kasar, emang aneh buat yg gak ngerti betawi.

No comments: