Saturday, June 05, 2004

Hadiah kecil dari sang udang

Entah kapan krisis ekonomi akan berakhir. Sudah beberapa tahun situasi tidak juga membaik. Memang kelihatannya kehidupan sudah mulai bergulir. Di jam-jam sibuk terutama pagi hari sudah nampak orang berdesakan dalam bus kota menuju tempat bekerja. Pedagang kaki lima juga bermunculan dimana2. Tak seperti tahun 1998 lalu. Semuanya sepi, bukan saja karena ekonomi yang morat marit dan keamanan yang rawan. Namun bagi kelas pekerja seperti kami tak banyak yang berubah, waktu tetap bergulir sangat lambat. Kadang seperti berhenti mendadak atau bahkan malah bergerak mundur.

Sudah beberapa tahun sejak aku lulus kuliah dan bekerja di beberapa tempat. Magang di sebuah surat kabar, radio, di sebuah perusahaan ekspor impor yang tak begitu jelas statusnya, sebuah konsultan bisnis kecil, dan terakhir di "law firm" yang cukup punya nama di jakarta.

Peristiwa itu memberikan pelajaran yang mahal buat ku. Perusahaan memutus kontrak secara sepihak karena aku berusaha memperjuangkan uang transport yang dipotong separuhnya dari yang disepakati. Baru sepenuhnya kusadari bahwa pengalaman kerja yang panjang serta ijazah dari universitas terbaik di negeri ini tak akan mengubah kenyataan bahwa kami adalah buruh semata. Yang bila menghadapi majikan, sama tak tak berdayanya dengan budak hitam di kebun tebu kompeni.

***

Pagi ini seperti biasanya Jakarta bergerak cepat, seakan matahari berlari ke puncak langit. Aku juga tak suka menunggu. Aku segera menyiapkan kantung2 plastik, karet gelang, sepotong selang dan sejurus
kemudian berangkat menuju Depok.

"Bawa apaan mas?" tanya kondektur.
"Gas" Jawabku.
"Buat apaan?"
"Oh ini oksigen, buat bawa ikan"
"Ikan apa? Lohan ya?"
"Sebenarnya bukan ikan sih, tapi bawa udang idup".

Ia orang kesekian kali yang terheran2 melihat aku membawa kantung plastik besar yang melembung kosong. Biasanya percakapan akan menjadi panjang. Kadang agak malu juga bercerita, apalagi kalau sedang banyak mahasiswi cantik yang turut menyimak obrolan kami sepanjang perjalanan ke Depok dengan pandangan iba. Tapi kerja keras adalah obat mujarab bagi orang kecil. Daripada nganggur tak berkarya kami memilih menjalaninya dengan penuh kesabaran.

***

Mengirim udang air tawar dalam keadaan hidup ke pusat kota juga merupakan tantangan yang penuh aral. Di awal pengiriman, hampir semua mati karena kepanasan. Maklum kami tidak punya kendaraan. Setiap
pengiriman kami memanggul berkilo2 udang serta airnya dari tepi danau menuju jalan raya, menaikkan ke atas bus, disambung lagi dengan angkot. Kendaraan umum pun tak semuanya bermurah hati menerima
kami yang kotor berlumpur dan basah.

Setelah pulang otak kami berputar mencari cara yang lebih baik utk pengiriman berikutnya. Kami mencoba menggunakan es batu, karung/dacron basah dan lain-lain. Tapi tanpa sarana transportasi yang memadai tak banyak yang bisa dilakukan. Sedangkan waktu pengiriman sulit diatur karena sangat tergantung hasil tangkapan alam. Jumlahnya sendiri cenderung menurun karena mengandalkan perkembangbiakan alamiah.

Sebagai pengepul, sebenarnya hal itu tak jadi masalah. Permintaan yang tinggi mengakibatkan harganya juga ikut naik. Sekilo udang harganya 45ribu-an. Resiko pengiriman 10 persen ikut ditanggung pembeli. Apabila pasokan sedang turun, tentu saja kami minta kenaikan yang wajar dari pembeli. Di musim kemarau seperti saat itu semua orang akan maklum karena perairan mengering. Toh pengecer mendapat margin keuntungan yang lebih besar dari kami sehingga harga masih tetap masuk.

***

Yang menjadi masalah justru persaingan di lapangan. Pengepul kecil seperti kami sangat lemah bersaing dengan pemodal besar. Bayangkan saja, selain punya mobil pengangkut, mereka juga punya tim "nelayan" udang yang berpengalaman di banyak medan. Tim yang terdiri dari 5-10 orang per kelompok itu siap bergerilya dari danau atau situ yang satu ke tempat lain mulai dari jabotabek, subang hingga purwakarta. Dengan bermodal tenda plastik lusuh, peralatan masak seadanya serta botol2 aqua sebagai perangkap udang mereka mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Seperti layaknya suku2 nomaden di pedalaman.

Kami terpaksa bersaing mendapatkan dagangan dengan boss mereka yang cukong2 besar di jakarta utara, barat dan tangerang. Untuk itu pagi-pagi buta kami harus berangkat menyusuri semak2 hutan tepi danau. Bahkan tengah malam kami pergi ke karamba apung mengambil sisa tangkapan udang dari warga kampung.

Usaha memang penuh lika-liku. Kadang untung kadang buntung tak pernah ada yang tau. Ada pelanggan yang baik memberikan bonus atau sekedar tambahan ongkos, tapi ada juga pencari udang yang suka ngemplang utang. Entah di gedung2 tinggi yang mewah, atau di dangau2 reot tepi danau, kami temui berjuta2 wajah dan perangai. Sembari menyambung hidup kami menuai pelajaran kehidupan yang nilainya tak terukur dengan uang.

No comments: